Polisi Yakin Eks Ketua PSSI Tidak Sendirian saat Korupsi, Uangnya Diduga Sudah Dibagi

HASIL PENYIDIKAN : Wadireskrimsus Polda Jatim AKBP Arman Asmara Syarifuddin menunjukkan bukti dokumen dalam kasus korupsi dana Hibah PSSI Kota Pasuruan, di Polda Jatim Kamis (4/7). (Foto : Hariyanto Teng/Jawa Pos)

Related Post

PASURUAN – Polda Jatim sudah menetapkan seorang tersangka terlibat dalam kasus itu. Tak lain ialah eks Ketua PSSI Askot Pasuruan, Edy Hari Respati. Ia disangka menggelapkan anggaran PSSI senilai Rp 3,8 miliar.

Menurut Wadireskrimsus Polda Jatim AKBP Arman Asmara Syarifuddin, kepolisian telah memeriksa 82 saksi dalam kasus korupsi tersebut. Mulai dari para anggota PSSI, KONI, dan Pemkot Pasuruan. Sebab, aliran dana hibah tersebut berasal dari APBD Pemkot Pasuruan.

Selama ini, polisi telah meminta keterangan dari sedikitnya 82 orang. Mereka bukan hanya dari unsur PSSI, namun juga Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Pasuruan, 32 pemain sepak bola, BPKP, dan Bank Jatim.

Dia menyatakan jumlah aliran transaski belum diketahui secara jelas. Namun, apabila ada keterlibatan orang lain dalam korupsi tersebut, dia tidak mengelak. Bahkan, Arman menuding memang ada orang-orang yang ikut menikmati aliran dana tersebut.

”Korupsi tidak bisa dilakukan oleh satu orang. Apalagi, ini sudah tiga tahun. Bisa jadi, Edy memberikannya ke beberapa orang,” ucap Polisi dengan dua melati dipundaknya.

Arman yang pernah menjabat Kapolres Probolinggo itu menambahkan, kepolisian belum sampai menyita aset yang diduga hasil tindak pidana korupsi tersebut. Sejauh ini polisi masih menelusuri keberdaaannya.”Kami tidak menyita aset. Belum kami temukan. Tampaknya untuk itu kami membutuhkan BPKP Perwakilan Jatim,” ujarnya.

Di sisi lain, dalam pemeriksaan 82 saksi tersebut, 30 pemain bola ikut dijadikan saksi. Sebab, merekalah yang bisa menjelaskan mengenai adanya pembayaran bonus ataupun gaji yang diterima kala itu.

MANTAN BIROKRAT: Edy Hari Respati Setiawan dengan tangan diborgol, saat dirilis di Polda Jatim, Kamis siang. (Foto : Hariyanto Teng/Jawa Pos)

Pada bagian lain, Didik mengatakan pengajuan penerimaan hibah tersebut sudah sesuai dengan prosedural. Bahkan, dia juga mengajukan beberapa kegiatan untuk persetujuan dana tersebut.

Didik pun terancam pun dijerat dengan pasal 2 ayat 1 dan pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Tersangka terkena ancaman hukuman seumur hidup kemudian pidana penjara paling singkat 4 tahun denda Rp1 miliar,” katanya.

Dari keterangan tersangka, Polisi menduga memang, Didik dia tidak bekerja sendirian. “Tapi banyak orang, karena itu selalu lolos terus dan berhasil cair,” tambahnya. Kasus yang menjerat Edy , merupakan hasil ungkap oleh Subdit III Tipidkor Ditreskrimsus Polda Jatim. (den/tom/JPG/fun)