Januari–Juni, 188 Ha Sawah di Kab Pasuruan Terimbas Banjir

BANGIL – Kabupaten Pasuruan belum bisa lepas dari bencana banjir. Mulai Januari sampai Juni tahun ini, banjir sudah beberapa kali merendam kawasan setempat. Para petani pun, ikut terkena imbasnya.

Selama enam bulan di awal tahun ini, tercatat ada 188 hektare (Ha) sawah petani yang terendam banjir. Para petani pun terpaksa panen dini, untuk menghindari gagal panen.

Ihwan, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Pasuruan mengatakan, sawah yang paling banyak terimbas banjir adalah di Kecamatan Kraton. “Sejumlah Desa di (Kecamatan) Kraton yang terimbas banjir mencapai 90 hektare,” terangnya.

Selain Kecamatan Kraton, tercatat di Kecamatan Rejoso ada 61 hektare sawah yang terimbas banjir. Persisnya tersebar di 6 Desa. Yakni di Desa Rejoso Lor, Kedungbako, Sambirejo, Kawisrejo, Sadengrejo dan Toyaning.

Sementara di Kecamatan Winongan mencapai 13 hektare. Yakni tersebar di Desa Prodo, Winongan Lor dan Winongan Kidul. Sedangkan di Pohjentrek seluas 24 hektare. Yakni berada di Desa Parasrejo.

Dari data tersebut, Ihwan mengatakan genangan air hanya terjadi 1-3 hari. Sehingga, ketika air surut, sawah tidak terjadi kerusakan. “Kerusakan baru terjadi bila genangan air lebih dari seminggu. Sehingga, tidak ada yang sampai puso atau rusak,” ungkapnya.

Kendati begitu, dari Dinas Pertanian sendiri sudah berupaya untuk mengajukan bantuan benih atau lainnya untuk sawah yang terimbas atau terendam banjir. Namun dikatakan permintaan bantuan memang tidak mudah jika tidak ada yang sampai puso atau rusak.

“Masih belum ada bantuan untuk sawah yang terendam banjir. Apalagi pengajuan bantuan juga tidak mudah karena tidak ada yang sampai rusak,” terangnya.

Dinas Pertanian sifatnya hanya pendataan dan melaporkan ke BPBD termasuk ke Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur.

Fadil, 55, petani di Sambirejo, Kecamatan Rejoso mengatakan kendati saat banjir lalu sawahnya ikut terendam dan tidak sampai puso. Namun tetap saja, hasil panen tidak maksimal karena terednam banjir.

“Memang tidak sampai rusak, hanya saja imbas banjir ini membuat masa panen jadi lebih lama karena menunggu surut. Termasuk saat panen juga hasilnya tidak maksimal,” terangnya.

Dikatakannya, dari sawah seperempat hektarnya, biasanya saat panen normal hasil panen bisa ditebas Rp 10 juta. Saat panen lalu hanya laku Rp 3 juta. “Ini lantaran hasilnya banyak yang kopong atau kosong. Sehingga, harapan kami tetap ada bantuan baik benih, yang bagus juga pupuk bagi petani yang terkena imbas banjir,” harapnya. (eka/mie)