Diteriaki Maling, Dikepung Preman, Inilah Suka Duka Anggota Satpol PP Kabupaten Pasuruan

Penegakan perda yang dilakukan anggota Tenaga Pengendali Keamanan Lingkungan (TPKL) Satpol PP Kabupaten Pasuruan, memiliki banyak kisah. Mulai diteriaki maling ketika penertiban PKL. Hingga dikepung preman saat razia PSK.

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

Suara gaduh bergemuruh. Sumpah serapah dilontarkan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Mangga, Pasar Bangil, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Mereka memaki-maki petugas, sambil meneriaki mereka maling.

PERSUASIF DULU: Meski sudah mengutamakan kemanusiaan, terkadang banyak konflik yang harus ditemui personel Satpol PP saat bertugas. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Namun, petugas penegak perda itu bergeming. Mereka tetap menjalankan tugasnya, merazia pedagang yang “bandel”. Meski dalam hati, ada perasaan nelangsa. Karena caci maki dari pedagang, merasuk ke hati.

“Kami hanya menjalankan tugas. Sebenarnya, kami perihatin juga dengan mereka,” kata Erik Firmansyah, 23, anggota Tenaga Pengendali Keamanan Lingkungan (TPKL) Satpol PP Kabupaten Pasuruan yang kerap terlibat kegiatan razia satuannya.

Teriakan dan cacian kerap diterimanya, ketika menggelar razia. Seperti razia PKL di Pasar Bangil, beberapa waktu lalu. Ia mengaku, sempat nelangsa lantaran para pedagang berteriak maling pada dirinya dan rekan-rekannya.

Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Selain tetap menjalankan tugas dan bersikap humanis. Meski ada sakit di hati lantaran dimaki-maki serta juga dilempari dengan buah. Bahkan, dia sempat dipukul ibu-ibu pedagang.

“Kami bukan maling. Diteriaki maling, ada perasaan nelangsa juga. Tapi, kami juga merasa prihatin dengan mereka. Mereka sudah diperingatkan, tapi bandel. Akhirnya ya dirazia. Kami juga dimaki-maki, dipukul, dan dilempari buah. Ya diterima saja,” kenangnya.

Perasaan tak mengenakkan saat menjalankan tugas di satuannya, bukan hanya sekali atau dua kali terjadi. Pernah, ia dan rekan-rekannya dikepung preman. Tepatnya saat mereka sedang menggelar razia PSK di kawasan Prigen.

Ketika itu, ia dan beberapa rekannya mengenakan pakaian preman. Mereka lantas masuk ke sejumlah vila. Namun, saat masuk ke salah satu vila, ada seseorang yang menyuruh mereka keluar. Bahkan, tak lama kemudian, para preman datang.

“Kami sempat terlibat cekcok. Namun, tidak sampai terjadi apa-apa setelah kami tunjukkan kartu anggota,” sambung lelaki yang masuk anggota TPKL sejak 2015.

Cerita menantang menjadi anggota Satpol PP tidak hanya dirasakan Erik. Beni Sandi, 25, warga Rembang, Kabupaten Pasuruan, juga merasakannya. Ia nyaris babak belur dipukuli preman ketika razia PSK di Tangkis, Gempol.

Kejadiannya berlangsung sekitar 2017. Saat itu, ia anggota baru untuk kegiatan razia. Biasanya, ia hanya bertugas untuk kegiatan patroli.

Ia bersama belasan anggota Satpol PP lainnya, mulanya datang dengan aman. Meski kehadiran mereka membuat warga kawasan Tangkis, gerah. Mereka tak menghiraukannya.

Bersama personel lainnya, Beni mengecek gubuk-gubuk liar yang ada di kawasan Tangkis. Hingga beberapa jam kemudian, pluit tanda berakhirnya operasi dibunyikan. Namun, dirinya tak mengerti kode tersebut. Ia terus saja mengecek gubuk liar.

Tiba-tiba, suasana di sekitarnya menjadi tak nyaman baginya. Karena beberapa orang, kemudian menghampirinya. Bukan teman-temannya. Melainkan warga sekitar yang hendak memukulinya.

Tak ingin menjadi korban amukan orang, ia pun memilih lari. “Jadi, karena masih baru, saya tidak tahu kode-kode pimpinan. Saat ada bunyi pluit berakhirnya razia, saya masih di lokasi. Saya sempat ditinggal oleh teman-teman. Untungnya, mereka kembali setelah menyadari saya tertinggal,” kisahnya.

Meski begitu, menjadi petugas Satpol PP tetap dilakoninya. Ia mengaku senang lantaran semangat kebersamaan dalam tim. “Senang karena rasa kebersamaannya. Ketika tidak punya cukup uang untuk makan, kami patungan,” ulasnya.

Kasi Operasi dan Pengendalian Satpol PP Kabupaten Pasuruan Ajar Dollar menyampaikan, caci maki hingga berurusan dengan preman merupakan hal yang biasa bagi ia dan anak buahnya. Bahkan, ancaman demi ancaman sering didapatinya.

“Pernah kami diancam denga kayu, bahkan celurit, waktu razia PKL. Mereka mengacungkan benda-benda tersebut ke kami. Itu semua hal biasa,” sambungnya.

Namun, tidak selalu kegiatan yang dilakoni bersama anak buahnya berakhir “mengenaskan”. Contohnya ketika kegiatan razia. Bila mendapatkan banyak PSK, ada perasaan puas karena razia berhasil.

“Jadi, tidak melulu mengecewakan. Ada juga yang menyenangkan. Seperti ketika berhasil menggelar razia, PSK misalnya. Dapat banyak. Kami puas, karena tidak bocor dan tidak sia-sia melakukan razia tersebut,” pungkasnya. (one/fun)