Juwardi, 10 Tahun Jadi Relawan Kamar Mayat, Totalitasnya Membuat Banyak Petugas Percaya

Sejak 10 tahun lalu, Juwardi, memutuskan menjadi relawan kamar mayat. Pilihan yang tak biasa ini, dilakoninya lantaran panggilan jiwa. Harapannya, orang yang meninggal, bisa segera ditangani dan dikuburkan. Ia pun yakin, niat ihlasnya itu dicatat sebagai amal baik.

RIZKY PUTRA DINASTI, Kademangan, Radar Bromo

Juwardi sebenarnya warga biasa. Lelaki asal RT 7/RW 1, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo itu, sehari-hari menjadi tukang ojek pangkalan.

Namun, pria 35 tahun ini dikenal banyak orang. Terutama mereka yang pernah berurusan dengan kamar mayat. Atau mereka yang pernah terlibat kecelakaan. Baik langsung, maupun tidak langsung.

Ya, sejak 10 tahun lalu, Juwardi memutuskan menjadi relawan kamar mayat. Baik itu di RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo, maupun di RSUD Tongas.

Dia juga sering berada di lokasi kecelakaan, terutama yang mengakibatkan hilangnya nyawa. Sudah banyak kasus kecelakaan yang dibantunya. Terutama di wilayah hukum Polres Probolinggo Kota.

Karena konsistensinya mengabdikan diri menjadi relawan kamar mayat, banyak petugas yang percaya padanya. Mulai petugas kepolisian, dalam hal ini Satlantas. Juga petugas kamar mayat di rumah sakit. Karena itu, dia sering membantu petugas saat mengevakuasi jenazah yang meninggal kecelakaan.

Saat ada kecelakaan, Juwardi dan petugas pun saling bertukar informasi. Jika Juwardi tahu lebih dulu dan di berada lokasi kecelakaan lebih awal, dia akan menginformasikan ke petugas kamar mayat terdekat dan petugas kepolisian.

“Sebaliknya kalau petugas yang datang terlebih dahulu, saya biasanya diberi tahu. Biasanya, petugas kepolisian fokus pada kasus kecelakannya. Sementara saya membantu petugas kamar mayat mengevakuasi jenazah,” teranganya.

Selama 10 tahun sering berada di lokasi kecelakaan, Juwardi pun jadi kebal. Dia jadi terbiasa membantu petugas, mengumpulkan bagian tubuh yang terpisah atau hancur dari korban kecelakaan.

“Yang boleh melakukan evakuasi, memang hanya petugas. Kalau bukan petugas, dilarang. Setelah ada instruksi dari petugas untuk membantu, baru boleh,” tuturnya.

Tapi rata-rata, warga sekitar lokasi kecelakaan enggan membantu evakuasi. Terutama untuk evakuasi korban kecelakaan yang tubuhnya hancur.

“Biasanya warga di sekitar lokasi kecelakaan hanya menonton atau merekam dengan HP. Lalu mengunggah ke media sosial,” tuturnya.

Juwardi sendiri, tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun, secara pribadi ia merasa kasihan pada keluarga korban, jika netizen mengunggah gambar yang kurang pantas.

“Misalnya kepala pecah, atau tangan dan kaki yang terpisah dari badan, diunggah. Kan kasihan keluarganya. Pernah ada korban tertabrak kereta api, tubuhnya hancur. Ada warga yang bisanya nunjuk saja, itupun pakai kaki. Tidak sopan, walau itu cuma jenazah,” tambahnya.

Pria yang gemar memancing ini, memulai kegiatannya sebagai relawan sejak 2009. Niat awalnya, membantu korban kecelakaan.

Niat itu muncul, karena pengalamannya kali pertama melihat korban kecelakaan di jalan. Saat itu, petugas belum ada yang datang. Sementara warga sekitar hanya melihat tanpa ada yang membantu.

Juwardi pun merasa iba. Dengan cepat ia langsung meletakkan hlemnya dan menggotong korban yang bersimbahan darah ke tepi jalan. Harapannya selain tidak membuat kemacetan, korban tidak banyak ditonton orang.

“Waktu itu saya dak mikir apa-apa. Tapi setelah selesai, satu-satunya kemeja yang saya punya jadi bersimpah darah,” ungkapnya.

Sejak itulah, Juwardi mulai dikenal dan diminta membantu saat ada kecelakaan di jalan. Juwardi mengaku, sejak kecil memang tidak jijikan. Karena itu, menolong korban kecelakaan yang kondisi badannya hancur, baginya bukan masalah besar.

Juwardi pun mengaku pernah didatangi korban meninggal akibat kecelakaan. “Pernah saya didatangi orang yang meninggal akibat kecelakaan. Dia datang sepintas, seolah memperlihatkan diri. Saya tidak tahu apa maknanya. Yang jelas, saya hanya berniat menolong. Biar itu jadi amalan saya saat meninggal nanti,” bebernya.

Meski ikhlas menolong, Juwardi mengakui, ada saja keluarga korban yang berterima kasih atas pertolongannya. Mereka biasanya memberi uang. Walaupun, Juwardi mengaku tak memikirkan hal tersebut.

“Mereka memberi seikhlasnya. Kadang dikasih Rp 50 ribu untuk ganti bensin, uang rokok dan ngopi. Kadang juga tidak,” bebernya.

Wasis, Kepala Kamar Mayat RSUD dr Mohamad Saleh adalah salah satu petugas yang mengenal baik sepak terjang Juwardi. Sejak 2009, Wasis mengenalnya.

Karena kesungguhannya membantu, Wasis sampai memberikan ruang khusus baginya. Menurutnya, tidak semua orang boleh masuk ke kamar mayat. Hanya petugas yang boleh masuk ke kamar mayat. Namun, Juwardi diperbolehkan.

“Juwardi ini mulai 2009 sudah sering bersama kami, membantu. Bahkan dia juga sudah belajar cara menjahit dan lainnya,” bebernya.

Menurutnya, di kamar mayat RSUD ada empat petugas. Dua petugas tetap dan dua lagi magang. Selain empat orang itu, ada Juwardi yang sering membantu.

Karena itu, Wasis berharap agar Juwardi yang telah mengabdikan diri sebagai relawan kamar mayat, bisa diangkat menjadi petugas. Entah magang, sukwan ataupun lainnya.

Yang terpenting ada penghargaan khusus baginya, serta ada gaji tetap. Mengingat penghasilanya dari pekerjaan sebagai tukang ojek pangkalan pas-pasan.

“Kalau petugas kamar mayat di RSUD sini penuh, harapan saya bisa dipekerjakan atau diperbantukan di rumah sakit lain. Di RSUD Tongas misalnya,” tuturnya.

Wasis menilai, totalitas Juwardi sebagai relawan sangat luar biasa. Tidak peduli tengah malam, bahkan dini hari, Juwardi selalu siap membantu saat dibutuhkan. Mulai di lokasi kecelakaan, juga di kamar mayat.

“Dia kan dak pernah minta uang jasa pada korban yang dibantu. Dengan jadi sukwan atau tenaga lapang, gaji yang ada bisa menggantikan uang bensin yang dikeluarkan,” katanya.

Hari Subagio, petugas tetap kamar mayat RSUD dr Moh Saleh menyampaikan hal serupa. Menurutnya, Juwardi lebih suka di lapangan.

Karena itu, mengangkat Juwardi sebagai petugas lapang, merupakan apresiasi yang sangat baik. Juga akan membuat keinginannya untuk membantu korban kecelakaan, dapat terus dilakukan. (hn)