Gunung Bromo Mulai Stabil setelah Sempat Erupsi, Jarak Aman Radius 1 Kilometer

SUKAPURA – Setelah sempat erupsi, aktivitas gunung Bromo kembali stabil, Sabtu (20/7). Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap mengimbau warga dan pengunjung tidak memasuki jarak aman radius 1 kilometer dari kawah Bromo.

Wahyu Ardian Kusuma, kepala pos Pantau Gunung Api (PGA) Bromo mengatakan, pengamatan cuaca sejak tanggal 1 hingga 18 Juli 2019 umumnya cuaca di sekitar Gunung Bromo cerah, berawan hingga mendung. Kemudian, Jumat (19/7), sekitar pukul 16.43, tercatat satu kali hujan gerimis. Curah hujan tercatat di Pos PGA Bromo sebesar 0.4 mm.

”Terjadi letusan erupsi pada Gunung Bromo. Namun, karena cuaca berkabut, tidak terlihat jelas letusan dan abu vulkanik yang dilontarkan Gunung Bromo. Selain itu juga terjadi amplitudo maksimum 1 mm dan lama gempa 3 menit 20 detik,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo.

Selama erupsi menurutnya, juga terjadi banjir. Ada aliran air disertai material batuan berukuran abu hingga pasir di lautan pasir. Menurutnya, hal itu merupakan fenomena alam biasa. Dan tidak berkaitan langsung dengan aktivitas erupsi Gunung Bromo.

Banjir menurutya, diakibatkan hujan yang terjadi di sekitar Kaldera Tengger dan puncak Gunung Bromo. Hujan turun bersamaan dengan erupsi yang menghasilkan abu vulkanik. Sehingga terjadi banjir disertai material batuan berukuran abu hingga pasir.

Selain itu, morfologi kaldera Tengger merupakan topografi rendah yang dikelilingi perbukitan. Karena itu saat hujan turun, aliran air akan bergerak ke arah dasar kaldera.

”Endapan batuan di sekitar perbukitan Kaldera Tengger dan puncak Gunung Bromo umumnya terdiri dari produk jatuhan yang bersifat lepas. Sehingga akan mudah tergerus oleh air hujan,” terangnya.

Saat ini ditegaskan Wahyu, aktivitas Gunung Bromo terus stabil. Cuaca cerah, berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah, hingga sedang ke arah selatan, barat daya, barat, dan barat laut. Dengan volume curah hujan 0.4 mm per hari.

Status Gunung Bromo juga tetap di level II waspada. Masyarakat atau pengunjung dilarang memasuki kawasan dalam radius 1 kilometer dari kawah gunung Bromo.

”Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, hingga sedang dan tinggi 300 meter di atas puncak kawah. Terdengar suara gemuruh dan dentuman dari kawah Bromo. Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.5-37 mm, dominan 1 mm,” terangnya.

Sementara itu, Anggit Hermanuadi kepala BPBD Kabupaten Probolinggo mengatakan, banjir yang terjadi pasca letusan Gunung Bromo, bukan banjir lahar. Banjir itu terjadi karena hujan turun di sekitar selatan kawah. Sehingga, menyebabkan air limpasan yang membawa material vulkanik atau biasa disebut lahar dingin di laut pasir. Kondisi ini akan berlangsung dengan cepat bergantung curah hujan yang terjadi.

”Alhamdulillah, kondisi gunung Bromo saat ini (20/7, Red) kembali cerah dan stabil. Pengunjung yang datang pun terus meningkat. Tapi kami imbau, pada masyarakat dan pengunjung untuk tidak melanggar larangan dari PVMBG. Yaitu tidak memasuki radius 1 kilometer dari kawah Bromo,” terangnya. (mas/hn)