SDN Jorongan 3 yang Hanya Miliki 15 Siswa, Suasana di Kelas Satu Seperti Belajar Privat

Ada 93 lembaga sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Probolinggo, yang minim akan siswa. Salah satunya SDN Jorongan 3, di Kecamatan Leces. Hanya ada 15 siswa di sekolah ini. Kondisi itu tak lantas membuat guru patah semangat.

————–

Halaman SDN Jorongan 3 pagi itu terbuka lebar. Maklum, sekolah ini memang tidak memiliki bangunan pagar sekolah. Beberapa kendaraan motor terlihat parkir di bawah pohon yang ada di tengah halaman. Tidak tampak para siswa di luar. Yang terdengar hanya proses belajar mengajar dari dalam kelas.

SEPERTI PRIVAT: Suasana pembelajaran di kelas 5 SDN Jorongan 3. Nampak siswa berdialog dengan guru. (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Setidaknya ada 5 ruang kelas yang digunakan proses belajar mengajar. Sebab, kelas I dan kelas II, dijadikan satu ruang kelas untuk proses belajar mengajarnya. Minimnya siswa di sekolah itu, membuat aktivitas belajar mengajar tidak terlalu begitu ramai. Bahkan, di semua kelas itu, siswa berhadapan langsung di satu meja dengan gurunya.

Seperti halnya kelas I dan II yang sama-sama memiliki satu siswa. Di ruangan kelas itu, ada dua guru berbeda. Mereka pun mengajar meja terpisah, meski satu ruangan. Namun, karena siswa yang diajari hanya satu orang, sistem pembelajaran pun layaknya belajar private. Siti Fatimah, guru Kelas I mengajar Imam Masduki Ainurrohim dan Sholehatun Sya’diah mengajar siswa kelas II, Masrurin.

”Sebenarnya siswa baru kelas I ada dua anak. Cuma yang baru masuk aktif sekolah, baru satu anak ini,” kata Fatimah, guru kelas I asal Leces itu.

Fatimah, guru non PNS yang sudah mengantongi SK Bupati itu mengatakan, dirinya mengajar di SDN Jorongan 3 sejak tahun 2007 lalu. Dulunya, jumlah siswa di SDN setempat hampir 100 anak. Namun, beberapa tahun terakhir jumlah anak yang sekolah di SDN Jorongan 3 terus berkurang.

”Saya bersama guru dan kepala sekolah, sudah berusaha untuk menarik anak-anak baru masuk sekolah untuk daftar di SDN Jorongan 3,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, Senin (22/7).

Dengan kondisi siswa yang minim, kata Fatimah, dirinya bersama para guru tetap semangat untuk mengajar. Bahkan, anak didiknya yang diajar pun semangat. Meskipun, mereka tidak memiliki banyak teman belajar di dalma ruang kelas.

”Bagi kami tetap ada positif dan kekurangannya. Positifnya, proses belajar mengajar bisa lebih fokus, karena jumlahnya sedikit, seperti belajar private. Kekurangannya, tidak ada pemicu bersaing untuk lebih baik lagi bagi siswa. Berbeda saat banyak siswa di kelas, pasti saling bersaing dan terpicu untuk lebih baik dari teman-teman lainnya,” ungkapnya.

Jamaluddin, kepala SDN Jorongan 3 mengaku, dirinya mendapatkan amanah sebagai kepala SDN Jorongan 3, sekaligus merangkap sebagai kepala SDN Jorongan 2. Nah, berbagai upaya telah dilakukan, supaya walimurid mendaftarkan anak-anakya ke SDN Jorongan 3.

Bahkan, saat PPDB lalu, ada kelebihan 15 anak yang tidak diterima di SDN Jorongan 2, langsung diarahkan ke SDN Jorongan 3. Tetapi, walimurid tidak bersedia dan malah memilih daftarkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan swasta.

”Waktu pendaftaran peserta didik baru tahun ini, ada 50 anak yang daftar di SDN Jorongan 2. Karena pagu kami hanya 35 anak, jadi selebihnya kami arahkan ke SDN Jorongan 3. Tapi ternyata tidak ada yang pindah daftar ke sini (SDN Jorongan 3) sama sekali,” terangnya.

Jamaluddin menjelaskan, banyak faktor yang membuat kondisi sekolah minim siswa. Kondisi itu mulai terjadi sekitar tahun 2011 lalu, jumlah siswa terus berkurang. Salah satu faktornya, SDN Jorongan 3 ini, lokasinya berada di tepi sungai. Jadi, walimurid merasa khawatir.

”Dulu entah tahun berapa, memang ada anak yang tenggelam di sungai itu. Tapi bukan anak yang pas sekolah. Selain itu, kemungkinan banyak faktor,” terangnya.

Jamaluddin menjelaskan, di SDN Jorongan 3 ini, total ada 15 siswa. Jumlah tenaga pengajar pun ada 8 guru, sebanyak 2 guru PNS dan 6 guru non PNS. Sedangkan ruang kelas yang digunakan, ada 5 kelas. Karena satu ruang kelas, dijadikan tempat belajar kelas 1 dan 2. Tetapi guru yang mengajar tetap dua guru di satu ruang kelas itu.

”Kalau tenaga pengajar disini tidak kurang. Kami semua tetap semangat dan sabar. Tetapi, jumlah siswanya yang kurang,” ungkapnya.

Dengan kondisi itu dikatakan Jamaluddin, ada rencana mau di merger dengan dengan SDN jorongan 2. Pihaknya telah mengajukan ke Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten. Tinggal menunggu kebijakan dari pimpinan. ”Sedang diajukan untuk merger dengan SDN Jorongan 2, masih dalam proses,” ujarnya. (mas/fun)