Begini Harapan Masyarakat Probolinggo soal Revitalisasi Alun-Alun

Alun-Alun Kota Probolinggo akan segera direvitalisasi tahun ini. Berbagai masukan dari masyarakat pun muncul untuk melengkapi fasilitas publik di alun-alun. Seperti, menambah fasilitas untuk kegiatan fisik pengunjung. Juga tak perlu ada wifi.

———–

Suasana Alun-alun Kota Probolinggo Minggu (14/7) pagi itu ramai dikunjungi ribuan warga. Ada yang sengaja datang untuk sekedar jalan-jalan di alun-alun. Ada juga yang berjalan-jalan di Pasar Minggu.

IKON: Konsep revitalisasi nanti akan berbeda dengan kondisi yang sekarang. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Tiap hari Minggu, di sekitar Alun-alun Kota Probolinggo memang digelar Pasar Minggu. Sebanyak 500 lebih pedagang berjualan di sana dengan pengunjung ribuan.

Rata-rata pengunjung yang datang ke alun-alun saat akhir pekan adalah keluarga. Baik orang tua dengan anak-anaknya, ada juga kakek-nenek beserta cucunya. Ada juga remaja-remaja yang datang bersama teman-temannya. Tapi, jumlahnya lebih sedikit daripada pengunjung keluarga.

Namun dalam waktu dekat, Alun-alun Kota Probolinggo untuk sementara tidak bisa digunakan untuk kegiatan keluarga dan hiburan. Taman Kota ini akan direvitalisasi.

Rencananya, Pemkot Probolinggo merenovasi alun-alun dengan konsep terbuka. Yaitu, tanpa pagar. Bahkan, Wakil Wali Kota Probolinggo Moch Soufis Subri ingin mengembalikan fungsi alun-alun sebagai hutan kota. Sehingga, alun-alun tidak lagi digunakan untuk tempat upacara.

Jika sesuai dengan rencana, revitalisasi alun-alun itu akan mulai dilakukan Agustus. Saat ini proyek itu sudah masuk tahapan lelang.

Rencana itu pun relatif banyak diketahui pengunjung alun-alun. Terutama mereka yang biasa memanfaatkan alun-alun untuk tempat rekreasi atau sekadar bersantai. Seperti Guntur Hariman, 60, warga Mayangan, Kota Probolinggo.

“Dengar-dengarnya memang mau direvitalisasi ini alun-alun. Malah Semipro ini tidak akan digelar di alun-alun karena alun-alunnya akan direvitalisasi,” ujar Guntur.

Guntur mengungkapkan, selama ini alun-alun saat malam hari kerap disalahgunakan anak-anak muda untuk tempat pacaran. Ada juga anak-anak muda yang memakainya untuk tempat minum-minuman keras.

Karena itu, baginya, lebih baik alun-alun dibangun terbuka. Sesuai dengan konsep yang direncanakan Pemkot Probolinggo. Sehingga, orang luar bisa ikut mengawasi pengunjung alun-alun. Dengan demikian, penyalahgunaan alun-alun bisa diminimalisasi.

“Seperti alun-alun di Malang itu, tidak ada sekat. Jadi orang-orang bisa ngawasi aktivitas di dalam alun-alun,” ujarnya.

Guntur juga menyarankan kepada Pemkot Probolinggo agar tidak perlu memasang fasilitas seperti wifi di alun-alun. Alasannya, agar pengunjung alun-alun bisa fokus dengan aktivitas di alun-alun.

“Kalau ada wifi, anak-anak yang suka main game di HP bisa puas mainan HP. Bukan malah beraktivitas fisik di alun-alun,” ujarnya.

Padahal, seharusnya tempat publik seperti alun-alun digunakan untuk aktivitas fisik. Bisa juga digunakan untuk tempat orang berinteraksi lebih dekat dengan orang. “Bukan untuk bermain gadget di alun-alun,” tambahnya.

Yayuk Susanti, 40, warga yang lain berharap, ada tambahan fasilitas permainan anak-anak di alun-alun. Apalagi, beberapa alat permainan yang ada saat ini sudah rusak.

“Untuk alat permainan anak baiknya ditambah. Kalau bisa juga ada alat untuk olahraga seperti di Taman Maramis. Jadi, yang dewasa bisa sekalian olahraga. Sementara yang anak-anak bisa bermain,” ujarnya.

Warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran ini setuju jika di ruang terbuka hijau seperti alun-alun tidak perlu ada wifi. Sebab, dengan adanya wifi justru menghambat orang untuk berinteraksi dengan orang lain.

“Kalau ada wifi di alun-alun, anak-anak lebih senang main gadget karena ada wifi gratis. Ini yang buat anak-anak malas untuk main dengan alat permainan di luar ruangan. Apalagi sekarang anak-anak banyak yang kecanduan game,” ujarnya.

Akan lebih baik, menurutnya, fasilitas di alun-alun setelah renovasi bisa menggugah anak-anak atau pengunjung untuk lebih aktif di luar ruangan. Bisa bertemu dengan orang lain atau bermain dengan binatang.

“Untuk sekarang sebenarnya sudah nyaman dengan banyak pohon yang teduh. Yang perlu ditambah itu fasilitas yang mendukung aktivitas fisik di alun-alun,” ujarnya. (put/fun)