Melihat Kondisi Pasar Wonoasih yang Akan Direlokasi

Pasar Wonoasih menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi masyarakat di wilayah selatan Kota Probolinggo. Namun, kondisi Pasar Wonoasih saat ini kurang nyaman. Selain pedagang yang overload, juga berbatasan dengan jalan nasional. Wacana merelokasi Pasar Wonoasih pun digulirkan, meskipun belum pasti kapan.

RIDHOWATI SAPUTRI, Wonoasih, Radar Bromo

Pasar Wonoasih merupakan satu-satunya pasar besar di wilayah selatan Kota probolinggo. Pasar ini juga merupakan pasar satu-satunya di kota yang dikunjungi Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat masa kampanye Pemilu 2019, beberapa waktu lalu.

Namun, di antara empat pasar besar yang ada di Kota Probolinggo yaitu Pasar Wonoasih, Pasar Baru, Pasar Gotong Royong, dan Pasar Kronong, pasar ini yang lokasinya kurang menguntungkan. Pasar ini berdempetan dengan permukiman warga.

Bagian barat pasar, berbatasan dengan permukiman warga. Ada 5-6 rumah warga yang posisinya satu lokasi dengan Pasar Wonoasih.

Bahkan, jalan masuk ke permukiman warga pun digunakan untuk kegiatan berdagang. Sebab, jumlah pedagang sudah terlalu banyak. Beberapa pedagang lesehan menjual dagangan sayurnya tepat di depan rumah warga.

Lantas bagaimana situasi di dalam Pasar Wonoasih sendiri? Jika dibandingkan dengan Pasar Baru, situasi Pasar Wonoasih sama-sama ramai, terutama pada pagi hari.

Bedanya, Pasar Wonoasih menyediakan space atau tempat bagi pedagang yang tidak memiliki bedak. Mereka bisa berjualan secara lesehan di sisi timur pasar.

Tapi kondisinya pun cukup padat. Ada 5-6 pedagang yang berjualan tepat di pintu masuk di sisi timur Pasar Wonoasih.

Masalah lain yang harus dihadapi yaitu, pasar ini terletak di dekat simpang empat yang ramai. Bahkan, salah satunya jalan nasional. Yaitu, Jalan Prof Hamka.

Simpang empat ini jadi lalu lalang tidak hanya warga yang ke pasar. Namun, juga kendaraan antarkota dalam provinsi serta pegawai sejumlah instansi. Seperti, Puskesmas Wonoasih, Polsek Wonoasih, Koramil Wonoasih, dan sejumlah instansi lain.

Belum lagi, ada sejumlah sekolah yang pelajarnya harus melewati simpang empat itu untuk sampai ke sekolah. Mulai SD negeri, SMP negeri, sampai SMA negeri dan MA negeri.

Alhasil, terutama di pagi hari, lalu lintas di simpang empat itu sangat ramai. Jalan di simpang empat selalu macet.

“Terutama saat pagi hari, di sekitar pasar ini rawan macet. Posisi perempatan banyak orang yang menyeberang mau ke pasar atau sebaliknya,” ujar Moch Arif Billah, kepala UPT Pasar Wonoasih, beberapa waktu lalu.

Belum lagi becak yang parkir di pinggir pasar, membuat ruas Jalan Mastrip menyempit. Lalu kalau ada bus karyawan lewat, jalan makin terasa sesak.

Selain itu, kondisi macet juga bisa terjadi saat ada kendaraan pengangkut BBM masuk ke Jalan Mastrip. Sehingga, arus kendaraan di sekitar Pasar Wonoasih pun harus berjalan pelan.

Jalan Mastrip sendiri adalah salah satu pusat perkantoran, sekolah, dan pertokoan. Sehingga, lalu lalang kendaraan dari dan ke Wonoasih juga sangat padat.

Semua kondisi itu membuat Pemkot Probolinggo berencana merelokasi Pasar Wonoasih. Sosialisasi pun mulai dilakukan. Walaupun, ada juga pedagang yang belum tahu rencana itu.

Seperti Suraya, 50, salah satu pedagang Pasar Wonoasih ini mengaku tidak tahu rencana relokasi pasar.

Ndak tahu saya. Pak Kepala Pasar tidak pernah cerita. Kapan mau dipindah?” ujarnya saat ditemui harian Jawa Pos Radar Bromo.

Setelah dikasih tahu, dia pun mengaku akan ikut pindah. “Oalah, masih lama ya. Kalau yang lain pindah ya saya ikut pindah,” ujar warga Pakistaji ini.

Suraya setiap hari berjualan gerabah di Pasar Wonoasih. Pekerjaan ini telah dilakoninya sejak 30 tahun lalu.

Dia menempati stan di sisi utara dan berseberangan dengan salah satu rumah warga. “Stan sebelah ini ada orangnya, tapi sudah meninggal. Jadi, sudah kosong,” ujar Suraya menunjuk stan di sebelah kanan stannya.

Sejak tahun 2014, Pemkot Probolinggo telah melakukan kajian untuk merelokasi Pasar Wonoasih. Posisinya yang tepat di tepi jalan raya nasional, menjadikan arus lalu lintas di sekitar pasar rawan menimbulkan kemacetan.

Meskipun belum dipastikan kapan relokasi dilakukan. Namun, Pemkot sudah mengancang-ancang lokasi yang dipilih. Yaitu, di sebelah selatan Pasar Ternak Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Di sini, ada lahan aset Pemkot Probolinggo yang cukup luas.

Relokasi sendiri, juga berkaitan dengan program Pemkot Probolinggo untuk mengembangkan pasar agro. Rencananya, Pasar Wonoasih ini akan dikembangkan juga sebagai pasar agro. Yaitu pasar yang menjual produk agro atau pertanian.

Namun, dengan ukuran pasar yang lebih luas. Juga di lokasi yang tidak menimbulkan macet. (hn)