Kisah Pasutri yang Mengikuti Nikah Masal di Kejaksaan, Ada yang Ngebet Supaya Bisa Berangkat Haji

Tidak semua pasangan suami dan istri, bisa mendaftarkan pernikahannya di KUA. Karenanya, ketika pernikahan mereka dicatat di akta nikah, kebahagiaan luar biasa mereka rasakan. Meski fisik sudah menua, tapi yang dirasakan, bak pengantin muda.

RAUT wajah Nawi, 69, warga Randugong, Kecamatan Kejayan, tampak semringah. Senyumnya mengembang lebar, penanda rasa bahagia. Kebahagiaan itu, sangat jelas terpancar dari wajahnya.

Wajar saja ia begitu gembira. Sebab, ia berhasil mempersunting Sumiati, 50, yang tak lain adalah istrinya. Mereka berhasil menikah secara resmi, setelah puluhan tahun lamanya membina keluarga.

“Alhamdulillah, sekarang kami bisa memiliki akta nikah,” kata Nawi dengan bahasa madura.

Meski sedikit terlihat gugup, ia dengan lancar membacakan ijab qobul. Tak ada salah kata, sehingga saksipun memandang pernikahan mereka telah sah. Ia kemudian menandatangani akta nikahnya.

Disusul dengan istrinya, yang hanya menorehkan garis. “Saya tidak bisa tanda tangan,” aku istri Nawi, Sumiati.

Nawi mengaku, sudah sekitar 30 tahun lamanya mereka menikah. Hanya saja, pernikahan mereka tidak tercatat di KUA. Maklum saja, dulunya tidak ada dana yang cukup untuk membiayai pernikahannya.

Sehingga, ia pun hanya bisa menikah secara sirri. Karena yang terpenting, sah menurut agama. “Saya nggak punya biaya untuk nikah,” ungkap lelaki kelahiran 30 Juni 1950 tersebut.

Dari pernikahan tersebut, dirinya dikaruniai dua orang anak. Dari anak-anak mereka itupula, ia akhirnya menyandang gelar kakek. Karena, sudah memiliki dua cucu.

Sebenarnya, Nawi ingin menikah secara resmi. Supaya, ia bisa mendapatkan surat nikah. Itu setelah anaknya, mendaftarkan dirinya untuk berangkat Haji.

Namun, keinginan itu sempat tertunda beberapa kali. Ia mengaku malu, untuk berangkat sendiri bersama istri. Hingga akhirnya, kesempatan itu tiba. Ketika mudin setempat, Baidowi, “membujuknya” untuk segera mengurus pernikahannya secara resmi.

Kesempatan itu datang, ketika Kejari Kabupaten Pasuruan, menggelar pernikahan massal. Pernikahan massal itu sendiri digelar, dalam rangka HUT Ikatan Adyaksa Dharmakarini dan Hari Bhakti Adyaksa ke 59. Sebanyak 39 pasangan, mengikuti acara nikah bersama itu. Termasuk Nawi dan istrinya.

“Saya memang menunggu momen untuk nikah. Seperti saat ini, ramai-ramai. Kalau ke KUA sendiri, malu,” tandasnya.

Ia mengaku, kebelet nikah resmi untuk bisa mengurus paspor. Karena untuk pengurusan paspor, harus menyertakan buku akta nikah. “Insyaallah kami berangkat tahun depan ke Makkah. Kalau tidak punya paspor, bagaimana saya bisa berangkat,” ungkap dia saat didampingi Rohmad, kepala KUA Kejayan.

Lain Nawi, lain pula dengan cerita yang diungkapkan Akhmad Yoyok, 33, warga Pulokerto, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan ini. Pasangan nikah massal muda itu mengaku telah menikahi istrinya, Ulum Fitri, 22, dua tahun yang lalu. Pernikahan itu terjalin, setelah mereka menikmati masa-masa pacaran selama kurang lebih lima bulan. “Kami cocok, akhirnya menikah,” kenangnya.

Hanya saja, ia mengaku tak memiliki kecukupan dana untuk membawa istrinya ke KUA. Ia pun hanya bisa menikahi istrinya itu, secara sirri di rumah mertua. “Inginnya nikah resmi. Tapi, bagaimana lagi, tidak ada dana. Makanya nikah siri,” kisahnya.

Ia sempat berusaha mengumpulkan uang. Niatnya untuk menikahi pujaan hati secara resmi. Namun, tak kunjung kesampaian. Karena banyak pengeluaran setelah berumah tangga.

Sampai akhirnya, kesempatan yang dinanti-nantikan itu datang. Yakni, ketika ada tawaran nikah massal tersebut. “Saya langsung menyanggupinya,” aku dia.

Ia begitu bahagia, karena sudah menikahi istrinya secara resmi. Merekapun berencana untuk menikmati momen indah itu. Sama seperti pengantin baru, yakni dengan berbulan madu.

“Tapi, nggak jauh-jauh mas. Paling ke Prigen saja. Biar tidak habis banyak. Eman-eman, kan bisa untuk kebutuhan yang lain,” tandasnya.

SENANG: Suasana saat akad nikah. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Kegiatan nikah massal itu, dilaksanakan di halaman belakang Kantor Kejari Kabupaten Pasuruan. Sebanyak 39 pasangan bisa dinikahkan dalam acara tersebut. “Semula ada sekitar 60 pasangan. Tapi setelah verifikasi, hanya 39 pasangan,” kata Kajari Kabupaten Pasuruan, M. Noor HK.

Nikah massal tersebut, kata M. Noor HK, ditujukan untuk membantu pasangan suami istri yang belum tercatat pernikahannya. Supaya, mereka memiliki legalitas atas pernikahannya tersebut.

Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf merespon positif kegiatan nikah massal itu. Ia memandang, kegiatan tersebut sangat baik untuk dilakukan. Mengingat, pentingnya legalitas dalam pernikaha, untuk kepengurusan surat-surat yang lain.

Baik BPJS, JKN ataupun yang lainnya. “Kami berterima kasih kepada Kajari, karena masyarakat telah difasilitasi untuk bisa mencatatkan pernikahannya secara resmi. Mudah-mudahan, tidak hanya nikah siri, tetapi juga kegiatan lainnya, seperti sunatan massal,” pungkasnya. (one/fun)