Korupsi di Dispora, Kejari Temukan Buku ‘Sakti’ untuk Bukti Tambahan

BANGIL, Radar Bromo – Dugaan kebocoran penggunaan anggaran di Dispora Kabupaten Pasuruan terus didalami Kejari Kabupaten Pasuruan. Selain menggali keterangan dari orang-orang terkait, Kejari juga tengah mengumpulkan bukti-bukti tambahan.

Bahkan, Kejari mengklaim telah memiliki “kartu truf” untuk menyeret tersangka lain. Alat bukti yang dimaksud, berupa buku sakti yang berisikan catatan keluar–masuknya uang dari anggaran tahun 2017.

BARU SATU: Lilik Wijayanti ketika hendak diperiksa penyidik di Kejari Kabupaten Pasuruan. Sejauh ini baru Lilik yang sudah ditetapkan menjadi tersangka. (Dok. Radar Bromo)

Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan Denny Saputra menyampaikan, dugaan korupsi di Dispora Kabupaten Pasuruan masih didalami pihaknya. Langkah itu dilakukan untuk memastikan keterlibatan tersangka lain, selain Lilik Wijayanti yang terlebih dahulu ditetapkan sebagai tersangka.

Menurut Denny, setelah menetapkan Lilik Wijayanti sebagai tersangka, Kejari memperoleh bukti-bukti baru. Bukan hanya keterangan. Tetapi juga ‘buku sakti’ sebagai alat bukti tambahan.

Buku sakti yang dimaksudnya, merupakan buku yang berisikan catatan keluar–masuknya uang dari penganggaran di Dispora Kabupaten Pasuruan tahun 2017. “Kami terus mencari bukti-bukti baru untuk mengungkap kasus ini. Kami juga memperoleh alat bukti tambahan, berupa buku catatan keluar–masuknya uang anggaran di dinas terkait,” sampainya.

Hanya saja, pihaknya enggan membocorkan lebih jauh terkait isi catatan anggaran yang ada di dalam buku sakti itu. Termasuk adanya catatan aliran dana yang mungkin mengalir ke bidang lain ataupun atasannya.

“Belum bisa kami beberkan sekarang. Karena masih kami proses penyidikan,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Kabupaten Pasuruan tengah membidik kasus dugaan korupsi di Dispora Kabupaten Pasuruan. Kegiatan keolahragaan tahun 2017, ditengarai ada mark up anggaran. Salah satunya, kegiatan Pormadin yang diselenggarakan di Candra Wilwatikta Pandaan.

Pihak kejaksaan mulai melakukan penyelidikan sejak 2018. Hingga akhirnya, kasus tersebut naik ke penyidikan dan menetapkan Lilik Wijayanti sebagai tersangka. Ia diduga terlibat dalam dugaan korupsi yang membuat negara merugi hingga Rp 918 juta.

Atas kasus tersebut, Eks Kepala Dispora Kabupaten Pasuruan Abdul Munif belum memberikan tanggapan. Lelaki yang menjabat Sekwan DPRD Kabupaten Pasuruan itu, tidak merespons sambungan telepon Jawa Pos Radar Bromo. Saat di WA pun, pihaknya tak membalas.

Namun, ia pernah menyampaikan, penggunaaan anggaran di tempatnya dulu (Dispora, Red), berjalan sesuai aturan. Tidak ada mark up anggaran yang dilakukan. (one/fun)