Ini 8 Kesepakatan Angkot-Ojol Probolinggo usai Pertemuan 8 Jam

MAYANGAN, Radar Bromo – Polemik antara angkutan berbasis online dan angkutan konvensional di Kota Probolinggo, mulai ada titik temu. Rabu (31/7), kedua kubu telah berkoordinasi di ruang rapat Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo.

Hasilnya, ada 8 poin yang disepakati bersama. Delapan poin itu diramu selama 8 jam. Rapat ini dihadiri oleh perwakilan sopir angkutan kota (angkot) yang tergabung dalam Aliansi Sopir Angkot Probolinggo (ASAP). Serta, ada dari ojek pangkalan (opal), becak, ojek online, dan taksi online. Kegiatan yang difasilitasi Dishub ini juga dihadiri perwakilan dari kepolisian, Satpol PP, dan Kesbangpol.

Delapan poin kesepatan itu di antaranya, pertama, angkutan online bisa mengantar dan menjemput pelajar di setiap sekolah dengan ketentuan titik penjemputannya radius 300 meter yang ditandai dengan rambu shelter atau penanda lainnya. Ke dua, angkuatn online tidak diperbolehkan menjemput penumpang di halte atau shelter pada jalur trayek angkot.

Ketiga, angkutan online bisa menjemput penumpang di Terminal Bayuangga dan Stasiun KA Probolinggo. Dengan ketentuan titik penjemputan, wilayah stasiun di TK Tunas Harapan dan Jalan Suroyo. Sedangkan, di Terminal Bayuangga, sebelah utara SPBU Ketapang; selatan MTs Sunan Giri di Jalan Semeru.

Dalam kesepatan itu, juga diatur soal sanksi yang tercantum pada poin ke lima. Yakni, bagi yang melanggar kesepakatan poin pertama sampai ke tiga, untuk angkutan online dikenakan sanksi berupa denda sebesar 10 kali lipat dari harga yang tertera pada aplikasi. Begitu juga dengan angkutan konvensional sebesar 10 kali lipat dari tarif yang diberikan.

Pada poin ke enam disebutkan, poin ke dua dan ke tiga tidak berlaku bagi turis mancanegara atau tamu negara. Ketika ada pelanggaran, pada poin ke tujuh diatur agar mengedepankan musyawarah. Bila tidak selesai, jadi tanggung jawab kepolisian. Aturan ini berlaku mulai tujuh hari sejak ditandatangani.

Kepala Dishub Kota Probolinggo Sumadi mengatakan, dengan adanya kesepakatan bersama ini, diharapkan polemik antaran angkuta konvensional maupun online selesai.

Serta, meminta semua pihak menghargai dan menyampaikan kepada anggotanya. “Yang hadir dan sepakat saat ini punya kewajiban menyampaikan kepada anggota lainnya. Sehingga, tidak lagi terjadi konflik seperti sebelumnya,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ketua ASAP De’er. Ia berharap apa yang telah disepakati dihargai. Tidak lagi ada kucing-kucingan penumpang. “Yang mewakili tadi, wajib menyampaikan aturan yang telah disepakati bersama tadi,” ujarnya.

Sedangkan, perwakilan taksi online dari Go-Car, juga setuju. Menurutnya, konflik yang ada sebetulnya mudah diatasi. Sebab, jika sudah urusan perut, pastinya semua akan bersihkukuh untuk memperjuangkannya. “Kami kan sama-sama mencari nafkah. Jadi, saling menghargai saja, biar tidak ada konflik lagi,” ujar pria berkacamata yang enggan namanya disebutkan ini. (rpd/rud)