“Perangi” Ojol, Wali Kota Sarankan Angkot Pakai Aplikasi

KANIGARAN – Persaingan antara ojek online (ojol) dengan angkutan kota (angkot) serta ojek pangkalan di Kota Probolinggo, telah lama terjadi. Sabtu (6/7), belasan sopir angkot kembali menemui Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin. Mereka meminta Pemkot bersikap tegas menyetop ojol.

Namun, Wali Kota mengaku tak bisa melakukannya. Malah menyarankan para sopir angkot juga menggunakan aplikasi online untuk mendapatkan penumpang. Saran itu disampaikan Wali Kota ketika menemui belasan sopir angkot di rumah dinasnya sekitar pukul 10.00.

“Percuma Perwali itu, tidak efektif untuk menertibkan ojek online. Mereka masih beroperasi dan mengangkut penumpang seperti biasa. Tolong ditutup Pak, ojek online itu,” ujar salah seorang sopir angkot Muhammad Sirin, 55.

Peraturan Wali Kota (Perwali) yang dimaksud bernomor nomor 117/2017. Menurutnya, perwali ini terbukti tidak efektif. Ia pun meminta Wali Kota menutup jasa ojek online, karena menurunkan pendapatan angkot, ojek pangkalan, dan tukang becak. “Kami memang tidak mengerti hukum, Pak. Tapi, keberadaan ojek online ini sangat mengganggu pekerjaan kami,” ujar warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran itu.

Dalam pertemuan itu, Wali Kota menjelaskan, pihaknya tidak bisa serta-merta menutup layanan ojol. Sebab, peraturan yang lebih tinggi yang dibuat Pemerintah Pusat tidak melarang.

“Kami pemerintah daerah bisa saja menutup agar tidak bisa beroperasi. Tapi, jelas pihak perusahaan layanan ojek online bisa mengajukan gugatan kepada pemerintah, karena payung hukum dari Pemerintah Pusat mengizinkan adanya ojek online,” ujarnya.

Politisi PKB ini meminta pengemudi angkot tidak fokus pada persaingan jasa transportasi. Namun, berupaya mencari solusi atas semakin ketatnya persaingan. “Saya sarankan agar angkutan kota juga menggunakan aplikasi untuk mencari penumpang. Jika menggunakan aplikasi, tidak perlu ada trayek lagi,” ujarnya.

Namun, bagi sopir angkot, cara ini menyulitkan untuk memperoleh pendapatan. Sebab, jika dalam jarak tertentu hanya ada dua penumpang, pendapatannya akan sedikit. “Inilah yang menjadi persoalan bagi angkutan kota. Berbeda dengan ojek online, satu orang ojek online bisa mengantar langsung sampai tujuan. Ini bergantung pada Anda juga, mau atau tidak seperti itu,” ujar Wali Kota.

Wali Kota juga mengatakan, usulan menutup okol akan berdampak pada banyak sektor lainnya. “Seperti pelaku UMKM kuliner. Mereka juga banyak mengandalkan dari layanan ojek online. Kalau ojek online ditutup, jelas pelaku usaha kuliner juga protes,” ujarnya.

Wali Kota menegaskan, tidak bisa serta merta menutup layanan ojol seperti permintaan para sopir angkot. Karena, peraturan yang lebih tinggi memperbolehkan. “Kami menyarankan sopir angkutan kota menggunakan aplikasi. Seperti yang telah digunakan di Bogor. Itu akan sangat membantu untuk mencari penumpang,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Sopir Angkota Probolinggo (ASAP) De’er, mengaku belum bisa memastikan kesediaan sopir angkot menggunakan aplikasi. “Saya tidak bisa memutuskan apakan bersedia menggunakan aplikasi. Perlu dibicarakan terlebih dulu dengan anggota,” ujarnya. (put/rud)