Cerita IKM Sambel Bajak Jenggelek di Tengah Naiknya Harga Cabai Rawit

Di tengah mahalnya harga cabai rawit, usaha sambal bajak jenggelek yang dilakukan Feni Nuraini mendapat pesanan 4.500 botol. Harga cabai yang mahal tidak membuatnya mundur. Dengan dibantu rekan-rekannya sesama IKM, pesanan sambal dipenuhi dalam waktu empat hari saja.

RIDHOWATI SAPUTRI, Mayangan, Radar Bromo

Datangnya rezeki tidak ada yang tahu. Karena itu, saat rezeki datang tiba-tiba, pantang ditolak.

Inilah yang dilakukan Feni Nuraini, pelaku IKM sambal bajak jenggelek di Jalan Kartini, Kota Probolinggo. Di tengah melambungnya harga cabai, dia mendapatkan pesanan sambal sebanyak 4.500 botol.

Pesanan ini datang dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur. Saat itu dia sedang mengikuti pameran yang diselenggarakan Disperindag Provinsi Jatim.

Pesanan itu diterima tanggal 10 Agustus 2017. Dan tanggal 14 Agustus, pesanan harus sudah sampai di Surabaya. Ibu dua anak itu langsung menyanggupi permintaan tersebut. Walaupun, bukan hal yang mudah memenuhi pesanan sambal di tengah meroketnya harga cabai rawit.

Tanpa membuang waktu, Feni pun langsung berburu cabai rawit ke pasar. Namun, karena berbarengan dengan Idul Adha, banyak pasar sepi. Alhasil, Feni tidak berhasil mendapat cabai yang dibutuhkan.

Di antara semua bahan baku yang digunakan, cabai rawit memang bahan yang paling sulit didapat. Apalagi, yang dibutuhkan cukup banyak. Yaitu, 400 kg.

Bahkan, Feni harus mencari sampai ke Kropak, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, untuk mendapatkan cabai rawit.

“Di antara bahan-bahan yang digunakan, cabai rawit itu yang sulit dan mahal. Untuk yang merah harganya Rp 85 ribu per kg. Yang hijau Rp 60 ribu per kg,” ujarnya.

Untuk mendapatkan bahan baku cabai rawit, Feni menghubungi pedagang di pasar untuk menanyakan ketersediaan stok cabai rawit. Menghubungi tengkulak sampai ke Kropak pun dilakukan demi mendapat cabai rawit.

“Terakhir, cabai datang itu hari Senin (12/8) sebanyak 100 kg,” ujarnya.

Mahalnya harga cabai rawit disiasati oleh Feni dengan mencampur cabai rawit merah dan cabai rawit hijau. Totalnya mencapai 400 kg. Sedangkan total bahan baku, termasuk bawang merah, cabai merah, dan terasi mencapai 600 kg.

“Untuk terasi itu adalah produksi teman-teman IKM di kota,” ujarnya.

Lalu untuk ikan jenggelek, Feni juga mengambil produk dari IKM di kota. Bekerja sama dengan IKM lain, mempermudah dirinya mendapat bahan baku. Juga sekaligus membantu usaha IKM yang lain.

“Untuk ikan jenggelek menghabiskan sebanyak 50 kg,” jelasnya.

Setelah mendapatkan cabai rawit, Feni berburu bawang merah ke wilayah Kabupaten Probolinggo. Dia pun berhasil mendapatkan bawang merah dengan harga Rp 13 ribu per kg dalam kondisi sudah dikupas.

“Cabai merah besar juga mahal. Hargannya Rp 45 ribu per kg. Sedangkan normalnya hanya Rp 20 ribu per kg,” ujarnya.

Proses pembuatan sambal dilakukan tepat di belakang garasi rumah Feni. di sebuah ruang terbuka. Di sana, diletakkan beberapa kompor dan sejumlah peralatan memasak.

Saat harian ini datang ke rumahnya di Jalan Kartini, bau harum sambal memenuhi rumah. Di halaman itu, ada sejumlah ibu-ibu yang sibuk memasak.

Ada yang bertugas menggoreng cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah di wajan besar. Ada juga yang menggoreng bumbu yang telah dihaluskan.

“Ini sambalnya diselep dekat sini. Kalau diuleg ndak mampu,” ujar salah satu ibu yang sibuk menggoreng sambal.

Sambal itu kemudian digoreng selama kurang lebih 2 jam. Saat menggoreng, sambal harus terus diaduk dan dicampur dengan bumbu-bumbu. Seperti garam dan merica.

“Kami tidak menggunakan tomat untuk sambal ini supaya awet. Tomat itu kandungan airnya tinggi. Jadi, rawan membuat sambal tidak awet,” jelasnya.

Dalam proses memasak sambal itu, Feni juga dibantu oleh anggota Asosiasi Mamin Jawa Timur (AMJ). Bahkan, Koordinator Daerah AMJ Erlinus Slova Ilius Inada ikut terlibat.

“Kami dari AMJ ikut membantu proses pembuatan sambal ini. Pekerjaan membuat sambal ini dimulai Senin (12/8) sampai Rabu (14/8). Rabu harus sudah dikirim ke Surabaya,” ujar Inada –sapaan Erlinus Slova Ilius Inada-.

Inada menjelaskan, proses paling lama adalah pendinginan sambal. Perlu paling tidak 5 jam untuk mendinginkan sambal. Sambal harus betul-betul dingin untuk menghindari berjamur.

Apalagi, sambal ini tidak memakai bahan pengawet. Sehingga, hanya bisa bertahan 2 bulan.

“Jika tidak dingin dan dimasukkan botol, maka sambal bisa berjamur,” jelasnya. (hn)