Ketika Doktor Mengabdi dan Mengajar Masyarakat Ubah Sampah Plastik menjadi BBM

Sampah plastik masih menjadi permasalahan di dunia. Tak terkecuali di Pasuruan seperti di daerah pesisir, yang banyak timbunan sampah. Nah, sejumlah doktor akademisi, ingin mengikis dan mengurangi permasalahan ini. Bahkan hendak mengubah sampah menjadi bahan bakar minyak.

ERRI KARTIKA, Panggungrejo

Pesisir pantai utara Jawa memang indah. Termasuk di Kota Pasuruan, sehingga perairan menjadi tumpuan masyarakat untuk mencari rezeki. Sayangnya, pemandangan indah di pesisir banyak timbunan sampah. Alhasil, wajah tepi laut Kota Pasuruan menjadi kurang elok.

BARU PERTAMA: Penggunaan mesin destilator di Balai Kelurahan Tambaan, adalah pertama kali di Jatim dalam kegiatan Doktor Mengabdi. (Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Atas dasar itulah, Selasa (2/7) di Balai Kelurahan Tambaan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, digelar Doktor Mengabdi. Puluhan pemuda Karang Taruna Bina Hang Tuah Kelurahan Tambaan dan warga masyarakat sekitar, tampak antusias mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya. Dari kegiatan tersebut, ada solusi yang diupayakan supaya sampah yang numpuk di pesisir pantai Tambaan, bisa berkurang.

“Awalnya saya kesini (Tambaan) bulan Maret- April lalu saat ada mahasiswa yang skripsinya di Tambaan. Saya melihat ada permasalahan sampah di pesisir pantai Tambaan dan perlu ada solusinya,” terang Dr. Rudianto, MA, sebagai Kepala Laboratorium Explorasi Sumber Daya Perikanan dan Kelautan dan juga Dosen Ilmu Kelautan di Universitas Brawijaya, Malang.

Selama ini sampah plastik memang menjadi permasalahan dunia. Termasuk di Kota Pasuruan, masih banyak yang membuang sampah sekedarnya. Akibatnya, kondisi bibir pantai di Tambaan kotor dan banyak sampah plastik.

Rudianto mengatakan, tempatnya mengajar memiliki program Doktor Mengabdi yang sudah dijalankan sejak 4 tahun ini. Doktor Mengabdi merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat agar mengaplikasikan ilmu yang dimiliki. Salah satunya lewat pembersihan pesisir pantai di Tambaan dengan menggunakan mesin destilator.

Mesin destilator sendiri adalah teknologi yang dibuat Muryani, warga Blitar dan sudah diakui secara nasional. Mesin destilator sendiri adalah mengubah limbah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak seperti premium, minyak tanah sampai solar. Tergantung temperatur saat mengolah sampah.

Untuk mesin destilator ini dibeli seharga Rp 30 juta dan dihibahkan kepada Karang Taruna setempat. Dari mesin inilah, nantinya 10 kilogram sampah dalam masa pengolahan 5 jam, bisa menghasilkan 1 liter premium. Harapannya, dari hibah mesin ini bisa menjadi solusi agar sampah-sampah di pesisir Kota Pasuruan, bisa bersih dan menjadi nilai ekonomi juga estetika.

Rudianto mengatakan, Tambaan adalah lokasi pertama untuk kegiatan Dokter Mengabdi dengan mesin destilator. “Ini masih uji coba dan terus akan kami pantau hasilnya tiap beberapa minggu. Kalau berhasil, kedepan kami juga ingin menggandeng Pemkot Pasuruan, agar mesin destilator ini bisa menjadi solusi untuk masasalah sampah,” terangnya.

Muhammad Ikhsan, Ketua Karang Taruna Bina Hang Tuah Kelurahan Tambaan membenarkan bahwa sampah menjadi salah satu masalah di kelurahannya. “Utamanya di pesisir. Selain karena masyarakat masih banyak yang kurang sadar dan membuang sembarangan, juga sampah ini hasil dari kiriman sungai dan bermuara disini,” terangnya.

Sampah di pesisir saja diperkirakan mencapai 5 ton. Kendati dari kelurahan dan Karang Taruna sudah rutin melakukan bersih-bersih pantau setiap tahunnya, kondisi sampah masih menumpuk.

“Jadi kami cukup terbantu ada kegiatan dan hibah mesin destilator ini. Dari anggota Karang Taruna yang mencapai 60 anggota, Insya Allah kami siap membersihkan sampah di bibir pantai agar bersih,” ujarnya.

Didik Hermansyah, 35, anak dari Muryani, selaku penemu mesin destilator asal Blitar mengatakan, mesin destiltor sudah dibuat sejak tahun 2009 lalu. “Tujuan utama yaitu untuk solusi sampah, sedangkan menghasilkan BBM itu bonusnya saja,” terangnya.

Menurut Rudianto, mesin destilator ini sudah banyak diminta di berbagai daerah Indonesia mulai Papua, Sumatra sampai Kalimantan. “Kebanyakan ya dari instansi, pabrik juga ada. Namun yang perseorangan masih sedikit yang pesan,” terangnya.

Harapannya, dari mesin ini bisa menjadi solusi untuk sampah plastik yang selama ini sulit dicerna. Untuk pembakaran dari mesin hanya menyisakan abu kecil dan dikatakan tidak ada polusi hanya asap kecil saat awal pembakaran. (eka/fun)