Warga Lekok yang Terserempet Peluru Nyasar Minta Insiden Tak Terulang Lagi, TNI AL Sebut Begini

LEKOK – Kasus peluru nyasar di Desa Semedusari, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, memang berakhir damai. Namun, korban peluru nyasar Soliha, 45, belum bisa tenang. Bersama suaminya, Asmat, 55, mereka minta kepastian keamanan. Sehingga, peristiwa itu tidak terulang lagi.

Korban Asmat mengungkapkan, peluru nyasar ini bukanlah milik TNI AL. Ini, diketahui usai rumahnya kedatangan sejumlah perwakilan TNI AD pada Rabu (3/7), pukul 01.30. Sembilan orang yang mengaku berasal dari Yon Zipur dan Kodim 0819 Pasuruan menemuinya.

Mereka menawarkan sejumlah bentuk kompensasi pada keluarganya. Mulai perbaikan kaca rumah yang rusak, mengganti kaca meja yang pecah, hingga pengobatan pada pelipis istrinya, Soliha yang membengkak.

Namun, Asmat menolak semua tawaran itu. Sebab, menurutnya, bukan kompensasi yang mereka butuhkan. Namun, jaminan keamanan bahwa peristiwa peluru nyasar tidak akan terjadi lagi. Sebab, peristiwa peluru nyasar sudah terjadi dua kali di Desa Semedusari.

“Sebelumnya, pernah terjadi pada tahun 2018. Memang tidak sampai ada korban. Peluru hanya menembus rumah warga. Sekarang kami jadi korban,” katanya.

Dia pun ingin ke depan peristiwa serupa tidak terjadi lagi. Sehingga, warga merasa aman. “Yang kami butuhkan itu keamanan, bukan semata-mata bantuan,” ungkapnya.

Sebab, menurutnya, peristiwa peluru nyasar itu membuat keluarganya ketakutan. Terutama istrinya, Soliha. Apalagi, rumah mereka dekat dengan lokasi Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) di perbatasan Desa Wates dan Desa Semedusari.

Saat peristiwa terjadi, Soliha duduk membelakangi pintu kaca yang menghadap ke barat. Lalu tiba-tiba ada peluru nyasar. Peluru itu menembus pintu kaca, tirai, dan menyerempet pelipis Soliha.

“Jarak dari rumah kami dengan Puslatpur cukup jauh. Namun, peluru ini membuat tirai pintu kami roboh. Sampai saat ini, istri saya masih mengeluhkan panas pada pelipisnya. Jujur ini membuat kami trauma,” terang Asmat.

Humas Kolatmar TNI AL Grati Mayor Marinir Yopie memastikan, peluru tersebut bukanlah milik marinir TNI AL. Sebab, sehari sebelum peristiwa, Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) Pasuruan 9 meminjam lokasi Puslatpur untuk mengadakan latihan.

“Setahu saya yang latihan itu adalah Yonzipur AD. Yonzipur meminjam Puslatpur untuk latihan. Jadi, bukan dari TNI AL,” jelasnya dalam pesan pendek yang ditujukan pada wartawan Jawa Pos Radar Bromo, Rabu (3/7).

Pasi Intel Yonzipur 10 Kostrad Lettu Husein enggan mengomentari peristiwa peluru nyasar di Desa Semedusari, Kecamatan Lekok, itu. Pihaknya meminta agar wartawan media ini menanyakannya langsung pada Danyonzipur 10 Kostrad yang lebih berwenang. Yaitu Mayor CZI Dendi Rahmat Subekti.

Namun, saat media ini mencoba mengkonfirmasi Danyonzipur, Pasi Intel menegaskan, yang bersangkutan belum bisa dikonfirmasi. Pasi Intel minta konfirmasi dilakukan hari ini. Sebab, Danyonzipur 10 kostrad masih ada kegiatan.

Sebelumnya, pasutri Asmat dan Soliha menjadi korban peluru nyasar, Selasa (2/7) pagi. Saat itu, Asmat bersama Soliha sedang bercengkerama bersama keluarganya.

Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah. Usai dicek, ditemukan sebuah peluru berwarna kuning di bawah kaca meja. Pelipis kiri Soliha terluka terkena serempet peluru. Tidak hanya itu, kaca depan rumah dan kaca meja pun hancur. (riz/fun)