Rokok Ilegal Berpotensi Rugikan Negara Rp 1,7 M, Bea Cukai Pasuruan Sudah Sita 1,7 Juta Batang

BANGIL – Peredaran rokok ilegal di Kabupaten Pasuruan sampai awal Juli lalu tercatat cukup tinggi. Berdasarkan data Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Pasuruan, sudah ada 17 penindakan yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 1,745 Miliar.

SUMBER PEMASUKAN: Pelayanan cukai di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Pasuruan beberapa waktu lalu. (Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Edi Budi Santoso, Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi di Kantor PPBC Pasuruan mengatakan, sejak Januari sampai 10 Juli, peredaran rokok ilegal di Kabupaten Pasuruan cukup tinggi. Dalam kurun waktu itu, ada 17 penindakan. Dan dari penindakan itu, ada 1.728.967 batang rokok ilegal yang disita.

“Dalam 17 penindakan tersebut tak hanya menyita 1.728.967 batang rokok, tapi juga menyita 224.064 lembar pita cukai palsu. Jumlah tersebut mengakibatkan kerugian negara hingga Rp 1,745 Miliar,” terangnya.

Berdasarkan pengawasan yang dilakukan pihaknya, untuk produsen rokok ilegal ini posisinya di luar Kabupaten Pasuruan. Namun, produknya disita di Kabupaten Pasuruan.

Biasanya, produk rokok ilegal ini ditemukan saat dijual di warung atau saat di distributor sebelum dipasarkan. Kantor Bea Cukai pun terus melakukan mengawasan peredaran rokok ilegal. Tujuannya, mempersempit peredarannya. Sehingga, tidak semakin merugikan negara.

Dijelaskan Edi, rokok ilegal adalah rokok yang melanggar ketentuan untuk dijual bebas ke masyarakat. Seperti rokok tanpa pita cukai, atau rokok dengan pita cukai palsu, termasuk rokok dengan pita cukai bekas.

Naiknya tarif pita cukai tiap tahun, membuat ada produsen yang berbuat curang. Seperti, enggan membayar pita cukai, tapi tetap memproduksi rokok.

Rokok ilegal sendiri menurut Edi, secara fisik mirip dengan rokok lega. Bungkus atau kemasan dan kerapiannya, mirip dengan rokok legal. Namun setelah diselidiki, ada yang pita cukainya tidak ada. Sehingga termasuk rokok ilegal.

“Jadi dari kemasan sama persis dengan rokok legal. Ada bungkusnya ada mereknya. Tapi setelah diselidiki ternyata rokok ilegal,” ungkapnya.

Walau kemasannya mirip, harga jual rokok ilegal jauh lebih murah. Satu bungkus yang berisi 12-16 batang, harganya hanya Rp 4-5 ribu. Sementara harga rokok legal, di atas Rp 15 ribu. Karena murah itulah, masyarakat banyak yang tertarik membeli rokok ilegal. (eka/fun)