Wow.. Segini Besar Upah Kurir Sabu-Sabu asal Prigen  

PRIGEN- Seorang kurir sabu-sabu diamankan Buser Polsek Prigen, Polres Pasuruan. Dia adalah Lasiman, 35, warga Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Darinya, polisi mengamankan sabu-sabu seberat 40,77 gram. Ia mengaku menjadi kurir dengan upah Rp 500 ribu sekali antar.

Lasiman diamankan polisi ketika berada di depan sebuah toko di Dusun Dayu, Desa Dayurejo, Rabu (17/7), sekitar pukul 20.00. “Pelaku setiap harinya tukang gergaji kayu di kampungnya. Ternyata dia nyambi menjadi kurir,” ujar Kapolsek Prigen Iptu Slamet Wahyudi.

Saat penangkapan berlangsung, pelaku tak curiga akan keberadaan tim Buser. Sehingga, petugas dengan mudah menangkapnya. “Penyelidikan hanya beberapa hari terakhir. Saat terindikasi pelaku bergerak mau mengantarkan sabu ke pengedar, seketika itu langsung kami amankan,” ujarnya.

Kini, tersangka dan barang buktinya diamankan di Mapolsek Prigen. Lasiman disangka melanggar pasal 112 ayat (2) UU RI 35/2009 tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman minimal lima tahun penjara. “Dia mengaku dapat barang dari seorang bandar berinisial D, asal Prigen,” ujar Slamet.

Setelah dibekuk polisi, Lasiman mengaku menyesal dengan perbuatannya. Ia mengaku baru dua pekan terakhir menjadi kurir sabu-sabu. “Dalam dua pekan, mengirim barang berupa sabu sudah lima kali. Kirim kepada pengedar di Prigen dan kecamatan lain,” ujarnya.

Ia mengaku, mendapatkan barang haram itu dari seorang bandar berinisial D asal Prigen. Seorang bandar ini baru pulang dari penjara dan residivis kasus narkoba. Darinya, Lasiman mengatakan, dari bandar kepada pengedar, setiap gram sabunya dijual seharga Rp 900 ribu sampai Rp 1 juta. “Setiap kirim sabu, saya dapat imbalan Rp 500 ribu dari D,” ujarnya.

Meski dengan sang bandar sudah saling kenal, Lasiman mengaku setiap kali transaksi atau dapat order menjadi kurir tak sampai ketemuan. Dia hanya mendapatkan perintah melalui pesan singkat. Tempat mengambil barang pun berpindah-pindah.

Kadang di sekitaran Prigen, bahkan pernah harus diambil ke Malang. Letaknya pun tak tentu. Bisa di parit, tong sampah, dan tempat lainnya. “Modusnya pakai sistem ranjau. Tidak sampai bertemu dengan bandar. Hanya mengambil sabu, kemudian mengantarkannya ke pengedar atau pemesan barang,” ujarnya. (zal/rud)