Sensasi Berkunjung ke Gunung Bromo Saat Berselimut Embun Es

Selama fenomena embun upas atau embun es (frost) terjadi di Gunung Bromo, sensasi tersendiri dirasakan wisatawan Gunung Bromo di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Terutama saat suhu di kawasan Bromo mencapai di bawah 0 derajat celcius.

ARIF MASHUDI, Sukapura

Wilayah Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, memang dikenal memiliki udara sejuk. Dengan ketinggian 650 – 1800 di atas permukaan air laut (dpl), wisatawan bisanya selalu menegankan jaket saat berkunjung. Terutama di Desa Ngadisari, tempat wisata Gunung Bromo di Kecamatan Sukapura.

Namun, akhir-akhir ini, pengunjung wisata Bromo merasakan sensasi yang tidak biasa. Yaitu, suhu udara yang jauh lebih dingin dari biasanya. Dengan suhu di bawah 0 derajat celcius, wisatawan Bromo memang merasakan dingin yang lebih menusuk dari biasanya. Bahkan, walaupun sudah memakai jaket tebal. Suhu dingin ini, sangat dirasakan oleh wisatawan yang datang dengan mengendarai sepeda motor.

Sejak memasuki wilayah Desa Ngepung, Kecamatan Sukapura, suhu dingin sudah menembus jaket. Padahal, Ngepung adalah desa terendah di Sukapura. Kondisi itu semakin terasa, saat memasuki desa Wonokerto.

Jari-jari tangan terasa kaku saat memegang setir kendaraan. Bahkan, saat berhenti sejenak, kesulitan untuk menulis pesan di HP layar sentuh. Suhu dingin ini semakin terasa saat tiba di pintu masuk wisata Bromo di Desa Ngadisari. Nafas yang keluar, terlihat jelas seperti asap orang yang sedang merokok.

Namun, suhu dingin dan jari-jari kaku itu, terbayarkan saat memandang lautan pasir Gunung Bromo. Bentangan luas lautan pasir itu, tak tampak pasirnya. Karena diselimuti oleh kabut yang hampir menutupi lautan pasir. Pengunjung pun dibuat takjub, karena kabut yang terlihat seperti awan.

Rasa takjub makin menguat saat turun ke lautan pasir Gunung Bromo. Tepat di sisi timur Gunung Bromo, lautan pasir jadi berubah warnanya. Biasanya pasir sekitar berwarna abu-abu agak kehitaman. Namun, hari itu, pasir berwarna putih bagai salju.

Warna putih ini terjadi, karena suhu diperkirakan di bawah 0 derajat celcius terjadi di kawasan Bromo. Embun yang turun pun jadi mengkristal serupa es. Dan alhasilnya, pemandangan indah pun tersaji.

”Saya sering ke wisata Gunung Bromo ini. Tapi, kunjungan sekarang ini terasa berbeda sensasinya. Selain suhu sangat dingin, ada fenomena menarik. Yaitu ada embun upas di sebagian hamparan luas lautan pasir Bromo,” kata Pramodyawati Dwi Setyorini, pengunjung asal Desa Wonogoro, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo.

Hal serupa diungkapkan Mahfud Sholeh, wisatawan asal Denpasar Bali. Ia mengaku, sengaja mengajak keluarganya karena penasaran dengan fenomena embun upas. Menurutnya, di media sosial beredar luas, adanya embun upas atau embun es (frost) di gunung Bromo.

“Kalau di media sosial, kelihatan sangat bagus dan indah. Ternyata saat didatangi, memang bagus sekali. Memang benar ada embun salju (embun upas) di sebagian lautan pasir Bromo ini,” katanya.

Selain itu menurutnya, suhu di Bromo dingin sampai ke tulang. ”Suhunya sangat dingin, sampai menggigil. Pakai jaket dan sarung tangan, ternyata dinginnya masih tembus. Jari-jari terasa kaku,” ungkap bapak dua anak itu.

Camat Sukapura, Bambang Heriwahjudi menyebut, dirinya sudah kesekian kalinya ke Gunung Bromo. Tetapi, suhu dingin paling dirasakan saat ini. Bahkan, hari itu, Rabu (26/06), diperkirakan suhu di Bromo sampai -4 derajat celcius.

Namun, suhu dingin itu terobati dengan pemadangan luar biasa. Mulai dari lautan pasir tertutup kabut menyerupai awal. Sehingga, laksana negeri di atas awan. Sampai adanya sensasi tersendiri merasakan hamparan embun salju di lautan pasir.

”Saya imbau pada para pengunjung, untuk menyiapkan kelengkapan penahan dingin. Mulai jaket, sarung tangan dan lainnya. Sehingga, saat di Bromo bisa menikmati dengan nyaman,” katanya. (hn)