Ada 93 Lembaga SD Negeri di Kab Probolinggo Minim Siswa

KRAKSAAN- Tidak semua sekolah di Kabupaten Probolinggo mendapatkan murid yang banyak. Buktinya, sebanyak 93 lembaga Sekolah Dasar Negeri (SDN) memiliki jumlah siswa yang sedikit. Bahkan, mulai kelas satu hingga kelas enam jumlah siswanya tidak kurang dan tidak lebih dari 15 siswa.

Jumlah sekolah yang minim siswa tersebut, bervariasi. Ada yang satu kelas hanya berisikan 15 siswa.

Seperti yang terjadi di SDN 3 Jorongan. Di Sekolah ini, siswanya tak lebih hanya 15 orang. Itu mulai kelas satu hingga kelas enam. Jika di rinci, untuk kelas 1 hanya berjumlah 1 siswa, kelas dua 2 siswa, kelas tiga 2 siswa, kelas empat 4 siswa, kelas lima 4 siswa dan kelas 6 dua siswa. Jika ditotal semuanya sekitar 15 siswa.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo Dewi Korina membenarkan hal itu. Menurutnya, siswa di SDN 3 Jorongan memang sangat sedikit. Karenanya, Kedepan Sekolah tersebut akan dimerger dengan sekolah terdekat di daerah itu.

“Iya memang benar. Di SDN 3 Jorongan jumlah siswanya sedikit, ” ungkapnya.

Hal itu dikarenakan terlalu banyak sekolah di Kabupaten Probolinggo. Sehingga, jumlah siswa yang masuk sekolah setiap tahun, semakin sedikit. Sehingga, masivnya pembangunan sekolah pada masa lampau, dampaknya terasa saat ini yaitu terjadi penurunan siswa.

“Mungkin KB di Kabupaten Probolinggo sukses ya. Jadi siswanya menurun. Dan dulu memang banya membangun sekolah. Seiring jumlah anak anak yang menurun, maka sekolah tidak terisi, ” ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Dewi itu menuturkan, menyikapi hal itu kedepan pihaknya akan memberlakukan sekolah rangkap dan merger. Sejauh ini sekolah rangkap di daerahnya sudah mulai diberlakukan. Contohnya seperti yang ada di daerah Sukapura.

“Kedepan seperti itu. Jadi sekolah yang muridnya sedikit akan kami merger dengan sekolah disebelahnya,” terangnya.

Untuk sekolah rangkap sendiri, pihaknya harus menyiapkan guru khusus. Dimana guru itu bisa mengajar dua kelas sekaligus. Praktiknya tidak mudah. Butuh keterampilan khusus untuk mengajar sekolah rangkap.

“Sekolah rangkap itu butuh proses. Tetapi kedepan kami akan menjalankan itu. Sehingga bisa menjadi solusi bagi sekolah yang muridnya sedikit,” terangnya. (sid/fun)