Disegel usai Ada Kecelakaan Kerja, Ini Keluhan PT MJS Gending

GENDING – Manajemen PT Mandiri Jaya Succesindo (MJS) akhirnya angkat bicara soal penutupan pabriknya. Izin pabrik pengolahan kayu yang terletak di Desa Pajurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, itu disebutkan sudah diajukan sejak Agustus 2018. Namun, manajemen merasa penerbitan izin dipersulit.

DISEGEL: Pabrik pengelolaan kayu PT MJS Gending yang masih disegel Satpol PP. (Dok. Radar Bromo)

Sudibyo Christian selaku penasihat hukum (PH) PT MJS Gending menjelaskan, pihaknya sudah mengikuti semua aturan dan petunjuk untuk mengurus izin pendirian pabrik pengolahan kayu itu. Tepatnya sejak Agustus 2018 atau saat take over dari PT Jcool.

Saat itu, semua izin sudah diajukan PT MJS. Bahkan, pihaknya terus berkomunikasi untuk melengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan. Seiring dengan itu, trial atau uji coba pabrik dilakukan sejak beberapa bulan terakhir. Namun, sampai saat ini pihaknya merasa pengurusan izin itu dipersulit.

”Yang terjadi begini. Jika kita mengajukan izin, terus ada kekurangannya, harusnya pihak dinas memberi tahu kami di mana kekurangannya. Ini tidak. Selama ini, kami yang harus tanya sana sini apa kekurangannya. Terus di mana letak pelayanannya?” ungkapnya.

Padahal, jika mengikuti kebijakan pemerintah pusat untuk menarik banyak investor, perizinan seharusnya dipercepat. Apalagi menurutnya, keberadaan pabrik pengolahan kayu itu bisa membantu pemerintah daerah menyiapkan lapangan kerja.

Karena paling tidak, bisa mengurangi pengangguran dan menekan kemiskinan. Selama trial ini, setidaknya ada 100 orang bekerja di PT MJS. Bahkan, direncanakan bisa menyerap sampai 2.000 tenaga kerja.

”Kami bisa menyerap tenaga kerja. Yang awalnya nganggur, bisa dapat pekerjaan dan penghasilan. Jika ini sampai tidak diizinkan siapa yang rugi? Dipastikan nantinya akan ada banyak pengangguran,” tegasnya.

Pabrik sendiri menghentikan semua aktivitas sejak disegel oleh Satpol PP Kabupaten Probolinggo. Namun, manajemen PT MJS tidak langsung memberhentikan semua pekerjanya. Mereka malah diminta tetap ke pabrik dan digaji meski tidak ada pekerjaan.

”Pabrik ini belum beroperasi produksi komersil. Selama ini operasi yang dilakukan pabrik masih tahap trial, sambil menunggu izinnya terbit. Karena mesin-mesin yang dipakai baru, pekerjanya perlu dilatih lebih dulu,” paparnya.

Saat itulah terjadi kecelakaan kerja. Hingga membuat pekerja asal Gending meninggal karena sebagian tubuhnya masuk mesin.

Kepala Dinas PM-PTSP (Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Kabupaten Probolinggo Hadi Prayitno saat dikonfirmasi mengatakan, pabrik pengolahan kayu PT MJS sudah legal. Karena sudah miliki izin lokasi dan izin lingkungan.

Namun, untuk aktivitas produksi belum boleh dilakukan. Sebab, pabrik belum punya izin usaha industri atau operasi dan izin pengolahan kayu.

”Untuk dapat izin operasi, yang belum dilengkapi yaitu IMB (izin mendirikan bangunan). Sedangkan syarat izin IMB, yang belum ada sertifikat lahan atas nama PT MJS,” ungkapnya. (mas/hn)