Gencarkan Donor Darah, Puskesmas Bangil Punya Program Semerbak Bunga

BANGIL, Radar Bromo – Donor darah bukan semata menjadi tugas Palang Merah Indonesia. Puskesmas juga memiliki peran penting untuk menggelar donor darah. Apalagi, kebutuhan darah terus kontinyu, utamanya untuk kedaruratan.

Hal inilah yang mendasari UPTD Puskesmas Bangil membuat program “Semerbak Bunga”, kepanjangan dari Setetes Merahku Baktu Tuk Bunda Bangil. Sebuah inovasi Puskesmas Bangil, yang tujuannya untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) akibat perdarahan.

Program ini dilaksanakan guna  menjamin ketersediaan darah yang aman dan berkualitas terutama bagi ibu hamil, melahirkan dan sesudah melahirkan yang membutuhkan transfuse. Untuk melaksanakan program ini diperlukan kerjasama antara puskesmas, Unit Transfusi Darah (UTD), dan Rumah Sakit (RS), serta peran aktif masyarakat dan lintas sektor.

AKI di Indonesia masih tinggi, walaupun cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan sudah mencapai lebih dari 80 persen. Berdasarkan survei demografi dan kesehatan indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup, dengan tiga penyebab utama. Yaitu perdarahan, Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK) dan infeksi.

“Program ini diawali dengan mengenalkan donor darah sukarela kepada keluarga, sebagai calon pendonor darah pendamping ibu hamil dan kelompok masyarakat. Sehingga diharapkan keluarga ibu hamil dan masyarakat dapat tergugah untuk menyumbangkan darahnya baik untuk kepentingan ibu hamil, melahirkan dan sesudah melahirkan maupun untuk pasien kondisi lainnya yang membutuhkan,” tutur dr. Sakinah, Dokter Fungsional Puskesmas Bangil

Tujuan dari program inovasi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan kesadaran keluarga  ibu hamil dan masyarakat. Sehingga mengerti mengapa  kegiatan penyumbangan darah adalah sangat penting dan  merupakan upaya untuk menyelamatkan jiwa manusia, khususnya menurunkan AKI.

“Disamping itu meningkatkan perilaku masyarakat untuk menyumbangkan darahnya secara teratur dan sukarela, menjaga agar donor sukarela mengerti pentingnya darah  yang aman sehingga mereka tidak menyumbangkan  darahnya, apabila mereka tidak sehat atau memiliki risiko  infeksi penyakit yang dapat ditularkan melalui transfusi  darah,” pungkas dr Sakinah. (one/fun)