Petambak Garam Pasuruan Desak Normalisasi

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Sejumlah petani tambak garam di Panggungrejo, Kota Pasuruan, kini tengah galau. Selain harga garam yang anjlok saat musim panen, mereka juga mengeluhkan saluran air yang sulit dijangkau. Kondisi itu berdampak pada produktivitas saat memasuki musim garam.

Salah seorang petani tambak, M Ali mengaku, sering kesulitan air ketika musim tanam. Apalagi, lokasi tambak garam yang digarapnya terbilang cukup jauh dari lautan. Karena itu, ketersediaan air asin itu menjadi hal mendesak yang dibutuhkan petani tambah seperti dirinya.

“Tambak saya ini kan cukup jauh dari laut. Agak ke selatan, beda dengan tambak lain. Sehingga, airnya sulit. Belum lagi kalau gelombang sedang surut, sangat kurang untuk tambak garam,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo.

Lantaran itu, Ali berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan tambak garam di Kota Pasuruan. Khususnya di wilayah Panggungrejo. “Kalau ada normalisasi saluran lebih baik. Sehingga masa panen kami tidak sulit dengan kebutuhan air lautnya,” ujarnya.

Sementara, Fatkhur Rohman, petani tambak di lokasi yang sama juga mengeluhkan hal yang sama. Ia bahkan harus membuat sumur bor secara swadaya lantaran ketersediaan air laut sangat dibutuhkan. “Jadi, saya buat sendiri sumur bor biar dapat air laut,” katanya.

Menanggapi hal itu, Kabid Budi Daya Dinas Perikanan Kota Pasuruan Imron Rosadi meminta petani tambak garam bersabar. Ia memastikan, pemerintah tetap memperhatikan kebutuhan petani tambak garam terkait ketersediaan air laut itu.

“Sudah kami inventarisasi semua kebutuhan untuk petani tambak. Namun, untuk merealisasikan normalisasi saluran air tambak itu perlu waktu. Untuk tahun ini, normalisasi saluran masih di tiga titik. Khusus untuk Panggungrejo, memang belum,” jelasnya. (tom/mie)