Pengedar Pil asal Wonomerto Ditemukan Tewas, Kapolresta Sebut Overdosis

KANIGARAN, Radar Bromo – Kapolres Probolinggo Kota (Kapolresta) AKBP Alfian Nurrizal membantah Nur Hasan, pengedar pil tewas karena dianiaya petugas. Menurutnya, Hasan –panggilannya- meninggal akibat overdosis.

Alfian membenarkan bahwa Kamis (25/7) pukul 20.00, petugas menangkap Hasan. Sebab, dia jadi buron pengedar pil. Menurut Alfian, petugas menangkap Mashurin dengan bukti 40 pil Trex. Selanjutnya, petugas mengembangkan kasus itu. “Hasilnya, yang terlibat dalam pengedaran itu yakni Nur Hasan. Dia ditetapkan sebagai DPO,” terangnya, Jumat (26/7).

Kamis pukul 20.00, petugas mendapat informasi Hasan berada rumah Holis, tetangganya. Setidaknya ada sekitar sembilan orang di sana. Salah satunya yakni Hasan yang menjadi DPO.

Petugas pun datang ke lokasi untuk menangkap Hasan. Namun, saat petugas datang, Hasan melarikan diri lewat pintu belakang.

Petugas pun langsung mengejar Hasan. Dia berhasil ditangkap di belakang rumah Holis. Namun bukannya menyerah. Hasan terus melawan. Bahkan, sempat berkelahi dengan tiga petugas yang mengejarnya.

“Jadi, sempat berkelahi dengan tiga petugas itu. Setelah ditangkap dan diborgol, Hasan berteriak maling. Sehingga, warga sekitar banyak yang keluar,” bebernya.

Karena itu, petugas lantas memasukkan Hasan ke rumah Ridwan, warga sekitar. Pemilik rumah sempat kaget. Namun, setelah diberi penjelasan, pemilik rumah memperbolehkan Hasan diamankan di rumahnya. Baru setelah itu, Hasan dibawa ke Mapolresta.

Sayangnya, ketika sampai di Mapolresta, lanjut Alfian, Hasan kejang-kejang. Dari mulutnya keluar seperti busa.

Saat itu juga, sekitar pukul 20.30, Hasan dilarikan ke RSUD dr. Mohamad Saleh. Selanjutnya, Jumat (26/7) pukul 08.00, Hasan dinyatakan meninggal. “Jadi, Hasan meninggal di rumah sakit,” tambahnya.

Mengenai uang tebusan Rp 15 juta yang diminta petugas melalui Muis, Alfian mengaku masih menyelidiki. Sehingga, ia tidak bisa berkomentar banyak. “Kami khawatir kasus ini seperti kasus burung atau HP yang hilang itu. Bilangnya polisi minta uang, tapi ternyata tidak benar,” terangnya.

Sementara itu, menurutnya, tiga anggota kepolisian yang saat itu bertugas menangkap Hasan, sudah diperiksa Provost. “Tiga anggota tersebut sudah diperiksa. Jika memang benar ada penganiayaan, maka kami akan tindak tegas. Kami juga akan periksa Muis, warga Pohsangit itu,” bebernya.

Sedangkan permintaan untuk otopsi ulang pada jenazah Hasan, AKBP Alfian mengatakan sudah menyurati Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya untuk melakukan otopsi. Sehingga, ada kejelasan tentang sebab meninggalnya Hasan.

“Kami sudah surati. Paling cepat sekitar dua hari lagi tim labfor datang,” bebernya. (rpd/hn)