Melihat Koleksi Museum Kabupaten Pasuruan, Bisa Jadi Wisata Edukasi

Museum Kabupaten Pasuruan resmi dibuka sejak Jumat (5/7). Museum yang berlokasi di Pandaan itu, merupakan museum pertama yang dimiliki Pemkab Pasuruan. Pengunjungnya memang masih sedikit. Namun, cukup banyak informasi yang bisa didapat di museum ini.

————-

Setelah sempat molor dan dinanti lama, Museum Kabupaten Pasuruan di Kecamatan Pandaan akhirnya beroperasi untuk umum. Lokasinya ada di tempat strategis. Yaitu, di kawasan Masjid dan Pasar Wisata Muhammad Cheng Hoo di Pandaan.

RAPI: Tata letak benda pusaka di museum Kabupaten Pasuruan yang berlokasi di wisata Cheng Hoo. (Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Itulah mengapa museum ini sempat diberi nama Museum Cheng Hoo. Namun, akhirnya diganti dengan nama Museum Kabupaten Pasuruan setelah ada petisi dari sejumlah pelaku seni di kabupaten setempat.

Senin (8/7), merupakan hari pertama atau perdana museum tersebut beroperasi. Begitu diresmikan, museum ini langsung dibuka untuk umum. Siapapun boleh datang, tanpa dipungut biaya alias gratis.

“Peresmiannya secara simbolis memang dilakukan Jumat (5/7). Namun, museum mulai beroperasi pekan ini. Ya, mulai buka hari Senin itu,” terang Kepala Pengelola Museum Kabupaten Pasuruan Eriska Varunny.

Selama awal operasi, museum buka seperti museum di daerah lain pada umumnya. Yakni, buka di hari aktif, mulai pagi hingga sore hari. Para pengunjung yang datang, diharuskan mengisi daftar pengunjung lebih dulu. Setelah itu, baru mereka bisa melihat display aneka koleksi milik museum ini.

Memang, selama ini masih sedikit pengunjung yang datang. Maklum, museum baru buka beberapa hari. Itu pun buka saat hari libur.

“Karena masih perdana, bukanya juga bersamaan dengan liburan sekolah. Jadi, pengunjungnya belum begitu banyak,” jelas Eriska.

Tiap harinya rata-rata pengunjung yang datang baru 20-50 orang. Sehingga, jika ditotal kisarannya saat ini masih ratusan orang. Sekitar 70 persen pengunjung dari sekitar Pasuruan. Sisanya dari luar daerah. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan lainnya. Bahkan juga ada dari Bandung.

Meski demikian, Eriska menyebut, museum ini bisa menjadi wisata edukasi di Kabupaten Pasuruan. Utamanya edukasi tentang sejarah yang ada di kabupaten.

Sebab, ada banyak koleksi museum yang menarik. Ada barang-barang artefak, arca, lingga, keris, tombak. Lalu, aneka keramik peninggalan Dinasti Ming. Juga terakota, batik paprika, serta masih banyak lainnya.

Barang koleksi ini didapat dari para kolektor melalui proses kompensasi. Juga dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim. Seperti, lingga, yoni, patung, arca, dan lainnya.

Yang menarik, museum ini tidak hanya berisi benda bersejarah. Namun, ada juga display aneka produk UKM dari Kabupaten Pasuruan di lantai dua.

Saat masuk, biasanya pengunjung memang langsung ke lantai satu untuk melihat koleksi benda museum. Baru setelah itu mereka naik ke lantai dua. Di sini, pengunjung bisa sekaligus berbelanja aneka produk UKM yang ada.

Sejak awal dibangun, menurut Eriska, museum memang dirancang untuk jadi tempat display produk UKM. Khususnya jadi representasi tempat display UKM di wilayah Pandaan dan sekitarnya.

Luk Ari, 55, adalah salah satu pengunjung yang datang ke museum, Rabu (10/7). Ibu rumah tangga asal Bandung, Jawa Barat, itu sedang berbelanja ke Pasar Wisata Cheng Hoo. Dia lantas menyempatkan diri berkunjung ke museum.

Menurutnya, letak museum yang berdekatan dengan pasar wisata, membuat wisatawan memang cenderung tertarik untuk masuk. Apalagi wisatawan yang sudah berbelanja, biasanya jalan-jalan untuk mencari hiburan lain.

“Kebetulan habis belanja, terus lihat museum ini. Jadi saya sempatkan untuk masuk melihat museum,” katanya.

Bagi Luk Ari, tata ruang dan dekorasi museum cukup bagus, juga menarik. Selain itu, koleksi yang di-display lumayan beragam.

“Secara umum bagus ya. Apalagi kan katanya baru dibuka. Rapi ada beberapa kekurangan. Salah satunya keterangan gambar atau sejarah yang ada kurang lengkap. Selain menggunakan bahasa Indonesia, mestinya juga ada bahasa Inggris-nya,” tuturnya.

Bahasa Inggris penting karena lokasi museum ada di tempat wisata. Sangat mungkin, pengunjung yang datang tidak hanya warga lokal. Namun, juga wisatawan mancanegara. (zal/fun)