Berawal dari Anemia, Shela Marlinda Putri Derita Lupus hingga Putus Kuliah saat di Semester Kelima

Shela Marlinda Putri, 21, harus berhenti kuliah di semester lima. Itu setelah perempuan yang tinggal di Perum Puri Firdaus RT 6/RW 1 Kelurahan/Kecamatan Kedopok mendadak lumpuh. Dia divonis menderita penyakit Lupus pada 2017. Sebuah penyakit yang bermula dari anemia.

 

SAAT Jawa Pos Radar Bromo mengunjunginya di warung milik Budha Utami, 52, ibu Shela Marlinda Putri yang berada di Jalan Pahlawan, Shela-sapaanya- terbaring lemas di salah satu kursi warung. Tapi kondisi itu sejatinya sudah lebh baik, ketimbang beberapa bulan sebelumnya. Sebab, Shela sudah mampu berdiri meski belum sempurna benar.

Perempuan yang bercita-cita menjadi seorang guru itu, saat ini harus menjalani sejumlah pengobatan untuk kesembuhanya. Sehingga perempuan yang mengambil jurusan administrasi di salah satu universitas di Probolinggo, harus berhenti.

“Akibat penyakit yang dideritanya, Shela harus berhenti kuliah. Saat itu masuk semester lima. Dia (shela) bercita cita jadi guru meski jurusanya di administrasi,” terang Budha Utami.

Menurut Budha, mulanya yakni sekitar Desember 2017 lalu, Shela menderita bintik-bintik merah di kakinya. Dia mengira itu penyakit biasa. Maka, badan Shela yang mulai panas, diberikan obat penurun panas oleh ibunya. Tak lama setelah itu, badannya semakin lemas. Sehingga Budha melarikannya ke rumah sakit. Saat itulah, dokter menyatakan bahwa dia divonis terkena lupus.

SEJAK 2017: Shela menderita Lupus saat dia pertama kali kena anemia tahun 2017 silam. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Lupus merupakan penyakit peradangan (inflamasi) kronis yang disebabkan oleh sistem imun atau kekebalan tubuh yang menyerang sel jaringan dan organ tubuh. “Jadi pada saat diperiksakan ke salah satu dokter, awalnya bilang jika terkena anemia. Namun setelah kondisinya makin parah dan dibawa ke rumah sakit, ternyata divonis terkena lupus. Dengan demikian, maka mulai tahun 2017 itu Shela tidak bisa lagi berjalan. Ia harus ditatah atau dipapah,” bebernya.

Berbagai upaya dilakukan Budha untuk kesembuhan anak ketiganya. “Bahkan saban hari anak saya harus menelan 15 pil untuk kesembuahnya. Namun jika obatnya habis, Shela kembali kambuh,” bebernya.

Oleh karenya itu dua bulan terakhir ia tak lagi menggunakan obat tersebut. ia memilih jalur alternatif dengan pengobatan herbal dan pijat. “Alhamdulillah berjalan satu setengah bulan, ada hasilnya, Shela sudah bisa berjalan sendiri. Walaupun masih tertatih-tatih,” ujarnya.

Budha hanya berharap, sang anak bisa segera pulih. Dia juga mengimbau kepada orang tua, agar tak meremehkan penyakit.

“Jika memang ada gejala panas dan kaki bintik merah seperti di gigit nyamuk, maka segera periksa ke dokter. Jangan sampai apa yang menimpa anak saya juga menimpa yang lainya,” pungkasnya. (rpd/fun)