Harga Bawang Merah di Probolinggo Kian Murah, Ini Pemicunya

MELIMPAH: Sejumlah pekerja mengemas bawang merah di Pasar Bawang, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, beberapa waktu lalu. Kini, harga bawang merah semakin murah. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

DRINGU, Radar Bromo – Harga bawang merah di Kabupaten Probolinggo semakin murah. Bahkan, ada yang hanya Rp 5.000 per kilogram. Murahnya harga bawang ini disebut-sebut karena banyaknya daerah di luar Kabupaten Probolinggo juga panen raya.

Kepala Pasar Dringu Kabupaten Probolinggo Sutaman Efendi mengatakan, adanya panen raya di sejumlah wilayah sangat mempengaruhi terhadap pendistribusian bawang. Sejak Selasa (6/8), bawang merah yang masuk Pasar Bawang Dringu mencapai 250 ton per hari. Sedangkan yang sudah didistribusikan hanya 100 ton. “Jadi, banyak yang balik. Dibawa pulang lagi bawangnya karena harganya rendah,” ujarnya.

Menurutnya, pada akhir Juli, harga bawang berkualitas rendah masih Rp 8.000 per kilogram. Sedangkan, yang berkualitas sedang dihargai Rp 10.000 dan yang berkualitas super Rp 17.000 per kilogram.

Namun, memasuki bulan ini, harga bawang berkualitas rendah hanya Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilogram. Yang berkualitas sedang di bawah Rp 10.000 dan yang super antara Rp 14.000 sampai Rp 15.000 per kilogram. “Harganya terus mengalami penurunan,” ujarnya.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Probolinggo Yulis Setyaningsih mengatakan, pada bulan-bulan ini bawang sangat melimpah. Sehingga, berpengaruh terhadap harga. “Karna faktor panen yang berbarengan, harganya menjadi turun,” ujarnya.

Menurutnya, ada sejumlah wilayah di luar Jawa Timur yang kini sedang panen raya. Di antaranya, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Aceh, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Provinsi Sumatera Barat. Setiap wilayah itu merupakan produsen bawang merah yang melimpah.

Yulis mengatakan, ketika kebutuhan bawang di Kabupaten Probolinggo sedikit sedangkan produksi melimpah, biasanya petani maupun pedagang menjual barangnya ke luar daerah. Sehingga, barangnya bisa keluar dari pasar.

“Tapi, kalau seperti sekarang, dengan adanya panen raya ini susah. Karena di daerah lain juga panen raya. Jadi, sudah laku karena daerah yang akan menjadi tempat suplai sudah dimasuki barang dari daerah lain,” jelasnya. (mg1/rud)