Harga Garam Belum Normal lantaran Digempur Pasokan Impor

PANEN: Petani tambak garam di wilayah Panggungrejo menggarap lahannya. Adanya impor garam turut mempengaruhi harga di pasaran. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PASURUAN – Pemkot Pasuruan belum merumuskan formula kebijakan yang tepat sebagai solusi atas anjloknya harga jual garam. Hal itu dikarenakan menurunnya harga garam saat ini juga terjadi hampir di seluruh daerah.

Kabid Budidaya Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Imron Rosadi mengaku pihaknya telah berkonsultasi dengan Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Pihaknya juga menyampaikan kondisi harga garam yang dihasilkan petani garam di Kota Pasuruan.

Namun, pertemuan yang digelar dengan sejumlah daerah itu juga tak menghasilkan solusi berarti. “Hasil rapat di Surabaya kemarin memang diketahui bahwa turunnya harga garam yang begitu drastis tahun ini terjadi di semua daerah,” kata Imron.

Menurutnya, harga jual garam dari petani tahun ini memang cukup rendah. Berkisar hingga Rp 700 per kilogram. Tentu saja harga itu menurun separo dari harga normal yang mencapai Rp 1.500 per kilogram. Itu pun harga bruto. Sedangkan harga bersihnya, petani garam hanya mendapatkan sekitar Rp 450 per kilogram.

“Jadi memang hampir semua petani garam mendapat harga jual yang cukup murah dibandingkan musim panen sebelumnya,” tambah dia.

Dia menjelaskan, menurunnya harga garam saat ini terjadi sesuai dengan hukum pasar. Dimana stok garam ditangan suplier cukup melimpah. Begitupun dengan garam yang diproduksi petani garam di Kota Pasuruan. Stok garam saat ini cukup banyak.

“Ditambah lagi dengan pasokan garam impor yang merebak di pasaran. Sehingga stok garam di pasaran cukup banyak. Ini yang sedang terjadi. Dengan permintaan yang tetap, namun jumlah barang banyak sehingga mempengaruhi harga,” bebernya.

Kata Imron, Dinas Perikanan juga telah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat mencari solusi atas persoalan ini. “Namun memang karena persoalan ini sifatnya nasional, jadi kami pun menunggu adanya kebijakan dari pusat,” ujarnya.

Sejumlah petani garam di Kota Pasuruan akhirnya memilih untuk menimbun garam yang dipanen selama harga jual masih lesu. Mereka hanya menjual sebagian dari hasil panen untuk menutup biaya produksi. (tom/fun)