Terdakwa Kasus Pemerkosaan Bergilir Menangis Meski Divonis Lebih Ringan

PASURUAN – Langkah kaki Dyt, 18, kian dipercepat. Ia keluar dari Ruang Tirta Pengadilan Negeri Pasuruan, tempatnya diadili atas kasus pemerkosaan, sambil menundukkan kepala. Dyt divonis bersalah. Hakim menjatuhkan pidana penjara selama enam tahun kepadanya.

Selama menjalani sidang pembacaan putusan Kamis (4/7), Dyt tidak sendiri. Selain didampingi pengacara, sejumlah keluarga juga hadir di ruang sidang. Sidang peradilan anak itu dimulai sekitar pukul 12.00.

Majelis Hakim membacakan sejumlah hal yang menjadi pertimbangan hukum. Dyt kemudian dinyatakan secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dalam UU Nomor 35/2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Dyt, oleh karena itu dengan pidana penjara selama enam tahun,” kata Eva Margareta Manurung, Ketua Majelis Hakim saat membacakan amar putusan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Pasuruan Murni Erdianti sebelumnya menuntut Dyt dengan hukuman pidana penjara selama tujuh tahun. Tuntutan itu terbilang hukuman maksimal. Mengingat ancaman pidana pelaku dibawah umur selama separo dari ancaman pidana orang dewasa.

Selepas sidang, Dyt kembali dimasukkan dalam sel PN Pasuruan. Keluarganya juga turut mendampingi dari luar jeruji besi. Hanya saja tak sepatah kata pun diucapkan saat koran ini berusaha meminta tanggapan atas putusan hakim.

Tak lama kemudian, terdengar erangan dari balik sel. Petugas Kejari kemudian mengecek. Dyt diketahui sedang menangis. Lantaran itu, petugas akhirnya memulangkan lebih dulu Dyt ke Lapas IIB Pasuruan agar tak mengganggu jalannya persidangan.

Sementara itu, penasihat hukum Dyt, Sudiono mengaku, masih akan berembuk dengan pihak keluarga kliennya. Sejauh ini, pihaknya masih pikir-pikir atas putusan hakim. Menurutnya, putusan hakim masih terlalu berat bagi kliennya.”Kami masih pikir-pikir. Kami tanyakan dulu dengan keluarganya,” tandasnya.

MENYESAL Terdakwa Dyt berjalan menunduk usai mengikuti sidang di PN Pasuruan. (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Di sisi lain, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Pasuruan angkat bicara soal tuntutan JPU Kejari Kota Pasuruan pada pelaku, Dyt dalam sidang pemerkosaan anak di bawah umur. Mereka menyebut tuntutan tujuh tahun yang diberikan JPU, terlalu rendah.

Wakil Ketua LPA Kabupaten Pasuruan, Daniel Polozakan mengungkapkan, tuntutan tujuh tahun yang disampaikan oleh JPU Kejari Kota Pasuruan, Murni Erdianti tidak sesuai dengan perbuatan pelaku. Pasalnya, Dyt telah melakukan aksinya dengan biadab.

Dari fakta persidangan diketahui jika Dyt bersama temannya melakukan gang rape atau pemerkosaan secara bersama-sama. Bahkan aksi ini dilakukan di dua lokasi berbeda dengan disertai ancama pada Bunga (bukan nama sebenarnya).

“Tentu sangat tidak sesuai. Apalagi kalau melihat aksi biadab pelaku. Bahkan, ia sangat berbelit-belit dan tidak merasa bersalah sama sekali waktu kami minta penjelasan,”ungkapnya.

Karena itu, Daniel mengaku pihaknya bakal membawa kasus ini ke asisten pengawasan (Aswas) Jatim. Tujuannya, untuk mempertanggung jawabkan tuntutan yang disampaikan oleh JPU dalam persidangan anak Selasa lalu (2/7).

“Tuntutan tujuh tahun ini kalau diputus oleh hakim bisa dibawahnya. Nah, saat menjalani masa hukuman juga tidak akan selama putusan karena dikurangi remisi dan sebagainya,”terang Daniel.

Kasus ini diketahui berawal dari pemerkosaan yang dialami Bunga. Korban yang belum genap berusia 17 tahun digilir oleh lima pemuda yang baru dikenalnya melalui media sosial. Insiden ini dialami Bunga pada Minggu (26/6).

Ironisnya, kelima pelaku tidak hanya memperkosanya.Usai menggilir Bunga, para pelaku mengambil barang berharga milik Bunga. Setelah melakukan aksi bejatnya, Bunga ditinggal seorang diri di sebuah lahan perkebunan di Desa Sungi Wetan, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, sebelum ditolong oleh seseorang yang melintas. (tom/riz/fun)