Polda Gandeng PPATK Telusuri Aset Edy, Bakal Kejar Beberapa Pelaku yang Terlibat

DITAHAN: Wadireskrimsus Polda Jatim AKBP Arman Asmara Syarifuddin menunjukkan bukti dokumen dalam kasus korupsi dana Hibah PSSI Kota Pasuruan, di Polda Jatim Kamis (4/7). Inset: Edy Hari Respati Setiawan. (Hariyanto Teng/Jawa Pos-Dok. Radar Bromo)

Related Post

SURABAYA – Setelah eks ketua PSSI Kota Pasuruan Edy Hari Respati tertangkap, Polda Jatim masih memburu pelaku lainnya. Sebab, ada beberapa indikasi jika Edy tidak bekerja sendirian.

Untuk kepentingan itu, Polisi bakal menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk melacak transaksi keuangan Edy. Kasubdit III Tipidkor Polda Jatim AKBP Rama Samtama Putra menerangkan, korupsi yang dilakukan Edy melalui mark up kegiatan.

Jadi, setiap tahun ada anggaran hibah untuk PSSI. Dari dana itulah, laporan pertanggungjawaban untuk mencairkan dana banyak diselewengkan.

”Permainan mark-up dan kegiatan fiktif menjadi bukti adanya kerugian negara. Lha, semua kegiatan di mark up kok,” tuturnya, Jumat (5/7).

Menurut Rama, kegiatan yang paling sering yakni pembinaan usia muda dalam liga internal. Seperti pemotongan gaji pelatih, pemain, dan tim ofisial. Tak hanya itu, bonus-bonus juga dipotong. Untuk kegiatan, pengadaan turnamen dibuat fiktif. Padahal, turnamen tersebut tidak pernah ada.

”Ini yang membuat Edy terjerat. Apalagi, Rp 3,8 miliar itu hanya terjadi di 2015,” terangnya.

Sementara, tim kesulitan untuk mencari jejak pembuktian pengelolaan korupsi lainnya. Sebab, pada 2013 dan 2014, banyak bukti yang telah hilang. Meski begitu, tidak berarti bukti tidak ditemukan.

“Kami menemukannya, tapi kurang detail di tahun itu. Yang pasti ada pengelolaan yang sama persis yang dia lakukan,” katanya.

Mantan Kasubdit I Indagsi Polda Jatim itu menambahkan, kini ada target baru dalam pengembangan kasus tersebut. Sebab, di balik korupsi Edy, ada oknum yang melakukan kontrol aksi Edy.

“Dia tidak sendirian. Kami sedang mendalaminya,” ungkapnya.

Versi Edy ke penyidik, lanjut Rama, oknum tersebut merupakan seorang anggota dewan. Namun, dia enggan memastikan keterlibatan orang yang diduga ikut dalam korupsi tersebut. Sebab, polisi masih melakukan pendalaman lebih lanjut.

Dia menambahkan, oknum tersebut merupakan orang yang mengatur dan ikut menerima sebagian dana hibah dari Edy. “Pelaku ini mengambil 30 persen hingga 20 persen dari anggaran. Nilainya cukup fantastis untuk satu tahun,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, Edy dibekuk oleh tim Subdit III Tipidkor Ditreskrimsus Polda Jatim. Dia diduga menyelewengkan dana Hibah PSSI Kota Pasuruan (sekarang Asosiasi PSSI Kota Pasuruan) tahun 2013, 2014, dan 2015. Dana hibah itu berasal dari APBD Pemkot Pasuruan.

Nah, dalam hibah tahunan itu, sejatinya uang itu untuk KONI. Namun, karena KONI memiliki 29 cabang olahraga, dana hibah itu pun dibagi untuk PSSI Kota Pasuruan.

Tujuannya, untuk melakukan pembinaan dan pengembangan sepak bola di kota tersebut. Namun, karena ulah Edy, negara merugi. Karena uangnya diduga dinikmati sendiri oleh Edy senilai Rp 3,8 miliar. Yaitu saat dia menjabat sebagai ketua PSSI Kota Pasuruan. (den/JPG/fun)