Kerajinan Terompah Kayu di Warungdowo yang Terus Menyusut

Kerajinan membuat terompah kayu di Desa Warungdowo sudah ada sejak lama. Kian hari daya produksinya melemah. Pemdes setempat berupaya berinovasi melalui branding serta menciptakan pemasaran yang lebih terbuka.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pohjentrek, Radar Bromo

Boleh dibilang, Husen ialah salah satu perajin terompah kayu yang paling lama saat ini. Sejak sekitar 30 tahun silam, warga Dusun Warungdowo Timur Selatan itu mulai menggeluti usahanya.

“Kalau dulu pembuatannya lebih rumit. Karena dari proses membuat ukurannya saja manual,” kata Husen membuka percakapan dengan wartawan media ini.

Namun sejak tiga tahun terakhir, Husen mulai memanfaatkan mesin guna mempercepat pekerjaannya. Setiap hari ia memotong balok kayu menjadi ukuran yang lebih kecil. Masing-masing balok kayu dipotong sekitar 15 hingga 20 sentimeter guna menyesuaikan ukuran kaki.

“Setelah memotong balok baru pakai mesin untuk dibentuk menyerupai ukuran kaki,” tambahnya.

Begitulah seterusnya. Per harinya, Husen bisa membuat 200 pasang terompah dari tangannya. “Namun itu kalau lembur. Saya bikin sama istri, tidak ada karyawan,” ungkap dia.

Pasarnya, kata Husen, hanya di lingkup desa hingga kecamatan sekitar. “Paling jauh dikirim ke Sidogiri karena kawasan pesantren,” jelasnya.

Karena itulah, Pemdes Warungdowo berencana untuk membuka pangsa pasar terompah kayu buatan warganya agar lebih luas. “Kerajinan ini sudah ada sejak sekitar tahun 1970-an. Dulu hampir semua masyarakat dusun perajin, sekarang tidak sampai 10 orang,” terang Kepala Desa Warungdowo, M Muslik.

Pihaknya berharap, kerajinan terompah itu akan kembali menemukan pangsa pasar yang lebih mumpuni. Sehingga daya produksi di tingkat pengrajin pun tak bakal sepi. “Rencananya akan kami branding lagi agar perajin di desa kami lebih terjamin,” kata Muslik.

Ia menjelaskan, pemdes juga memberdayakan BUMDes sebagai ladang pemasaran terompah kayu. Sehingga perajin dapat memproduksi terompah kayu dalam jumlah tak terbatas.

“Nanti BUMDes yang memasarkan sehingga ada kestabilan produksi. Perajin lebih terjamin dari segi penghasilan, tidak khawatir barang yang diproduksi tidak laku karena ada BUMDes yang bergerak di segi pemasarannya,” papar Muslik. (fun)