Agus Salim, Dampingi Anak Berkebutuhan Khusus melalui Olahraga agar Lebih Percaya Diri

Memiliki kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK), membuat Agus Salim, 31, terus mendapatkan ilmu baru. Salah satunya dapat mengikuti pelatihan Sports Diplomacy di Amerika Serikat dan mendapat perhatian dari Barcelona Foundation.

————–

Berhubungan dengan ABK, bukan pengalaman baru bagi Agus Salim. Warga Desa Glagah, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, ini merupakan salah satu pengajar di sebuah sekolah luar biasa di Pasuruan.

TANPA KENDALA: Agus Salim (kaos oranye) yang tak canggung meski menyandang disabilitas. (Agus Salim for Jawa Pos Radar Bromo)

Kepeduliannya terhadap anak-anak (tak hanya ABK), terus tumbuh. Karenanya, pada 2015 dibentuklah Komunitas Asshibyan. Dengan dirintisnya komunitas ini, Agus mulai mendidik karakter anak-anak melalui olahraga dan permainan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri anak. Terutama melalui olahraga sepak bola.

Suatu ketika pada 2017, saat Agus melatih sejumlah anak bermain sepak bola, ada salah satu anak tunadaksa. Dia selalu hadir dalam setiap kegiatan latihan yang digelar di Desa Glagah. “Saya ajak dia ikut berlatih karena dia terlihat sangat antusias. Awalnya tidak mau, namun pelan-pelan saya meyakinkan agar mau ikut latihan,” ujar Agus.

Upayanya berhasil, seorang ABK yang kehilangan salah satu lengannya itu, bersedia ikut berlatih sepak bola. Rasa percaya dirinya muncul berkat dukungan penuh dari pria yang juga relawan anak di bawah naungan UNICEF sejak 2011 itu.

“Anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak yang sama untuk tidak didiskriminasikan. Dengan segala keterbatasannya, mereka juga berhak mendapatkan pendidikan dan perlu diberikan pembinaan mental yang lebih supaya bisa membaur,” ujar salah seorang trainer di ASA Fondation yang bergerak di bidang pegembangan olahraga ini.

Rupanya, tahun kemarin komunitas yang digawanginya mendapat perhatian dari Barcelona Foundation. Dua orang utusan Barcelona Foundation, selama sehari melakukan liputan dan memberikan sejumlah pembinaan kepada anak didiknya. Dua utusan dari Barcelona Foudation, itu membawa hasil kunjungannya ke Barcelona. Mereka mengabarkan jika pengembangan potensi anak difabel juga bisa dilakukan dengan pendekatan olahraga.

Pada Mei 2018, Agus Salim mendapatkan rekomendasi dari ASA Foundation untuk mengikuti Sports Diplomacy yang digelar Kedutaan Besar Amerika. Dia mendapatkan kesempatan belajar tentang kepelatihan selama 14 hari bersama 13 orang dari seluruh Indonesia.

“Selama pelatihan saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang bisa diterapkan kepada anak didik. Yang paling berkesan, ketika saya mendapatkan pelatihan penguatan mental dan pengembangan potensi anak difabel,” ujar bapak dua anak ini.

Agus mengatakan, seorang difabel akan berkembang jika didukung dengan fasilitas yang mendukung perkembangannya. Seperti anak tunadaksa yang terganggu di bagian tangan, potensinya bisa diarahkan dan dikembangkan kepada olahraga yang menggunakan kaki.

Sejauh ini, Komunitas Asshibyan telah memiliki 112 anak didik. Dari ratusan anak itu, satu di antaranya difabel. Di antara mereka, tidak ada sekat untuk tetap semangat dalam bermain sepak bola. “Anak difabel terus kami ajak bergabung dan ikut berlatih. Kami akan cari dan kembangkan potensi yang mereka miliki,” ujarnya. (mg1/fun)