Aliansi Mahasiswa Lurug Kantor Bupati, Desak Pemerintah Atasi Sengketa Lahan

TEATRIKAL: Aksi mahasiswa di depan Pendapa Kabupaten Pasuruan di Jalan Alun-alun Timur. Dalam aksi Rabu (18/7) tersebut, mereka meminta agar pemerintah segera menyelesaikan persoalan sengketa antara warga di wilayah timur Kabupaten Pasuruan dengan TNI AL. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PASURUAN – Puluhan mahasiswa melurug kantor Bupati Pasuruan di Jalan Hayam Wuruk, Rabu (18/7). Mereka mendesak pemerintah sengketa lahan antara warga dengan TNI AL di Alastlogo, Lekok segera diselesaikan.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, massa tiba sekitar pukul 13.00 dan langsung berkerumun. Beberapa diantaranya membawa poster berisi tuntutan. Ada juga diantara massa yang menyatakan diri dalam Aliansi Mahasiswa Pasuruan itu yang berpakaian ala petani.

Mereka kemudian menggelar aksi teaterikal guna menggambarkan kondisi warga sekitar Alastlogo yang tengah berhadapan dengan TNI AL. Pintu gerbang pendapa sudah ditutup rapat. Sejumlah petugas Satpol PP dan kepolisian berjaga didepannya. Kali ini massa mulai berorasi.

Musa, salah seorang orator dalam aksi tersebut mengatakan ketidaktenangan warga sekitar Alastlogo selama ini. Kondisi itu berlangsung sejak lama lantaran lahan yang mereka tempati kini menjadi obyek sengketa dengan Kolatmar TNI AL Grati.

“Sengketa ini sama sekali tidak mengundang perhatian dari pemerintah daerah. Kami meminta agar Bupati tidak diam dengan kondisi rakyatnya saat ini,” katanya.

Ia juga menyinggung sejumlah nominasi penghargaan yang diterima Pemkab Pasuruan selama ini. Terutama penghargaan dari Menkumham dengan nominasi Kota Peduli HAM.

“Prestasi ini justru merupakan ironi karena yang terjadi di lapangan, justru ditemukan pelanggaran HAM yang jelas-jelas bertentangan dengan UU tentang HAM,” tegasnya.

Asisten 1 Pemkab Pasuruan, Syaiful Wijaya yang didampingi Kepala Bakesbangpol, M Zainuddin kemudian keluar untuk menemui massa. Massa diminta menunjuk 10 perwakilan dari mereka guna menggelar audiensi. Hal itu tak diindahkan. Massa mendesak agar Bupati Pasuruan menemui mereka.

MINTA KETEGASAN: Dalam aksi mahasiswa, mereka ngotot untuk bertemu Bupati Pasuruan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Anang menyampaikan jika saat ini Bupati sedang dinas luar. Sehingga aspirasi massa dapat ditampung lebih dulu dalam audensi. Massa tetap bersikeras menolak permintaan audiensi.

Proses negosiasi itu berlangsung alot. Bahkan sejumlah anggota kepolisian yang ada di lokasi untuk turun tangan. Polisi mengajak perwakilan massa mengikuti audiensi. Namun kembali ditolak. Anang dan Zainuddin meninggalkan lokasi.

Sekitar pukul 15.00, Zainuddin kembali menemui massa. Ia menegaskan jika massa memaksa untuk menemui Bupati, tidak memungkinkan. Zainuddin lantas meminta massa untuk berkirim surat untuk menemui Bupati di lain hari.

“Silahkan kirim surat nanti kami buatkan nota dinas ke Pak Bupati untuk diagendakan pertemuan. Namun dengan syarat hanya perwakilan 10 orang,” ujarnya.

Massa lalu meminta Zainuddin berkomitmen dengan pernyataannya. Sehingga pertemuan dengan Bupati dapat benar-benar terlaksana. Zainuddin lalu meminta massa mengirimkan surat secepatnya.

“Nanti Bupati yang akan menentukan waktunya. Kami hanya menyampaikan nota dinas,” tambahnya. Massa pun membubarkan diri dengan ancaman agar pertemuan itu dapat digelar dalam kurun waktu maksimal dua pekan kedepan.

“Jika tidak ada jawaban sampai dua minggu, kami akan datang lagi dengan massa yang lebih banyak,” teriak seorang massa. (tom/fun)