Dari Limbah Kayu, Saiful Huda Buat Seni Pahat, Contoh Karyanya Jokowi-Amin

Limbah kayu juga bisa disulap menjadi kerajinan seni pahat bernilai jual tinggi. Itulah yang dilakukan M. Syaiful Huda, juga warga Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.

——————

BELASAN karya seni pahat dalam bentuk pigura, berjejer di sebuah ruko di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Semuanya merupakan pesanan dari para pelanggannya. Itulah ruko milik M. Syaiful Huda, 35.
Namun, tidak semua karya itu merupakan pesanan. Dari beberapa pahat wajah yang dibuat Huda –panggilannya-, ada salah satu yang ia buat begitu saja. Seni pahat berukuran sekitar 180 cm x 100 cm itu masih hangat. Sebab, Huda baru saja menyelesaikan garapannya.

Saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi tempat usahanya Rabu (3/7) pekan lalu, Huda masih memoles kuas cat untuk menajamkan wujud seni pahatnya. Yang menarik, seni pahat ini berbentuk wajah pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Makruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019.

USAI KEPUTUSAN MK: Lukisan pahat Jokowi dan Amin, salah satu kreasi Saiful Huda. (Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Huda membuatnya tepat setelah Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan atas sidang sengketa hasil pemilu itu.

“Hanya buat inspirasi saja. Karena sudah terpilih,” katanya tentang alasannya membuat seni pahat wajah Joko Widodo – Makruf Amin.

Seni pahat itu sendiri, tidak dibuat dengan bingkai serta lapisan kayu utuh. Melainkan dari kayu limbah mebeler. Huda mendapatkannya dari tetangganya yang seorang perajin mebeler. Ia membeli bukan dengan harga kiloan. Melainkan setumpuk.

“Karena sudah jadi limbah. Biasanya sama orang-orang dibeli untuk kayu bakar. Saya belinya setumpuk, ada yang Rp 20 ribu. Kadang juga Rp 25 ribu,” ujarnya.

Namanya saja kayu limbah. Ukurannya pun tidak sama. Kebanyakan lebarnya sekitar 5–10 sentimeter. Kayu-kayu itu kemudian dipilah. Yang kondisinya masih bagus dan utuh, dipotong dengan ukuran serupa. Sekitar 10 sentimeter persegi.

Lalu Huda dan karyawannya mengecatnya dengan warna hitam. Cat yang digunakan yakni cat tembok karena hanya sebagai lapisan dasar. Setelah potongan kayu rampung dicat, kemudian diamplas. Tujuannya, agar pori-pori kayu lebih terlihat tajam.

Proses selanjutnya menata potongan kayu yang telah diamplas tadi ke dalam bingkai. Huda memasangnya dengan cara dilem agar lebih merekat. Pembuatan bingkai pun selesai. Kini, Huda tinggal memahatnya sesuai bentuk wajah.

“Biasanya memakan waktu tiga jam untuk memahat. Tapi, ini karena dua wajah. Jadi butuh waktu lebih lama. Sekitar 5 jam,” ucapnya.

Pahatan wajah yang telah rampung tidak langsung dicat. Melainkan di-rustic lebih dulu. Hal itu dilakukan agar tekstur kayu terlihat kasar. Sehingga, menimbulkan kesan vintage atau kuno. “Meskipun kayu baru jika di-rustic bisa terkesan kuno,” terangnya.

Pengerjaan seni pahat Jokowi-Makruf itu secara keseluruhan dapat diselesaikan Huda dalam waktu sepekan. Selama pembuatan, hanya memahat ukiran wajah saja yang menyita waktu. Sebab harus sangat berhati-hati. Jika melenceng satu sentimeter saja, bisa-bisa tak berbentuk.

Huda sendiri baru melakoni usaha membuat seni pahat wajah sejak empat bulan terakhir. Dua puluh tahun sebelumnya ia perajin mebeler. Namun, belakangan modalnya banyak yang tak kembali.

Penyebabnya ialah barang-barang yang dipesan pelanggannya banyak yang tak dibayar lunas. Bukan satu dua kali kejadian itu dialami Huda. Misalnya saja dengan pelanggannya dari Banyuwangi. Barang-barang yang dijual Huda mestinya bernilai Rp 30 juta. Namun, hanya dibayar Rp 10 juta, lalu tak ketemu jeluntrungan-nya.

“Terakhir di Sumatera juga zonk. Mestinya barang saya itu totalnya Rp 65 juta. Tapi, sampai sekarang tidak lunas. Hanya dibayar Rp 15 juta,” beber ayah tiga anak itu.

Modal yang kian menipis membuat Huda banting setir. Ia pun menekuni seni pahat wajah. Paling banyak pahatan wajah yang digarap Huda merupakan pemuka agama. Seperti KH Hasyim Asyari hingga KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur.

“Ada juga kadang yang pesan dibuatkan wajahnya sendiri atau potret keluarga,” jelasnya.

Huda memasarkan dagangannya itu dengan cara online. Jika ada pemesan, ia mulai menggarap. Uang kemudian ditransfer setelah barang siap dikirim. Kini ia telah melayani pembeli dari berbagai daerah. Seperti Jogjakarta, Kudus, Tangerang, Jakarta, hingga Batam.

Huda biasa menjual seni pahat wajah itu seharga Rp 1,5 juta. Namun, untuk pahatan wajah Jokowi-Makruf, kata Huda, harganya lebih tinggi. Bukan karena sosok mereka. Melainkan karena proses pembuatannya yang lebih lama serta rumit.

“Kalau ada yang minat saya jual Rp 1,75 juta,” tandasnya.

Dengan menggunakan limbah kayu sebagai bahan dasar, Huda pun punya keuntungan lebih. Yang pertama, harga limbah kayu jauh lebih murah daripada kayu utuh. Dengan demikian, modal produksi pun bisa ditekan. Beda saat membuat mebeler. Kayu yang dipakai harus benar-benar bagus.

Keuntungan yang lain, limbah kayu yang menumpuk dari sisa pembuatan mebel, bisa terkurangi dengan aktivitasnya itu. Sebab, limbah kayu sampai saat ini masih menjadi barang yang tidak banyak pemakainya. Selain hanya sebagai kayu bakar. Terutama di daerah atau sentra mebel seperti di Gadingrejo. (tom/fun)