Inilah Rumah Anggrek yang Dibangun Pemdes Sadengrejo di Rejoso yang Dibuat dengan Berdayakan Warga

Beragam cara dilakukan Pemdes Sadengrejo untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Salah satunya dengan memberdayakan warga setempat melalui rumah anggrek yang dikembangkan oleh kelompok usaha tani mandiri setempat.

———–

Sejumlah wanita tampak memilah akar serabut akasia di hadapannya. Usai dipotong kecil, akar tanaman anggrek itu lantas dimasukkan ke dalam serabut itu. Selanjutanya, tanaman itu pun dimasukkan ke dalam media plastik dan diletakkan di dalam paranet.

Pemandangan ini rutin terlihat di rumah anggrek, di Dusun Sadeng, Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso setiap harinya. Maklum saja, Pemdes setempat mengembangkan rumah anggrek untuk pemberdayaan warga setempat sejak pekan lalu.

Tokoh masyarakat Sadengrejo, Hudan Daldiri mengungkapkan, rumah anggrek ini milik kelompok usaha tani mandiri setempat. Rumah anggrek yang memiliki ukuran 9,8 x 26,2 meter ini mampu menampung 40 ribu tanaman anggrek di dalamnya.

“Tanaman anggrek yang kami kembangkan adalah jenis dendrobium. Sebab, jenis tanaman ini bisa hidup di daerah panas dan mudah perawatannya,” ungkapnya.

Hudan –sapaan akrabnya- menjelaskan, modal untuk membangun rumah anggrek ini dialokasikan dari dana desa (DD). Sementara, media tanam, benih, dan pupuk berasal dari mitra asal Kota Malang. Usai ditumbuhkan hingga lima bulan, anggrek ini dikirim ke Kota Malang.

Pengembangannya sendiri dengan merebus akar serabut akasia sampai mendidik agar bakterinya mati sebelum digunakan untuk media tanam. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari. Sementara untuk pemupukan dilakukan dengan disemprot setiap minggu.

“Kurang lebih kami menghabiskan 1,4 karung akar serabut akasia untuk penanaman setiap 1.000 tanaman anggrek. Setelah lima bulan dibeli dengan harga Rp 2000 per tanaman,” jelas Hudan.

Kades Sadengrejo Khudori mengaku, pembudidayaan anggrek ini untuk memberdayakan warga setempat. Utamanya, kaum wanita yang baru lulus sekolah dan belum memiliki pekerjaan. Sejauh ini, ada enam orang yang dipekerjakan.

“Keenamnya kami beri upah setiap pekannya. Nanti, hasil keuntungan dari penjualan tanaman anggrek ini bakal dimasukkan ke dalam pendapatan asli daerah (PAD) desa,” sebutnya. (fun)