Tangan Kreatif Perajin di Gadingrejo Menyulap Limbah Kayu Menjadi Rupiah (1)

INSPIRATOR: Arif Budiono (duduk) yang menjadi inspirator pemuda di Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, untuk memanfaatkan limbah kerajinan mebel memiliki nilai ekonomis. (Lailiyah Rahmawati/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Sejarah industri mebel di Kota Pasuruan sudah ada jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Sentra industri mebel Kota Pasuruan sendiri tersebar di beberapa kelurahan di Kecamatan Gadingrejo, salah satunya di Kelurahan Randusari. Banyaknya perajin mebel yang mendirikan industri rumahan berdampak kepada melimpahnya limbah kayu.

—————

Limbah kayu bahkan masih menjadi masalah bagi sebagian besar wilayah industri mebeler di Kota Pasuruan. Selama ini limbah kayu mebeler dipandang sebelah mata, dan berujung menjadi kayu bakar. Siapa sangka di tangan Arif Budiono, kini limbah tersebut bisa disulap menjadi rupiah. Bahkan kini menjadi mata pencaharian masyarakat Randusari

KREATIF: Arif Budiono (baju putih) bersama karyanya. (Lailiyah Rahmawati/Jawa Pos Radar Bromo)

Dari tahun ke tahun sisa-sisa potongan kayu berujung menjadi bahan bakar tungku warga. Kini, seiring semakin modern peralatan rumah tangga dengan kehadiran kompor gas, maka nasib limbah kayu kian tak bermanfaat. Apalagi dianggap memiliki nilai ekonomis.

Kegelisahan melihat tumpukan limbah mebel yang tak memiliki manfaat seorang pemuda di Kelurahan Randusari, Arif Budiono, menyulapnya menjadi sejumlah kerajinan tangan. Selepas lulus dari SMKN 1 Pasuruan, tiga tahun silam, Arif-sapaan akrabnya-gelisah dengan menumpuknya limbah mebel di rumahnya RT2, RW 4, Kelurahan Randusari. Ayahnya Pursuwito memang seorang perajin yang sehari-hari memproduksi mebeler.

Potongan-potongan kayu yang biasa disebut tatalan itu menumpuk tak terpakai. “Kalau tidak dibakar sendiri, ada orang pembuat lontong yang membeli dengan harga sangat murah. Dari situ, saya mikir didaur ulang menjadi apa tatalan ini,” ujar Arif mengawali kisahnya kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Tak memiliki kemampuan sebagai perajin kayu apalagi modal usaha, Arif pun nekad secara otodidak merangkai potongan demi potongan sisa kayu garapan mebel dari ayahnya. Sambil mempelajari beberapa contoh kerajinan tangan di internet, perlahan ia pun akhirnya sukses menghasilkan gantungan kunci. Sukses menghasilkan karya ia kembali berpikir untuk menjadikan kerajinan tangannya memiliki nilai ekonomis.

Ia sempat gundah karena tak memiliki satu sen pun untuk modal usahanya. Tekad kerasnya kemudian menjadikannya memiliki ide untuk membuka usaha tanpa modal. Pemuda kelahiran Pasuruan, 1 Juni 1997 itupun memanfaatkan media sosial dan internet untuk menjual kerajinan tangan yang ia buat.

“Berhasil menjual dan membuktikan bahwa ternyata saya bisa menjual kerajinan tangan itu. Kendala berikutnya yang saya hadapi adalah saat mulai banyak pesanan produk, sedangkan saya tak memiliki uang sebagai modal usaha. Ya, kemudian saya pakai uang saku dari orangtua untuk saya putar ulang menjadi modal,” jelasnya.

Namun, niat baik itu bukan berarti tak mengalami kendala. Saat pertama mengajak teman-temannya bergabung membuat kerajinan tangan, ajakan tersebut mendapatkan penolakan. “Kalaupun ada yang mau bergabung mereka tanya mau dijual kemana barangnya? Apa ada pembelinya? Di situ lalu saya menunjukan bukti penjualan kerajinan yang saya buat. Satu persatu kemudian mau belajar dan kemudian terbentuklah ‘Woodcraft Randusari’ ini di tahun 2016,” terang Arif menjelaskan asal usul berdirinya komunitas yang ia bina saat ini.

Awalnya, jumlah anggota binaan Woodcraft Randusari hanya empat hingga lima orang saja. Setelah terbentuk bukan berarti kendala tak dihadapi. Woodcraft Randusari mengalami kendala yakni tidak efektifnya SDM yang ada dikarenakan tidak semua anggota memiliki bakat menangani banyak tugas sekaligus. Dari situ, kemudian terjadi perombakan manajemen Woodcraft Randusari. Anggota yang memiliki bakat di produksi diarahkan mempelajari produksi, sedangkan anggota yang memiliki bakat marketing, diarahkan untuk mengurus marketing.

Sepakat untuk menghasilkan karya original dan mengutamakan kualitas, Woodcraft Randusari semakin mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat sekitar. Anak-anak muda yang galau mencari kerja setelah lulus SMA kemudian tertarik juga untuk bergabung dengan komunitas ini. Ide-ide model kerajinan merupakan usulan dari semua anggota.

Semakin banyak pemuda yang bergabung membuat tempat produksi kini tidak berada di satu titik. Melainkan sudah menyebar sekitar 15 titik di Kelurahan Randusari. Bang Koko salah satu anggota komunitas ini mengatakan, kerajinan yang dibuat memiliki standar bahan baku dan juga finishing. Bahan baku harus dari potongan kayu jati, proses pembuatan dibuat rapi, dan ditentukan harga patokan untuk penjualan produk.

Dari manajemen komunitas yang sudah berjalan baik ini, mereka pun banjir pesanan. Produk kerajinan yang dihasilkan seperti nomor rumah, hiasan dinding, cinderamata bentuk miniatur kursi tamu, kaligrafi, dan lainnya, saat ini mendapatkan pesanan dan dikirim hingga luar negeri.

“Sekarang ini menjadi mata pencaharian bagi warga di sini. Semacam sebagai salah satu solusi saat industri mebel sepi pembeli seperti sekarang,” ujarnya.

Produk kerajinan Woodcraft Randusari dijual mulai harga Rp 25 ribu hingga belasan juta rupiah. Kini, masyarakat sekitar pun bisa merasakan nilai ekonomis limbah mebel karena limbah tersebut dikulak oleh komunitas Woodcraft Randusari bisa mencapai Rp 2 ribu per satuannya. Di satu sisi saat ini omset komunitas ini pun bisa meraup keuntungan jutaan rupiah tiap bulannya. Hal ini kemudian mengantarkan Arif masuk lima besar pemilihan Pemuda Pelopor tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Harapan kami kegiatan komunitas ini bisa menjadi aspirasi bagi pemuda Kota Pasuruan lainnya. Kemudian, untuk Pemerintah Kota Pasuruan untuk menjadi fasilitator pendirian destinasi wisata kerajinan kayu di sini,” ujar semua anggota Woodcraft Randusari menutup obrolan dengan media ini. (lel/fun)