SDN Kandangsapi 2 yang Sudah Menerapkan Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya

MEDIA BELAJAR: Panji Kusumah saat memberikan materi pelajaran tentang manfaat energi matahari pada siswa kelas IV. Penerapan PLTS di sekolah itu, juga dijadikan media belajar. (Foto: Moch. Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Listrik telah menjadi kebutuhan wajib dalam sebagian besar aktivitas manusia saat ini. Tak hanya di lingkungan industri, rumah tangga, juga di sekolah. Semakin tinggi kebutuhannya, semakin besar biaya yang mesti dikeluarkan. SDN 2 Kandangsapi pun menyiasati kebutuhan listrik dengan memanfaatkan tenaga matahari.

TAK terlampau sulit menemukan lokasi SDN 2 Kandangsapi. Berada di tepi jalan nasional, yakni Jalan Veteran, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan. Dari seberang jalan pun, terlihat papan berwarna merah marun bertuliskan “SD Negeri Kandangsapi 2”.

Pagi itu, saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi sekolah tersebut, halaman sekolah masih dipenuhi wali murid. Waktu menunjukkan pukul 10.00, sebentar lagi siswa-siswi kelas 1, pulang. Pada pekan pertama masuk sekolah itu, murid baru memang masih banyak ditunggui orang tuanya.

Sementara dari beberapa kelas, riuh rendah sesekali terdengar. Di kelas yang lain, puluhan siswa tengah mengikuti pelajaran dengan tenang.

Sekilas, suasana di sekolah itu memang sama sekali tak berbeda dengan yang lain. Kalaupun ada, yang mencolok yaitu dua papan berukuran persegi yang terletak di atap bangunan gedung ruang guru. Papan berwarna biru itu memiliki motif kotak-kotak putih.

Bukan papan biasa. Di dua papan itulah tersimpan energi tenaga surya atau matahari. Itu, merupakan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau solar cell. Satu di antaranya berkapasitas 50 Watt peak telah terpasang sejak tiga tahun silam. Yaitu, sejak 2016.

PLTS yaitu teknologi yang mengubah panas matahari menjadi listrik. Cara kerjanya, panel akan menangkap energi panas dari matahari. Energi yang terserap melalui panel itu mengalir ke alat yang disebut kontroler. Tersimpan dalam kotak baja di salah satu sudut ruang guru.

Kontroler lantas menstabilkan energi yang tersimpan sebelum dialirkan ke aki untuk kembali menyimpan energi yang telah stabil. Arus listrik yang dihasilkan yakni direct current (DC).

“Kalau untuk menyalakan sound buat rapat, upacara, atau senam sudah cukup. Tapi, kalau dipakai untuk menyalakan lampu harus arus AC,” kata Panji Kusumah, guru kelas IV di sekolah itu yang juga mengoperasikan PLTS.

Nah, untuk mengubah arus itu harus menggunakan inverter. Namun, dengan kapasitas panel 50 watt peak, tak cukup untuk menahan beban listrik yang tinggi.

Karena itu, belum lama ini sekolah memasang instalasi panel dengan kapasitas 200 watt peak. Empat kali lipat dibanding sebelumnya.

“Kalau yang 200 watt peak itu sudah bisa digunakan untuk lampu di enam kelas yang ada. Masing-masing kelas bebannya 30 watt,” ungkapnya.

Tak hanya itu, pihak sekolah juga memanfaatkan listrik tenaga surya itu untuk keperluan rapat, senam, dan upacara. “Makanya yang panel 50 watt peak rencananya akan difungsikan untuk sirkulasi air di kolam yang ada di taman sekolah,” tambah Panji.

Kepala SD Negeri Kandangsapi 2 Abdul Malik mengungkapkan, penggunaan panel pembangkit listrik tenaga surya itu bukannya tanpa alasan. Pihaknya ingin agar lingkungan sekolah memenuhi beberapa unsur yang ditetapkan pemerintah. Yakni, SEKAM (sampah, energi, keanekaragaman, air, makanan sehat).

LEBIH HEMAT: Semenjak menerapkan PLTS, biaya listrik di SDN Kandangsapi 2 dinilai lebih irit. (Foto: Moch. Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Salah satunya juga untuk memenuhi unsur energi. Listrik tenaga surya ini sudah menjadi tren dunia. Karena lebih ramah lingkungan,” ucapnya.

Setali tiga uang, keberadaan PLTS itu juga menjadi media pembelajaran bagi siswanya. Terutama bagi siswa kelas IV yang sudah mendapatkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

“Jadi, kami jelaskan bagaimana prosesnya mulai dari tangkapan energi panas dari panel, kemudian perubahannya, hingga menjadi arus listrik. Anak-anak bisa belajar dengan melihat contohnya langsung,” kata Panji yang mengajar kelas IV itu.

Selain itu, ada pula keuntungan lain yang didapat selama menerapkan PLTS yakni ekonomis. Ya, pengeluaran biaya listik memang menjadi berkurang dibanding sebelumnya. Meski teknologi itu juga tak bisa digolongkan murah.

“Memang lebih irit, itu sudah terasa sejak diterapkannya panel. Biasanya beban listrik per bulannya sampai Rp 800 ribu, sekarang sekitar Rp 500 ribu. Irit Rp 300 ribu per bulan. Dan ini sifatnya kan jangka panjang. Karena sumber energinya matahari dan itu melimpah,” tandas Panji. (tom/fun)