Perlu Kolaborasi Masyarakat Luas untuk Gagas City Branding di Kota Pasuruan

PASURUAN РUpaya Pemkot Pasuruan untuk merealisasikan konsep city branding terus dimatangkan. Setelah memantik ide sejumlah pelaku usaha kecil menengah (UKM), Pemkot juga melibatkan semua elemen masyarakat.

Hal itu juga dibuktikan dengan Forum Group Discussion yang digelar di kantor Bappelitbangda Kota Pasuruan di Jalan Sultan Agung, Rabu (10/7). Bappelitbangda juga menggandeng konsultan branding Odigiro dan Event Organizer Jawa Pos Radar Bromo dalam mewujudkan city branding tersebut.

Sejumlah pihak dilibatkan guna bertukar pikiran dalam menggali identitas kota yang akan dimunculkan. Mulai dari perwakilan OPD, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, Kelompok Informasi Masyarakat, Generasi Berencana, tokoh-tokoh organisasi kemasyarakatan hingga kalangan mahasiswa.

Managing Director Odigiro, Ardiansyah Akbar menerangkan, city branding harus diterapkan sesuai dengan kemauan masyarakat luas. Karena itu, untuk memunculkan identitas kota juga mesti melibatkan semua elemen masyarakat.

“Jadi harus bottom-up agar diamini masyarakat. Setelah kota di-branding, masyarakat punya kesadaran dan rasa memiliki karena sama-sama dilibatkan dalam membranding daerahnya,” terangnya.

Yang tidak kalah penting, lanjut Ardiansyah, juga menggencarkan apa yang telah di-branding nanti. Hal itu merupakan tindaklanjut yang mesti dijalankan agar produk dari city branding iu diketahui khalayak.

“Optimalisasinya melalui komunikasi media. Baik media massa maupun media digital. Dan city branding ini tentu tidak hanya berhenti pada logo saja, dinas terkait nanti memiliki strategi aktivasi agar yang dihasilkan dari city branding ini terus berjalan,” ujarnya

Diskusi pun kian mencair dengan antusiasme peserta yang turut menyampaikan idenya. Sujito misalnya, yang mewakili Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kelurahan Pekuncen, menyinggung keberadaan Sungai Gembong yang membelah wilayah Kota Pasuruan.

“Keberadaan Kali Gembong itu juga bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata air di pusat kota. Kerajinan batik Gembong dan makam Mbah Darmoyudo nanti akan menjadi penunjangnya,” tuturnya.

Creative Director Odigiro, Affan Hakim menegaskan jika semua endemik di Kota Pasuruan bisa menjadi daya tarik. Meskipun dengan luas wilayah yang terbilang tidak begitu luas. Hanya sekitar 35 kilometer persegi.

Dia lantas membandingkannya dengan Kota Cannes di Prancis yang seluas 19 kilometer persegi. Namun, sebut Affan, kota itu dikemas dengan cukup apik. “Festival film menjadi magnet bagi banyak wisatawan untuk berkunjung kesana tiap tahunnya. Jadi, Kota Pasuruan juga sangat memungkinkan dikenal banyak orang dengan identitasnya yang khas,” ujarnya.

Dari hasil diskusi itu, disepakati branding Kota Pasuruan kedepan akan memunculkan hal baru. “Nanti akan diambil satu kata yang memiliki arti jamak. Brand-nya juga tidak menggunakan akronim dari beberapa kata agar lebih mengena,” tandasnya. (tom/fun)