Duh, 37 Ribu Anak di Kabupaten Pasuruan Alami Stunting

BANGIL – Pemkab Pasuruan memiliki pekerjaan rumah yang berat dalam masalah gizi anak. Sebanyak 37 ribu anak ditemukan stunting atau gagal tumbuh.

Bahkan, bila dibandingkan dengan Jawa Timur, prevalensi stunting di Kabupaten Pasuruan lebih tinggi. Seperti disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan Lies Lidia.

Dari catatan Dinas Kesehatan, ada lebih dari 37 ribu balita atau anak di Kabupaten Pasuruan yang gagal tumbuh. Angka ini berdasarkan hasil timbang dan pengukuran yang dilakukan pada 2018. Saat itu, kurang lebih 120 ribu balita yang diukur.

Jika dibandingkan dengan Jawa Timur, prevalensi stunting di Kabupaten Pasuruan lebih tinggi. Di Kabupaten Pasuruan, prevalensi stunting mencapai 31 persen. Sementara tingkat di Jawa Timur di kisaran 22 persen.

Dijelaskan Lies Lidia, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang diderita balita dalam waktu cukup lama. Dampaknya, mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

“Yaitu, tinggi badan anak lebih rendah atau pendek daripada standar usianya. Bisa dikatakan anak gagal tumbuh,” jelas Lies Lidia.

Anak yang mengalami gagal tumbuh atau kerdil tersebut, sering dianggap masyarakat karena faktor keturunan atau genetik. Sehingga, perhatian mereka sangatlah minim.

Padahal, stunting disebabkan olah kurang gizi. Bukan karena faktor genetik. Kurang gizi selain berdampak gagal tumbuh pada anak, juga bisa memicu perkembangan otak yang melambat.

“Stunting tidak hanya menyebabkan gagal tumbuh pada tinggi badannya, tetapi juga pada otaknya,” sampainya.

Lies Lidia menyebut, banyak upaya yang dilakukan Pemkab untuk mengatasi persoalan stunting ini. Salah satunya sosialisasi untuk meningkatkan asupan gizi pada bayi dan balita.

Persoalan stunting inipun, menurutnya, tidak bisa ditangani Pemkab sendiri. Dukungan masyarakat, khususnya orang tua juga sangat diperlukan. Supaya, anak-anaknya bisa sehat dan tumbuh kembangnya sempurna.

“Karena ada banyak faktor penyebab terjadinya stunting. Seperti masalah sanitasi, pola makan, pola asuh dan beberapa hal lainnya, juga bisa menyebabkan stunting. Perbaikan gizi akan mencegah stunting,” ulasnya.

Tingginya tingkat stunting itu pula, membuat Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu bidikan pemerintah pusat dalam mengatasi persoalan stunting. Rencananya, pada 2020, program penurunan stunting dari pemerintah pusat akan direalisasikan untuk wilayah Kabupaten Pasuruan.

“Kabupaten Pasuruan masuk 260 daerah locus stunting pada 2020 oleh pemerintah pusat. Ini karena banyak stunting di sini,” pungkasnya. (one/hn)