Menipu, Oknum PNS Kecamatan Ditangkap, yang Dijual Tanah Negara di Pakuniran

KRAKSAAN – Karir kepegawaian As’ari Rankuti, 43, di birokrasi bakal terancam. Lelaki yang tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan pernah bertugas sebagai staf Kecamatan Pakuniran tersebut, dibekuk polisi. Dia dituding melakukan penipuan lantaran menjual tanah milik negara.

Dia ditangkap polisi dan kini kasusnya tengah diselidiki Polres Probolinggo. Selasa (9/7), kasus yang menyandung warga asal Gunggungan Lor, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, dirilis Polres Probolinggo.

Dalam rilis yang dipimpin Kapolres AKBP Eddwi Kurniyanto tersebut, As’ari yang sudah ditetapkan menjadi tersangka, hanya bisa menunduk malu. Bahkan saat lensa kamera diarahkan kepadanya, berkali-kali As’ari berusaha menutupi wajahnya.

Menurut Kapolres, peristiwa penipuan itu terjadi sekitar bulan Februari 2016. Sebelumnya, tersangka mendatangi Syafi’i, warga Desa Kandangjati Kulon, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo dan menawarkan satu bidang tanah sawah yang berada di Pakuniran seluas 16 hektare.

Kepada Syafi’i, As’ari mengaku tanah berupa bidang sawah tersebut adalah miliknya sendiri. Setelah bernegosiasi, terjadi kesepakatan jual beli. Syafi’i sanggup membayar Rp 600 juta.

Setelah kesepakatan terjadi, korban lantas melakukan pengecekan lahan. Dari hasil pengecekan lahan, diketahui bahwa luas tanah tidak sesuai dengan kesepakatan. Kemudian korban melaporkan kepada Polres Probolinggo dengan barang bukti kuitansi pembayaran tanah.

“Setelah dilakukan pembayaran dan pengecekan diketahui bahwa tanah tersebut hanya memiliki luas 4,5 hektare. Dan tanah tersebut merupakan tanah milik negara,” ujar Eddwi.

Lantaran ada tindak penipuan, kasus ini didalami polisi. Beberapa kali As’ari yang kini disebut-sebut bertugas di Kecamatan Kotaanyar, diperiksa. Hingga kemudian, As’ari ditetapkan menjadi tersangka.

Eddwi mengatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka, uang yang diperoleh pelaku dari hasil menjual tanah tersebut dibagikan kepada teman–temannya. Meski uang hasil jual beli tersebut sudah habis, polisi tetap menyita barang bukti. Diantaranya kuitansi pembayaran dari korban.

Kepolisian, kata kapolres, terus mengembangkan kasus ini termasuk uang yang dibagi tersebut digunakan untuk apa saja. Termasuk dugaan apakah ada pelaku lain yang terlibat. Atas perbuatannya tersangka di ganajar dengan pasal 372 dan 378 KUHP dengan ancaman pidana penjara 4 tahun. (mg1/fun)