Ribuan Pembudidaya Ikan Tak Dapat Kusuka, Tahun Ini Hanya 118 Orang

DRINGU – Di Kabupaten Probolinggo, setidaknya ada sekitar 1.654 pembudidaya usaha kelautan. Namun, hanya 118 pembudidaya yang mendapatkan Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (Kusuka) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi mengatakan, Kusuka diterbitkan oleh KKP. Dalam rangka perlindungan dan pemberdayaan pelaku usaha, percepatan pelayanan, dan peningkatan kesejahteraan. Serta, menciptakan efektivitas dan efisiensi program pemerintah dalam pendataan kepada pelaku usaha agar tepat sasaran.

“Kusuka berfungsi sebagai identitas profesi pelaku usaha di bidang kelautan dan perikanan. Supaya memudahkan perlindungan dan pemberdayaan, pelayanan, dan pembinaan kepada pelaku usaha di bidang kelautan perikanan. Serta, sarana pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program kementerian,” jelasnya.

Dedy menjelaskan, secara keseluruhan jumlah pembudidaya di Kabupaten Probolinggo mencapai 1.654 orang. Namun, tahun ini baru 118 pembudidaya yang mendapatkan Kusuka. Sisanya akan diterbitkan secara bertahap dalam setiap tahunnya.

“Kusuka merupakan kartu usaha kelautan dan perikanan digunakan sebagai identitas tunggal pelaku usaha kelautan dan perikanan. Kusuka ini nantinya terintegrasi dengan semua kegiatan di pusat. Termasuk asuransi, syaratnya harus mempunyai Kusuka,” ujarnya.

Kusuka, kata Dedy, berfungsi sebagai kartu anjungan tunai mandiri (ATM). Sehingga, berfungsi ganda. Dengan demikian, para pembudidaya harus mempunyai buku tabungan. “Kusuka ini bisa menjadi ATM dan bukti identitas budi daya perikanan. Kartu ini berlaku selama menjadi pembudidaya dan diperpanjang setiap 5 tahun sekali,” ujarnya.

Lebih lanjut Dedy mengatakan, penyerahan Kusuka bertujuan lebih kepada identitas para pembudidaya untuk mendapatkan semua program Pemerintah Pusat. Sehingga, bila pembudidaya tidak memiliki Kusuka, nantinya tidak bisa mengakses program bantuan dan kegiatan dari Pemerintah Pusat.

“Harapannya, para pembudidaya lebih bisa memanfaatkan dan lebih familiar dengan bank. Karena semua transaksi dilakukan melalui perbankan. Dengan adanya Kusuka, pembudidaya lebih terdeteksi dan terc-over. Sehingga, kami tidak salah langkah mengambil kebijakan,” ujarnya. (mas/fun)