Kota-Kabupaten Probolinggo Gagal Capai Target Porprov Jatim VI, Ini Penyebabnya

PROBOLINGGO – Pekan olahraga provinsi (porprov) Jatim VI resmi ditutup, Sabtu malam (13/7). Capaian kontingen Kota dan Kabupaten Probolinggo jauh dari target yang diusung.

TARGET LUPUT: Kontingen Kota Probolinggo saat opening ceremony Porprov Jatim ke VI di Lamongan, Sabtu malam (6/7). (Dok. Radar Bromo)

Gelaran Porprov 2019 yang digelar di empat daerah tahun ini jadi catatan bagi dunia olahraga Kota dan Kabupaten Probolinggo. Sebab, dua daerah itu sama-sama mengalami penurunan performa bila dibanding penyelenggaraan porprov sebelumnya di Banyuwangi.

Koni Kabupaten Probolinggo yang pada Porprov 2015 nangkring di peringkat 25, sampai tadi malam pukul 19.05, melorot di peringkat ke-29. Capaian medali juga menurun. Bila pada porprov sebelumnya raih 9 emas, 3 perak dan 7 perunggu, kali ini hanya meraih 3 emas, 6 perak dan 9 perunggu.

Tiga medali emas itu didapat dari 2 cabang olahraga. Yakni anggar (1 emas) dan Muaythai (2 emas). Padahal KONI setempat awalnya menargetkan ada 10 cabor yang meraih emas. Yakni dari Anggar, atletik, balap sepeda, bulu tangkis, muaythai, paralayang, taekwondo, tarung derajat, tinju dan wushu.

Sugeng Nufindarko, Ketua KONI Kabupaten Probolinggo mengatakan, meskipun tidak memenuhi target, namun pihaknya tidak kecewa sama sekali. Menurutnya, hasil tersebut merupakan perjuangan para atlet. “Meskipun hasil jauh dari target, tetapi ini adalah buah kerja keras dari pada para atlet yang telah susah payah untuk mencapainya,” ujarnya.

Menurutnya ada dua faktor yang menjadi evaluasinya. Salah satunya yaitu dari faktor internal. Target yang diusung kali ini tidak terpenuhi karena kaderisasi atlet terputus. “Untuk kedepan akan kami benahi lagi. Sehingga pengkaderan untuk mencetak atlet yang berbakat bisa kami lakukan. Itu, juga untuk persiapan porprov selanjutnya pada 2021 mendatang,” ujarnya.

Sementara faktor eksternal, disebutkan Sugeng karena ada atlet Puslatda yang diikutkan. “Seperti pada pertandingan muaythai itu. Seharusnya kami dapat tiga emas, tetapi karena ada atlet puslatda yang dihadapi, jadi hanya dapat dua (medali emas). Kami sendiri tak menurunkan atlet puslatda. Sebab, kami menaati aturan,” jelasnya. Kondisi tak jauh berbeda juga dialami Kota Probolinggo. Capaian kota mangga juga tak memenuhi target pada porprov kali ini. Peringkat Kota Probolinggo juga melorot bila dibanding pada porprov di Banyuwangi.

Siswadi, Ketua Koni Kota Probolinggo mengatakan, pihaknnya tidak merasa kecewa meskipun target enam emas tidak didapat. Ia menjelaskan, kedepan pihaknya akan memperbaikinya lagi. “Kami tidak kecewa. Hasil ini adalah kerja keras dari pada para atlet,” ungkapnya.

Siswadi menjelaskan, tidak terpenuhinya target yang telah ditentukan itu karena persaingan di arena saat ini kian ketat. Menurutnya, salah satu faktor yang membuat atletnya kalah bersaing, juga dipenuhi kelengkapan sarana dan prasarana (sarpras).

“Persaingan diarena sangat ketat. Sehingga para atlet itu tidak fokus seperti saat latihan. Juga sarana dan prasarana memadai. Karena itu ke depan kami akan berupaya melengkapi sarana dan prasarana yang ada di daerah kami,” tandasnya. (sid/mie)