Cerita Ribut Efendi, Perajin Lampion Benang di Kota Probolinggo

Berbekal balon plastik, lem, dan benang serta video dari YouTube, Ribut Efendi belajar membuat lampion hias. Bahannya yang sederhana dan mudah didapat ini, menarik minat pelajar untuk belajar membuat kerajinan tangan yang unik.

 RIDHOWATI SAPUTRI, Kanigaran

Sepanjang Jalan Gubernur Suryo Kota Probolinggo, tampak padat dengan permukiman warga. Terutama di dekat persimpangan antara Jalan Gubernur Suryo dengan Jalan Cokroaminoto.

Namun, ada salah satu bangunan yang menarik perhatian warga yang melintas. Selain bangunan tersebut menjual bensin, di dalam bangunan semipermanen terdapat beberapa hiasan gantung berwarna-warni.

Ada enam hiasan warna-warni yang digantung. Serta, 10 hiasan karakter yang ditempatkan di dinding.

Di tempat itu tampak sosok laki-laki paro baya yang juga pemilik bangunan semipermanen. Dia adalah Ribut Efendi, 55, warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran.

Siang itu, dia sibuk mengisi bensin ke botol-botol yang telah disiapkannya. Ribut kemudian menceritakan awal mula membuat usaha lampion hias ini.

Pembuatan lampion ini dilakukannya sejak tahun 2015. Tepat setelah dirinya pensiun sebagai kondektur bus.

“Saya sebelumnya kerja jadi kondektur di AKAS. Kemudian pensiun dengan dapat pesangon Rp 10 juta. Itu, saya jadikan modal untuk usaha,” ujarnya.

Setelah berhenti sebagai kondektur, Ribut memasang perlengkapan wifi di rumahnya. Dengan perlengkapan itu, Ribut kemudian membuka YouTube dan melihat proses pembuatan lampion dari benang.

“Dari YouTube saya belajar membuat lampion. Tapi, tidak persis sama dengan di YouTube. Saya coba-coba sendiri,” ujarnya.

Seperti penggunaan balon diganti. Jika di YouTube menggunakan balon dari bahan karet untuk cetakannya, Ribut menggantinya dengan balon dari plastik.

“Kalau balon dari karet itu mudah pecah, terutama jika yang tipis. Total lima kali saya praktik membuat lampion sampai akhirnya bisa membuat dengan cara yang sesuai,” ujarnya.

Dari praktik percobaan dan kegagalan berkali-kali inilah, akhirnya bapak dua anak ini menemukan cara yang lebih baik untuk membuatnya.

“Saya belitkan benang ke balon, kemudian dilapisi lem dan dibiarkan mengering. Kalau di YouTube, benang dicampur dalam lem baru dibelitkan di balon,” ujarnya.

Dengan panas yang terik, dalam sehari Ribut bisa membuat 10 lampion hias. Panas matahari yang cukup merupakan salah satu faktor mempercepat proses pembuatan lampion benang.

Dari keahliannya membuat lampion benang ini, Ribut juga mengajari siswa sekolah yang mendapatkan tugas prakarya. Dengan syarat membeli salah satu karya yang telah dibuatnya.

“Siswa dari SMEA itu kan mendapatkan tugas prakarya seperti ini. Dengan melihat YouTube mereka praktik, tapi berkali-kali gagal,” ujarnya.

Ribut pun menyampaikan, bahwa tidak perlu meniru persis dengan cara pembuatan di YouTube. “Tapi, harus mencoba dengan cara sendiri,” tambahnya.

Penjualan produk lampion ini bersifat musiman. Hanya saat tertentu saja laris penjualannya.

“Seperti saat bulan Agustus menjelang Agustusan. Ramai yang beli. Tahun 2018 pas Agustus sampai 100 lebih pesanan lampion,” ujarnya.

Pesanan yang datang pun cukup mendadak. Sampai akhirnya Ribut pun kewalahan menerima pesanan.

“Kalau waktunya mepet saya nggak ambil. Tapi, kalau waktunya cukup ya saya kerjakan pesanannya,” ujarnya.

Ribut mematok harga Rp 25 ribu per lampion untuk lampion standar. Namun, ini tidak dilengkapi dengan kabel dan lampu.

“Kalau lampion karakter Rp 50 ribu per buah. Saya juga ada foto contoh karakter yang bisa dipilih pembeli,” ujarnya.

Untuk membuat lampion karakter, selain menggunakan benang dan lem, juga menggunakan bahan flanel.

Sebelum bergelut dengan lampion hias, Ribut juga telah menjual kreasi hiasan berbahan gabus. Dari bahan gabus, dia menciptakan tulisan nama dan karakter yang diwarnai.

“Saya jual biasanya di acara Semarak Pagi Kecamatan (SPK). Harganya Rp 10 ribu per buah,” ujarnya.

Untuk kerajinan lampion hias ini, Ribut berharap bisa menyiapkan untuk kegiatan Semipro. Sayangnya sulit untuk menyiapkan stok saat Semipro, mengingat terbatasnya waktu. Apalagi biasanya stok sudah habis saat bulan Agustus karena kegiatan Agustusan. (hn)