CJH Tertua di Probolinggo, Berhaji Setelah 43 Tahun Menabung dari Berjualan Tempe

Akhsan Bahrawi Ismail 81, menjadi calon jamaah haji (CJH) terua di Kota Probolinggo pada musim haji 2019. Sejak muda menyisihkan uang dari berjualan tempe, akhirnya Bahrawi bisa berangkat berhaji.

RIZKY PUTRA DINASTI, ARIF MASHUDI, Probolinggo

Bahagia terpancar dari raut wajah Akhsan Bahrawi Ismail, 81, dan istrinya, Asnanti, 67. Mereka tak henti berucap syukur, karena bisa menunaikan ibadah haji bersama, tahun ini.

Maryam, 88, akan naik haji bersama anak ketiganya, Lilik Dalifah, 49. (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Warga Blok Sentong, RT 03/RW 05, Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo itu layak bersyukur. Sebab, seharusnya mereka antre 10 tahun untuk bisa berhaji. Namun, dalam waktu enam tahun saja, mereka dipastikan bisa berangkat ke Makkah pada 9 Juli.

“Alhamdulillah saya dan istri diberangkatkan lebih awal, lantaran sudah tua. Jadi normalnya saya harus menunggu 10 tahun, baru bisa berangkat. Ini baru 6 tahun sudah bisa berangkat,” terang Bahrawi, panggilannya.

Menurut pria delapan anak itu, keinginan untuk naik haji sudah tertanam sejak menikah dengan Asnanti. Sehingga meski hanya berjualan tempe dengan penghasilan pas-pasan, ia selalu menyisihkan uang untuk tabungan haji.

Pria yang memiliki 15 cucu itu mengaku, mulai berjualan tempe sejak tahun 1960. Saat itu ia membuat sendiri tempe bersama istrinya. Sehingga, keuntungan yang didapat lebih banyak. Tempe buatannya lantas dijual ke Paiton.

“Biasanya saya baik becak sampai kota. Lalu naik bus ke Paiton. Jadi tidak ada pembantu (karyawan, Red.),” terang Bahrawi panggilannya.

Dari berjualan tempe itu, Bahrawi bisa mencukupi semua kebutuhan hidup keluarganya. Mulai kebutuhan sehari-hari, hingga membeli tanah untuk anak-anaknya.

Bahkan, Bahrawi akhirnya bisa mendaftar haji pada 2013 setelah 43 tahun menabung dari berjualan tempe. Bahrawi mengaku, sempat jenuh berjualan tempe. Karena itu pada thaun 1975, dia sempat berhenti berjualan.

Namun, keinginan besarnya menabung agar bisa menginjakkan kaki ke Baitullah sangat besar. Karena itu, pada akhir Desember 1975, ia mulai lagi berjualan tempe sampai tahun 2003.

“Saya jualan tempe untuk menabung haji sekitar 43 tahun. Yakni mulai tahun 1960 hingga 2003,” terangnya.

Fisiknya yang makin menua, membuat Bahrawi berhenti berjualan tempe pada 2003. Dia lantas berjualan gas elpiji 3 kg. Sebab saat itu, tabungannya untuk mendaftar haji belum cukup.

Baru pada 2013, Bahrawi pun mendaftar haji bersama istrinya. Selama itupula, Bahrawi dan istrinya selalu berusaha menjaga kesehatan tubuh. Harapannya, saat tabungan sudah cukup nanti, tubuhnya tetap sehat untuk menunaikan ibadah haji.

“Saya tidak mau, saat uang sudah cukup, akhirnya tidak bisa naik haji lantaran kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Jadi saya dan istri selalu olahraga ringan. Beruntung pemberangkatan saya dipercepat,” ungkap Bahrawi sembari memegang lutut sang istri yang di sampingnya.

Setelah dipastikan bisa naik haji, Bahrawi dan istri pun makin rajin menjaga kesehatan. “Selain obat dari dokter, saya juga bawa obat sendiri. Lebih lagi istri ada komplikasi. Jadi harus tetap waspada,” tuturnya.

Bahrawi berharap, selama di Makkah nanti, kesehatannya selalu terjaga. Dia pun ingin berdoa agar untuk kesehatan dan kesembuhan istrinya.

“Saya ini sudah tua. Doa dan harapan saya di Makkah ya, iman bertambah, sehat dan diberikan kesembuhan. Bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga lagi,” tambahnya.

Namun, jika Allah berkehendak lain, diapun ikhlas suci. “Kalau toh meninggal di sana, kami berdua ikhlas. Kan ada yang ngurusi, jadi tidak merepotkan keluarga. Sebab usia kami juga sudah tua,” pungkas Bahrawi sembari mengusap air mata di pipinya.

Sementara itu di Kabupaten Probolinggo, ada Maryam, 88, yang jadi jamaah haji tertua. Warga asal Dusun Triwung RT 5/RW II, Desa Warujinggo, Kecamatan Leces itupun, sudah menyiapkan semua barang yang akan dibawa saat naik haji.

Pada Jawa Pos Radar Bromo, Maryam mengaku tidak sabar untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Rencananya, Maryam berangkat naik haji bersama anaknya yang nomor tiga, Lilik Dalifah, 49.

Maryam sendiri tidak pernah menyangka bisa mendaftar haji pada tahun 2013. Saat itu, Lilik, anaknya yang mendaftarkan dirinya naik haji.

”Saya daftar haji tahun 2013. Didaftarkan anak. Dak nyangka bisa daftar haji. Alhamdulillah, diberikan sehat dan bisa berangkat haji tahun ini. Saya langsung sujud syukur dengar kalau saya berangkat tahun ini,” katanya.

Maryam menceritakan, tidak pernah ada firasat atau mimpi bisa daftar haji. Pada 2013 menurutnya, ada tetangganya yang hendak berangkat haji. Dia pun datang ke rumah tetangganya itu.

“Tetangga saya itu bilang, besok giliran saya naik haji. Ternyata benar, besoknya saya didaftarkan haji oleh anak,” katanya.

Lilik sendiri mengaku, mendaftarkan ibunya karena memiliki nazar. Saat itu dia bernazar, jika usaha tani dan dagang bawang sukses, akan mendaftarkan ibunya naik haji.

Ternyata pada tahun 2013, harga bawang mahal. Sehingga, dirinya langsung mendaftarkan ibunya naik haji.

”Alhamdulillah, ibu tidak pernah mengeluh sakit. Meski usia 88 tahun, tetap semangat untuk jalan-jalan, ke sawah dan pekerjaan lain di rumah,” ungkap perempuan yang besanan dengan Mahfud MD, mantan ketua MK itu.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, Maryam pun aktif beraktivitas dan olahraga ringan. Bahkan saat dikunjungi ke rumahnya beberapa waktu lalu, Maryam baru pulang dari sawah.

Perempuan yang memiliki 4 anak, 12 cucu dan 7 cicit itu, memang aktif setiap harinya. Mulai pekerjaan di rumah sampai jalan-jalan di sekitar sawah dekat rumahnya.

Menurutnya, tanpa beraktivitas, tubuhnya justru merasa dak nyaman.”Cucu-cucu saya yang jadi dokter melarang saya mengerjakan pekerjaan di rumah atau ke sawah. Tapi saya tetap lakukan. Alhamdulillah, ada lima cucu saya yang jadi dokter,” ungkapnya.

Kini menjelang berangkat ke tanah suci, Maryam makin rajin olahraga. Tiap pagi dan sore, dia rutin jalan-jalan. Harapannya, tubuhnya tetap sehat dan diberikan kekuatan saat berhaji. (hn)