Kripek Paru Atoss, Cara Puskesmas Pandaan Tekan Tuberkulosis

PANDAAN – Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, dengan gejala awal batuk produktif yang berkepanjangan diikuti dengan gejala tambahan yaitu batuk darah, sesak nafas, nyeri dada, berat badan menurun, berkeringat di malam hari. Tuberculosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di dunia.

SIAP MEMBANTU: Tim medis Puskesmas Pandaan yang akan membantu pasien. (Puskesmas Pandaan for Jawa Pos Radar Bromo)

Meskipun jumlah kematian akibat tuberkulosis menurun 22 persen antara tahun 2000-2015, tuberkulosis masih menepati peringkat ke-10 penyebab kematian tertinggi di dunia pada tahun 2016. Sebab itulah hingga saat ini TBC masih menjadi prioritas utama di dunia dan menjadi salah satu tujuan dalam SDGs (Sustainability Development Goals).

Hal ini pula yang membuat Puskesmas Pandaan membuat program Kripek Paru Atoss. Sebuah program kesehatan yang memiliki kepanjangan: Kita Perangi Penyakit Paru-Paru Ayo Temukan Obati Sampai Sembuh. “Program ini memberikan pelayanan yang maksimal dan sejalan dengan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) melalui Program Indonesia dengan Pendekatan Keluarga,” beber dengan dr. Titin Yuliani selaku dokter fungsional Puskesmas Pandaan yang didampingi Ikka Deby, selaku pemegang program Kripek Paru Atoss,

Berdasarkan data laporan TB Puskesmas Pandaan hingga mei 2019 sudah tercatat 231 pasien terduga TB dan 84 di antaranya telah berobat. Karena salah satu indikator keberhasilan program pengendalian TB Paru adalah penemuan kasus (case finding).

“Dengan adanya program Kripek Paru Atoss, penemuan aktif kasus dalam bentuk skrining terduga TB yang difasilitasi langsung oleh Puskesmas Pandaan dapat terlaksana dengan baik. Mengingat tidak cukup hanya menunggu pasien datang ke Puskesmas atau Fasyankes, perluasan dan perbanyak skrining pemeriksaan dahak dan TCM juga harus dilakukan,” imbuh Ananda Riska Mita Izati, bagian promosi Kesehatan Puskesmas Pandaan. (*)