Cerita Pemungut Koran yang Panen Rezeki usai Salat Id di Alun-alun Kota Probolinggo

Setiap selesai salat Id, ratusan lembar koran selalu ditemukan berserakan di lapangan atau di tempat yang habis dipakai salat. Setiap habis salat Id juga, sejumlah orang memunguti koran itu. Ada yang dijual ke loakan, ada juga yang dipakai untuk bungkus membuat mercon.

——————–

Suasana di Alun-Alun Kota Probolinggo, Minggu (11/8) pagi itu berbeda dengan sebelumnya. Biasanya, tiap hari Minggu, alun-alun selalu ramai dengan kegiatan Pasar Minggu.

Namun, pagi itu alun-alun berganti menjadi tempat salat Idul Adha bagi warga kota. Para pedagang yang biasanya menggelar dagangan sejak pukul 05.00, hari itu tak terlihat. Mereka baru datang untuk berjualan usai salat Id. Yaitu, sekitar pukul 08.00.

Usai salat Id pula, ratusan koran berserakan di alun-alun. Koran-koran itu ditinggal begitu saja oleh warga yang memanfaatkannya untuk alas saat salat.

Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Karena tak lama kemudian, sejumlah warga datang. Mereka dengan sigap memunguti koran-koran bekas itu. Tidak hanya satu orang, lebih dari tiga orang memunguti koran bekas di alun-alun, Minggu (11/8).

Seorang lelaki asal Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, yang memungut koran mengaku, sengaja mengumpulkan koran-koran bekas di alun-alun. Rencananya, koran bekas itu akan dipakai sebagai bungkus membuat mercon.

Dengan cepat, dia mengumpulkan sejumlah koran. Koran-koran itu ditumpuk begitu saja di lengannya.

“Sengaja saya mengumpulkan kertas koran ini. Rencananya mau dibuat bungkus mercon,” ujar lelaki yang enggan namanya disebut itu.

Menurutnya, mercon itu tidak dijual untuk umum. Melainkan akan digunakan untuk kegiatan acara pernikahan.

“Biasanya mercon ini dipakai kalau pas ada acara mantenan. Dipasang dekat pintu masuk ke rumah pengantin biar ramai,” ujarnya.

Hal yang sama dilakukan Hardi, 50, warga Wonoasih. Hardi memungut sampah kertas koran untuk bahan membungkus mercon.

DIJUAL LAGI: Rata-rata koran bekas yang diambil, akan dijual lagi. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

Banyaknya orang yang menikah di bulan ini, membuat banyak orang meminta dibuatkan mercon gantung. Mercon-mercon itu menurutnya disulut saat acara mantenan berlangsung.

“Biasanya acara nikahan di desa-desa itu, diramaikan dengan menyulut mercon. Mercon ini bisanya digantung di pintu. Makanya banyak yang minta dibuatkan mercon,” katanya.

Kertas koran itu, dijadikan bahan membungkus mercon. Dengan memungut kertas koran, maka Hardi tidak perlu membeli kertas untuk bahan pembungkus mercon. Tinggal membeli bahan ‘obat’ untuk mercon.

Hardi pun tidak khawatir, aktivitasnya membuat mercon itu menimbulkan bencana. Misalnya, mercon meledak saat dibuat. Apalagi, sudah tiga tahun terakhir dia membuat mercon. Terutama saat musim nikahan.

“Saya sudah lama buat mercon. Jadi, saya hati-hati supaya tidak ada ledakan. Kalau buat ya dijauhkan dari kompor,” ujarnya.

Dengan menggunakan sebuah karung berukuran besar, Hardi memunguti kertas-kertas koran yang berhamburan di alun-alun. Meskipun karungnya cukup besar, tapi beban yang dibawanya tidak berat.

“Isinya kan cuma koran. Paling ini tidak sampai 2 kilogram. Ukuran karungnya saja yang besar,” ujarnya.

Selain untuk bahan membungkus mercon, ada juga warga yang memungut kertas koran untuk dijual ke loakan. Kertas koran yang lusuh setelah dipakai alas, dilipat dengan hati-hati dan dirapikan.

“Mau saya jual kalau sudah terkumpul. Memang hasilnya ndak seberapa. Tapi lumayan buat nambah rezeki,” ujar Minten, 50, Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Dengan menggunakan karung, Minten tidak hanya mengumpulkan kertas koran. Beberapa botol kemasan bekas juga diraup dan dimasukkan ke karung.

Di tangannya yang lain, terlihat tas kain berisi mukenah dan sajadah. Minten memang habis salat Id di alun-alun, pagi itu. Setelah salat, baru dia mengumpulkan koran bekas.

Namun, dirinya bukan pemulung. Minten mulai berpikir mengumpulkan koran karena sayang melihat kertas-kertas itu berserakan di alun-alun. Selain alun-alun jadi kotor, kertas koran itu masih bisa dimanfaatkan dengan cara dijual ke loakan.

“Setiap tahun saya salat di sini. Dan setiap tahun, selalu ada sampah koran berserakan. Makanya, sejak dua tahun lalu saya bawa karung saat salat. Setelah salat, kertas-kerta koran itu saya kumpulkan. Kalau ada botol ya saya ambil juga,” jelasnya.

Semuanya lantas dijualnya ke loakan. Uangnya memang tidak seberapa. Tapi, Minten merasa dengan cara itu alun-alun jadi bersih.

Menurutnya, seharusnya setelah salat, setiap orang bertanggung jawab menjaga kebersihan tempat salat. Salah satu caranya, membawa lagi kertas koran yang sudah dipakai sebagai alat salat.

Namun, itu tidak dilakukan kebanyakan warga yang salat. Mereka biasanya begitu saja meninggalkan kertas koran di alun-alun. Karena itu, Minten pun berniasiatif memungut koran itu. Selain alun-alun jadi bersih, koran-koran itu bisa dijual.

“Rasulullah mengajarkan hidup bersih, kalau kertas koran yang dipakai setelah salat dibiarkan begitu saja, artinya tidak mengikuti ajaran Kanjeng Nabi,” ujarnya. (put/fun)