Beginilah Nasib Pedagang Pasar Winongan usai Bedaknya Terbakar

Kebakaran yang terjadi di Pasar Daerah Winongan atau bisa disebut Pasar Winongan, Jumat (5/7) malam, tidak hanya menghanguskan 10 bedak dan 7 lapak. Jutaan uang milik pedagang yang disimpan di bedak pun hangus.

—————

Modal habis, tempat berjualan pun belum bisa dipakai. Itulah derita yang dirasakan para korban kebakaran Pasar Winongan. Namun, roda ekonomi harus terus berputar. Maka, berjualan tetap harus dilakukan.

Ripi, membersihkan daerah depan bedaknya yang terbakar Jumat lalu. (Erri Kartika/jawa Pos Radar Bromo)

Seperti halnya Jumaati, 45, warga Rowogempol, Lekok. Salah satu korban kebakaran itu sudah berjualan 30 tahun di Pasar Winongan.

Meski demikian, Jumaati mengaku cukup beruntung. Sebab, bedak-nya hanya terbakar 80 persen. Hanya bedak bagian belakang yang terbakar. Tapi, tidak sampai terbakar semua.

Bagian depan bedak, tidak terbakar. Karena itu, Jumaati masih bisa berjualan. Dia berjualan di bagian depan bedak yang tidak terbakar, Minggu (7/7).

Jumaati sendiri berdagang buah. Semua buah dagangannya pun hangus. Total dirinya menderita kerugian Rp 5 juta. Namun, karena butuh menyambung hidup, Jumaati nekat utang modal ke anaknya. Pada anaknya, dia meminjam uang Rp 3 juta.

“Modalnya utang ke anak, buat kulakan dan jualan lagi. Biar bisa jualan lagi,” terangnya.

Karena itu, Jumaati mulai berjualan kembali di depan bedak-nya yang terbakar. Di sekitarnya, masih terlihat kayu-kayu yang hampir roboh imbas kebakaran.

Sementara itu, Kurniati, 40, tak seberuntung Jumaati. Barang dagangan warga Rewogempol, Lekok, yang sudah berjualan kelapa 15 tahun di Pasar Winongan itu ludes semua. Sebab, bedak-nya tepat di tengah lokasi kebakaran.

Yang membuatnya sedih, sehari sebelum kebakaran, Kurniati baru kulakan kelapa. Uang Rp 3,5 juta dia habiskan untuk kulakan. Itu pun bukan uang sendiri. Melainkan uang hasil utang juga.

“Padahal, sehari sebelum kebakaran baru kulakan Rp 3,5 juta beli kelapa. Itu pun dari utang. Eh, malah terbakar semuanya,” terangnya.

Tak hanya itu, tabungan miliknya yang disimpan di bedak juga ikut ludes terbakar. Padahal, jumlah tabungan itu cukup besar. Yaitu, sekitar Rp 4 jutaan.

Kurniati bersama suaminya, Yanto mengaku bergegas mendatangi pasar saat tahu ada kebakaran. Dia pun berusaha menyelematkan barang dagangnnya. Namun, tidak bisa.

“Saya datang ke pasar saat kebakaran. Siapa tahu ada yang bisa diselamatkan. Tapi, waktu datang api sudah tinggi. Mau ambil barang dagangan gak bisa. Karena semuanya dilalap api,” ungkap Yanto.

Bersama suaminya, Kurniati hanya bisa mendatangi tumpukan bedak yang sudah hampir rata dengan tanah. Harapannya, setelah Labfor datang, dirinya bisa membersihkan bedak-nya. Dia juga berharap tabungan receh-receh dari koin yang dikumpulkannya bisa ditemukan.

“Sekarang saya bingung. Habis Lebaran semua duit habis. Kemarin utang malah terbakar. Sekarang mau pinjam lagi gak tau bagaimana. Sedangkan tempat jualan juga tidak bisa ditempati,” terangnya.

Tak sendiri, Ripi, 55, pedagang buah yang sudah berjualan 30 tahun di Pasar Winongan juga hanya bisa pasrah. Tidak hanya buah dagangannya yang habis. Tabungan Rp 5 juta miliknya juga ikut hangus.

Saat kebakaran, ada lebih 4 kuintal buah semangka, jeruk, dan pepaya yang ada di bedak. Total dia menderita kerugian Rp 6 juta.

Saat kebakaran, Ripi sedang tidur dan baru bangun Subuh. Saat itu lapak dan buahnya sudah hangus. Dia pun kebingungan harus bagaimana caranya untuk berjualan lagi.

“Tabungan habis. Sedangkan tempat jualan juga hangus. Masih bingung mau bagaimana ini,” terangnya.

M. Sholeh, koordinator paguyuban Pasar Winongan berharap setelah tim Labfor datang, tempat kebakaran bisa segera direhab. Sehingga, pedagang bisa segera dapat menyambung hidup mereka. (eka/fun)