Krisis Air Bersih Meluas, Dari 13 Desa Jadi 21 Desa

BANGIL – Krisis air bersih di Kabupaten Pasuruan meluas. Tidak lagi melanda 13 desa. Saat ini kekeringan sudah terjadi di 21 desa.

DIBANTU TNI: Pengiriman air bersih ke Desa Jeladri, Kecamatan Winongan, Selasa (9/7) oleh TNI dan CSR PIER. (Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana menyampaikan, krisis air bersih semakin meluas seiring dengan datangnya musim kemarau. Debit air yang menurun bertambah jumlahnya, sehingga jumlah warga yang kekurangan pasokan air juga makin bertambah.

“Ada tambahan delapan desa yang mengalami krisis air bersih. Tersebar di wilayah Gempol dan Lekok,” kata Bakti –sapaannya- saat ditemui di kantor DPRD Kabupaten Pasuruan, Rabu (10/7).

Bakti menambahkan, sebelumnya ada 13 desa yang terdampak kekurangan air bersih. Belasan desa itu tersebar di Kecamatan Winongan, Pasrepan, hingga Lumbang.

Untuk Kecamatan Winongan, krisis air bersih menerpa Desa Jeladri, Sumberrejo, dan Kedungrejo. Sementara di Pasrepan, melanda Desa Sibon, Desa Klakah, Petung, Ngantungan, dan Desa Mangguan. Sedangkan di Kecamatan Lumbang, ada Desa Karangasem, Karangjati, Watulumbung, Cukurguling, dan Desa Lumbang.

Sekarang, krisis air bersih bertambah di delapan desa. Meliputi Desa Balunganyar, Pasinan, Wates, dan Semedusari di Kecamatan Lekok. Untuk Gempol, menimpa Desa Wonosunyo, Bulusari, dan Desa Jerukpurut. Kemudian, Grati yaitu Desa Karanglo.

Delapan desa itu pun sudah mengajukan permintaan air bersih. Namun, ditegaskan Bakti, kondisi delapan desa itu belum benar-benar kekeringan.

“Jadi, belum benar-benar kekeringan. Namun, sudah mulai berkurang debit airnya. Desa lantas melaporkan ke Camat setempat dan diteruskan ke kami,” terangnya.

BPBD menurutnya, tetap akan melakukan assessment pada delapan desa itu. Dan, saat delapan desa itu sudah ditetapkan mengalami bencana kekeringan, maka air bersih akan rutin dikirim. Kemungkinan, menurutnya, pada minggu depan atau minggu ke tiga bulan Juli, desa yang dikirim air bersih akan bertambah jumlahnya.

Artoyo, kades Semedusari, Kecamatan Lekok mengatakan, debit air memang mulai menurun. Terutama di Dusun Asem Sepuluh yang berada di pucuk gunung.

“Memang debit air sudah berkurang. Sehingga, ketersediaan air dengan pompa bisa sedalam 30 meter,” terangnya.

Desa sendiri sudah beberapa kali dikirimi air bersih oleh PMI. Namun, masih ada sebagian warga yang harus membeli untuk mendapatkan air.

“Desa juga sudah mengajukan pengiriman air untuk bisa mendapatkan pengiriman air bersih secara rutin,” pungkasnya.

Sementara itu, sejak awal Juli, BPBD Kabupaten Pasuruan rutin mengirim air bersih ke 13 desa di 3 kecamatan yang krisis air bersih lebih awal. BPBD bahkan menggandeng intansi lain seperti TNI dan CRS perusahaan.

Pengiriman air bersih misalnya, dilakukan di Desa Jeladri, Kecamatan Winongan, Selasa (9/7). Muhamad Nurtinggal, kades Jeladri mengatakan, debit air mulai berkurang sejak Mei.

“Sehingga, sudah mulai banyak permintaan air bersih dari masyarakat. Sebab, saat ini tandon air sudah kering sekali,” terangnya.

Dandim 0819 Pasuruan Letkol Arh Burhan Fajari Arfian menyampaikan, pihaknya bersama CSR PT PIER sudah rutin mengirim air bersih ke daerah yang krisis air bersih. Selasa misalnya, ada tiga desa yang dikirim air bersih. Yaitu, Desa Jeladri, Sumberrejo, dan Kedungrejo di Kecamatan Winongan.

“Jadi, rutin tiap hari kami mengirim air bersih ke tiga desa. Desa yang kebagian kiriman air bersih digilir,” jelasnya.

Menurutnya, pengiriman air bersih ini adalah upaya untuk membantu masyarakat di Kabupaten Pasuruan yang membutuhkan. Apalagi ada 23 desa di delapan kecamatan yang berpotensi kekeringan pada musim kemarau tahun 2019 ini.

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana menegaskan, air bersih rutin dikirim ke 13 desa di 3 kecamatan yang tercatat mengalami krisis air bersih lebih awal. Sementara saat ini, krisis air bersih meluas ke delapan desa.

Ditegaskannya, kekeringan biasanya tidak terjadi secara menyeluruh di sebuah desa. Namun, hanya terjadi di beberapa dusun yang posisinya jauh dari sumber air.

BPBD memprediksi, puncak musim kemarau terjadi pada Agustus. Sehingga, bisa jadi kekeringan akan terus meluas.

“Karena itu, kami juga koordinasi dengan instansi lain untuk mengirim air bersih. Seperti PMI, Dinsos, Dinas PU Cipta Karya dan Kawasan Permukiman, TNI, dan CSR perusahaan,” ujarnya. (one/eka/fun)