Keran Koalisi Mulai Terbuka, Empat Partai Mulai Pasang Kuda-kuda

PASURUAN, Radar Bromo – Sejumlah parpol mulai memasang kuda-kuda untuk membangun koalisi dalam Pilwali 2020. Sebab hanya PKB dan Partai Golkar saja yang memiliki tiket mengusung calon sendiri dengan perolehan kursi melebihi syarat minimal enam kursi.

Kemungkinan bergabungnya beberapa parpol itu diharapkan agar kontestasi politik setahun kedepan menjadi lebih cair. Sebab, pertarungan head to head berpotensi mempertajam polarisasi dukungan masyarakat.

Partai Hanura yang kini memiliki tiga kursi di dewan masih menunggu peraturan organisasi tentang tata cara dan mekanisme pilkada. Tetapi, partai yang didirikan Wiranto itu juga telah memutuskan arah politik ke depan.

“Rapat yang berlangsung di tingkat DPC ada dua pendapat. Yang pertama menghendaki kadernya maju. Sedangkan pendapat kedua tidak mewajibkan kadernya yang maju, asalkan yang kami dukung bisa menang,” kata Ketua DPC Partai Hanura Kota Pasuruan, Farid Misbah.

Artinya, kata Farid, Partai Hanura masih terbuka dalam menyambut Pilwali 2020. Ia sendiri mengaku banyak mendapat dorongan untuk maju dalam Pilwali, namun hal itu perlu dipertimbangkan secara matang.

“Saya sendiri belum terpikir apakah maju atau tidak, sekalipun saat ini Ketua DPC. Sekarang partai yang sudah punya tiket untuk maju saja saya rasa masih belum jauh melangkah. Jadi masih sangat dinamis dan cair,” ungkap dia.

Kondisi hampir serupa juga terjadi di Partai Gerindra yang kini memiliki tiga kursi. Ketua DPC Gerindra Kota Pasuruan, Ahmad Zubaidi telah membuka keran koalisi dengan partai lain. Sebab ia menyadari partainya tak bisa berangkat sendiri dalam Pilwali. “Kalau komunikasi dengan semua partai sudah. Kita saling bercurah pendapat, dan saling menyampaikan harapan. Namun belum sampai menentukan koalisi,” terangnya.

Ia juga tidak lagi mengacu pada koalisi nasional pada Pilpres lalu. Karena kondisi di daerah tak bisa disamakan dengan situasi politik nasional. Sehingga Partai Gerindra akan lebih terbuka dengan semua partai.

Sejauh ini, kata Zubaidi, Partai Gerindra juga tengah menyiapkan kader terbaiknya. Meskipun tidak menutup kemungkinan jika ada figur di luar struktur partai yang siap bertarung. “Meskipun bukan kader partai tapi berkemampuan untuk membangun Kota Pasuruan lebih baik juga tidak masalah. Kami tetap melihat figur-figur yang punya kesiapan paripurna,” papar dia.

Yang terpenting, kata Zubaidi, partainya dapat memunculkan sosok bakal calon walikota berdasarkan kesamaan visi dengan partai lain. “Kami berharap bangunan koalisi nanti bisa memberangkatkan pada pilihan yang utama, walikota,” tambahnya.

Ia menargetkan, ada empat hingga lima partai yang bergabung. Sebab, pihaknya tak ingin mematok koalisi nanti dengan jumlah kursi yang menjadi syarat minimal. “Tapi bisa lebih, biar optimal,” tandasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Ismu Hardiyanto, Ketua DPD PKS Kota Pasuruan. Partai yang juga meraih 3 kursi di parlemen tersebut, sudah melakukan komunikasi politik. Seperti 12 Juli lalu, saat partai ini menggelar silaturahmi politik. Saat itu, sejumlah tokoh dari partai lain, juga turut diundang.

Menurut Ismu, PKS siap mengajukan kader dalam kontestasi di Pilwali 2020 mendatang. “Kami tentu ingin jadi pengusung N 1 (wali kota). Tentang siapa calonnya, bisa dari kader internal dan dari tokoh masyarakat yang mendapat dukungan dari para tokoh ulama, kyai dan habaib,” terang politisi yang kembali terpilih untuk duduk di parlemen tersebut.

Hal yang sama juga diungkapkan Helmi, Ketua DPD Pan Kota Pasuruan. Menurut Helmi, partainya yang di pemilu lalu juga meraih 2 kursi tersebut, tak hanya melakukan komunikasi politik dengan partai lain. “Bahkan dengan beberapa partai dan kemungkinan akan membentuk koalisi,” beber Helmi.

Hanya saja, PAN menurut Helmi, tidak wajib untuk harus menduduki posisi N 1. Begitu juga dengan kader. PAN tidak melulu mewajibkan kadernya, untuk maju di Pilwali. “Di luar partaipun apabila kami anggap layak akan kami usung,” terang Helmi.

Sekretaris DPD PAN Kota Pasuruan, Wiwin Ariesta menambahkan, sejauh ini partainya cukup proaktif menjajaki komunikasi dengan sejumlah partai lain. Beberapa diantaranya bahkan ada yang datang untuk menawarkan diri.

“Ada yang kami pertimbangkan untuk diusung. Nama-namanya belum bisa kami sebutkan,” katanya.

Tidak menutup kemungkinan pula, kata Wiwin, jika PAN bakal mengusung kadernya sendiri. Meski PAN hanya mampu mengantarkan dua kadernya di gedung dewan. Karena itulah pihaknya selalu membangun komunikasi politik dengan partai lain. Tujuannya, agar segera terbangun koalisi antar partai yang memiliki visi dan persepsi seragam.

“Harapan kami seperti itu. Kalau PAN sebisa mungkin mengusung kader sendiri. Bisa jadi kalau ada yang mengusung untuk calon walikota ya bisa saja. Peluang masih terbuka lebar,” jelasnya.

Kendati demikian, Wiwin juga akan tetap memetakan kecenderungan masyarakat dalam memilih figur. Jika memang ada figur yang kredibel dan bisa diterima sebagian besar pemilih, maka PAN juga mesti rasionalis. “Yang akan diusung nanti tergantung penerimaan masyarakat dan sejalan dengan visi PAN,” ujarnya.

Sejauh ini, ia menempis koalisi nasional akan berlanjut di Kota Pasuruan. Wiwin menilai hal itu sulit diwujudkan. Sebab kondisi politik di daerah berbeda dengan nasional. “Tidak harus selalu fokus kesana karena kondisi lokal tiap daerah berbeda,” ucapnya. (tom/fun)