Inilah Calon Jamaah Haji Tertua di Pasuruan, Usianya Hampir Seratus Tahun

Dua perempuan ini sudah berusia senja. Mereka adalah Kholifah binti Nasimun, 96 dan Ngatipah, 81. Keduanya merasa sangat beruntung karena di usia yang sudah sepuh, akhirnya dipastikan bisa menunaikan ibadah haji di musim haji tahun 2019.

—————-

KHOLIFAH binti Nasimun, 96, berjalan perlahan di tengah kerumunan anggota calon jamaah haji (CJH) lainnya di Sentra Produk Unggulan, Bangil, 15 Juli lalu. Meski sudah sepuh, dia mengikuti manasik haji masal dengan bersemangat.

Kegiatan yang dikuti 1.381 CJH Kabupaten Pasuruan itu tampak ramai. Karena tak hanya CJH yang datang, keluarga dekat juga mengantar. Kholifah sendiri didampingi Moch Hasan, 46, putranya dan menantunya.

Maklum, Kholifah tidak muda lagi. Warga Kranggan, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, itu sudah berusia 96 tahun. Kemenag Kabupaten Pasuruan mencatat, perempuan itu lahir pada 3 Juni 1923 dan menjadi CJH tertua di Kabupaten Pasuruan di musim haji 2019.

81 TAHUN: Ngatipah (tengah) bersama Sulistinah dan Tubi Adidoyo. (Fahrizal Firmani/ Jawa Pos Radar Bromo)

Namun, meski sudah berusia kepala sembilan, Kholifah masih tampak sehat. Dia bisa berjalan normal tanpa alat bantu apapun. Kendati memang perlahan. Ibu 6 anak dan 13 cucu itu pun mengaku siap menjalankan rukun Islam yang ke 5 tahun ini.

Kholifah sendiri tidak menyangka, masih diberi kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji, meski usianya sudah senja. “Tidak menyangka akhirnya bisa berhaji. Karena itu saya sangat bersyukur. Senang sekali,” ucapnya.

Moch Hasan kemudian lebih banyak membantu ibunya itu menjawab pertanyaan media ini. Maklum, agak sulit mendengar. Meskipun tetap bisa berbincang secara normal.

Sebelum dipastikan berangkat tahun ini, Kholifah mendaftar haji pada 2014. Karena tergolong lansia, dia masuk data prioritas untuk berangkat haji.

“Tiap tahun sudah mengajukan untuk masuk kuota lansia. Tahun lalu tidak masuk. Tapi, ternyata ada kuota tambahan tahun ini. Dan, meskipun mendadak, Alhamdulillah bisa berangkat tahun ini,” terangnya.

Pada pelunasan ke dua untuk kuota lansia, Kholifah tidak masuk dalam daftar berangkat tahun ini. Karena itu, dia diprediksi baru berangkat tahun 2020.

Namun, ternyata namanya masuk dalam daftar CJH untuk pelunasan tahap ke tiga bersama empat lansia yang lain. Tahap ini dibuka setelah pemerintah pusat mendapatkan kuota tambahan 10 ribu CJH dari Arab Saudi.

Begitu mendapat kepastian berangkat, semua persyaratan berangkat haji pun langsung dipenuhi. Dan, dalam waktu seminggu saja, semua persiapan selesai dilakukan.

Kholifah sendiri berangkat tanpa pendamping khusus. Namun, besannya juga berangkat tahun ini. Besan inilah yang diharapkan bisa menemani Kholifah.

“Ada mertua yang juga berangkat tahun ini. Jadi, kami titipkan beliau agar di Tanah Suci bisa menjaga ibu,” jelasnya.

Sedangkan Hasan, rencananya menemani saudaranya yang juga dalam masa tunggu haji karena tunadaksa. “Kalau ibu kan karena usianya sudah senja, jadi lebih baik berangkat dulu. Sedangkan saya nanti mendampingi saudara yang tunadaksa,” terangnya.

Kholifah sendiri sejak 1979 merupakan ibu tunggal setelah ditinggal suaminya. Dia membesarkan enam anaknya dengan berjualan sayur dan buah di Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan.

Sejak awal tahun 2000-an, Kholifah tidak boleh lagi bekerja oleh anak-anaknya. Dia kemudian tinggal bersama anak-anaknya. Lalu pada 2014, baru Kholifah mendaftar untuk berangkat haji dengan dibiayai anak-anaknya.

Dan sejak saat itu, ibunya rutin berjalan kaki di sekitar rumah setiap pagi untuk menjaga kesehatan. “Tiap pagi rutin jalan kaki dari pukul 06.00 sampai pukul 07.00. Setelah dipastikan berangkat tahun ini, Ibu menambah waktu jalan kaki. Kadang, sore hari juga,” terangnya.

Dia pun berharap ibunya lancar melaksanakan ibadah haji bersama kloter 24 yang dijadwalkan berangkat pada 15 Juli ke Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Selanjutnya, bertolak ke Tanah Suci pada 16 Juli.

Selain Kholifah, di Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, ada Ngatipah, yang jadi CJH tertua di Kota Pasuruan. Bedanya, usia Ngatipah lebih muda. Yaitu, 81 tahun. Selain itu, dia tidak sendirian berangkat. Warga Jalan Ki Hajar Dewantoro itu akan naik haji dengan keluarganya. Yaitu, seorang anak dan menantunya.

Ngatipah sendiri mendaftar haji di Kemenag Kota Pasuruan pada 2016. Namun, keinginannya berangkat haji sudah lama. Ngatipah ingin berhaji karena melihat banyak tetangga dan wanita yang berusia lebih mudah sudah berangkat ke tanah suci untuk berhaji.

Yang membuatnya senang, Ngatipah tidak perlu lama menunggu antrean. Hanya tiga tahun menunggu, dia pun sudah bisa berangkat.

“Alhmadulillah, saya mendaftar tiga tahun silam dan mendapat panggilan tahun ini. Allah telah menjawab doa saya untuk pergi ke rumah-Nya,”ungkapnya.

Sulistinah, menantu Ngatipah menjelaskan ibu mertuanya ini bakal berangkat bersama dirinya dan putra keduanya, Tubi Adidoyo pada 31 Juli mendatang. Ini, usai Ngatipah dan Tubi mendapatkan kuota penggabungan ibu dan anak.

“Namun, bedanya saya sama suami sudah mendaftar sejak 2011. Ternyata, Alhamdulillah, ibu mertua saya dapat kuota penggabungan. Jadi, bisa berangkat bersama,” jelasnya.

Sulistinah menceritakan, ibu mertuanya ini memiliki fisik yang prima di usia senjanya. Ini, tidak terlepas dari kebiasaannya selalu jalan kaki sehabis Subuh. Bahkan, pendengarannya pun sempurna, kendati lawan bicaranya mengucapkan dengan bisik-bisik.

Seluruh barang bawaan untuk menunaikan ibadah haji bagi Ngatipah pun sudah disiapkan olehnya. Untuk menunjang kesehatan fisik Ngatipah, Sulistina kerap memberikan vitamin dan makanan bergizi.

“Ibu mertua saya ini hampir tidak pernah sakit. Kalau sakit ya minum obat dari bahan herbal. Makanya kondisinya masih prima,” sebut Sulistina.

Guru SMPN 10 Kota Pasuruan ini mengaku selama manasik, Ngatipah tidak pernah mengeluhkan lelah. Kondisi ini membuatnya senang dan yakin jika Ngatipah dapat melaksanakan ibadah haji tahun ini dengan sempurna.

Sulistinah pun mengaku tidak sabar untuk melaksanakan ibadah haji bersama suami dan ibu mertuanya. Kendati ia pernah menunaikan ibadah umrah pada 2017. Namun naik haji bersama keluarga dirasa membuat ibadah menjadi lebih khusyuk.

“Intinya, kalau kita mau berusaha dan terus berdoa kepada Allah, tentu bakal dimudahkan. Ibu mertua saya ini sudah berusia lanjut, namun semangat ibadahnya masih hebat,” tuturnya. (eka/riz/fun)