Harga Cabai Melejit, Begini Nasib Pedagang Mamin di Probolinggo

KANIGARAN – Cabai rawit merupakan bahan baku yang banyak digunakan pedagang makanan, terutama pedagang kaki lima (PKL). Dengan naiknya harga cabai yang mencapai Rp 50 ribu per kilogram, berdampak pada modal mereka.

Karenanya, sejumlah pedagang makanan di Kota Probolinggo memilih mengurangi penggunaan cabai rawit. “Sejak seminggu ini cabai rawit memang saya kurangi. Tetap pakai cabai rawit, tapi tidak sebanyak biasanya. Mahal sekali,” ujar salah seorang pedagang bakso di Kelurahan/ Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Bahir, 40.

Jika biasanya untuk sambal saja menghabiskan setengah kilogram cabai rawit dicampur setengah kilogram cabai merah besar, Bahir hanya menggunakan seperempat cabai rawit. “Seperempat kilogram cabai rawit ini sudah kena Rp 15 ribu. Supaya tidak berkurang pedasnya, saya tambahkan cabai bubuk,” ujarnya.

Saban hari Bahir selalu membutuhkan cabai. Mengingat, makanan yang dijualnya mengandalkan sambal untuk menambah cita rasa. “Terutama buat yang suka pedas. Makan bakso tanpa sambal itu ada yang kurang. Cabai kalau murah, murah sekali. Kalau mahal, bisa melejit pedasnya,” ujarnya.

Tindakan serupa dilakukan sejumlah penjual gorengan. Meski cabai yang digunakan bukan cabai berkualitas bagus, harganya juga ikut melejit. “Cabai rawit yang Rp 50-60 ribu per kilogram itu yang merah-merah. Kalau seperti saya penjual gorengan, biasanya pakai cabai rawit yang masih hijau,” ujar warga Kelurahan/ Kecamatan Kanigaran, Nuning Kurnia, 40.

Meski hijau, harganya juga mahal. Karenanya, Nuning memilih mengurangi pemberian cabai rawit kepada pembeli. Pembeli pun menyadari berkurangnya cabai yang diperoleh. “Meski masih hijau, harganya juga tidak murah. Antara Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogram. Padahal, biasanya kalau normal di bawah Rp 10 ribu,” ujarnya. (put/rud)